Rabu, 18 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Nyepi Desa, Tradisi Nyepi Lokal di Pupuan

18 Maret 2019, 19: 42: 05 WIB | editor : I Putu Suyatra

Nyepi Desa, Tradisi Nyepi Lokal di Pupuan

TRADISI: Sebelum Nyepi Desa, warga di Desa Pupuan gelar pacaruan (foto kiri). Suasana Nyepi Desa di Pupuan, tak beda jauh dengan suasana Nyepi terkait pergantian tahun Saka yang harus melaksanakan Catur Brata Panyepian. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Umat Hindu umumnya laksanakan Nyepi setahun sekali,  tepatnya setiap pinanggal apisan Sasih Kasanga. Namun, di  Desa Pakraman Pupuan, Desa Pupuan, Kecamatan Pupuan, Tabanan, ada Nyepi Desa yang tak ada kaitannya dengan pergantian tahun Saka.

Perbekel Desa Pupuan, I Gede Susana menjelaskan, Nyepi di Desa Pakraman Pupuan dilaksanakan serangkaian Pujawali di Pura Desa, Desa Pakraman Pupuan. Pujawali yang  dilaksanakan setiap satu tahun sekali ini, puncaknya pada Purnama Kapat. Berdasarkan tradisi yang berjalan secara turun temurun,  agar proses kegiatan upacara berjalan lancar, maka diadakan Upacara Catur Brata Panyepian. "Jadi, selain Nyepi Kasanga, kami juga melaksanakan Nyepi setiap Sasih Katiga, tepatnya Pinanggal Apisan Tilem Katiga," ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin di Tabanan.

Sama seperti Nyepi saat Sasih Kasanga, proses Panyepiaan Desa didahului dengan Upacara Tawur di perempatan atau Catus Pata Desa. Kemudian dilanjutkan dengan Mabuu-buu yang diikuti dengan proses Ratu Gede Napak Pertiwi atau Ngalawang di wilayah  Desa pada  waktu Tilem Katiga, sehari sebelum Nyepi dilaksanakan. Keesokan harinya barulah Nyepi Desa dilakukan. Mabuu-buu dimaksudkan untuk menetralisasi lingkungan dari pengaruh negatif.  "Sama seperti saat Pangerupukan, melakukan Tawur, Mabuu-buu, lalu Ida Sasuhunan Napak Pertiwi, bedanya  tidak ada Ogoh-ogoh," imbuhnya.


Sementara puncak karya agung di Pura Puseh pada Purnamaning Kapat, juga dipentaskan tarian sakral, yakni Tari Rejang Ayunan. Tarian ini sangat ekstrem karena penari memanjat tambang yang diikatkan pada pohon untuk kemudian diayun-ayunkan.
Ditambahkannya, dalam Nyepi Desa ini, seluruh penduduk Desa harus melaksanakan Catur Brata Panyepian. Amati Karya, yaitu setiap penduduk tidak diperkenankan melakukan kegiatan dalam bentuk apapun. Selanjutnya Amati Lelungan, yaitu setiap warga dilarang melakukan kegiatan bepergian. Kemudian


Amati Lelanguan, dimana setiap warga dilarang mencari hiburan atau bersenang senang, dan Amati Geni, setiap warga dilarang menghidupkan api, lampu atau membakar sesuatu. "Brata ini berlaku bagi setiap penduduk yang berdomisili di wilayah Desa Pupuan, termasuk yang non Hindu sebagai bentuk toleransi," tegasnya.


Adapun pelaksanaan Brata Panyepian ini akan diakhiri pagi pukuk 06.00 Wita yang ditandai dengan suara kulkul (kentongan).


Seperti Nyepi yang dilaksanakan sehubungan dengan tahun baru Saka, pantangan Nyepi Desa berlaku sama, berupa pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Warga memasang Empegan di ujung Desa dan juga di setiap rumah tangga yang memasangnya  di angkul-angkul rumah masing masing. Bagi warga  non Hindu, sebagai bentuk toleransi akan ikut berpartisipasi. "Empegan itu bambu yang di atasnya berisi Gantung-gantungan seperti buah-buahan berisi pandan. Buah-buahannya disebut Panca Pala," paparnya.


Dikatakannya, Panyepian Desa bisa saja ditiadakan, jika upacara Pujawali di Pura Desa tidak dilaksanakan karena suatu hal. "Dua tahun belakangan ini memang tidak dilaksanakan karena ada pemugaran Pura Desa,"  papar Susana.


Tak hanya warga Desa Pupuan, Desa Pakraman Bantiran, Desa Bantiran, Kecamatan Pupuan, Tabanan, juga melaksanakan Nyepi Desa. Menurut Panyarikan Desa Bantiran, Jero Putu Gada Tanaya, Panyepian Desa dilaksanakan saat karya di Pura Puseh pada Tilem Sasih Katiga. Rangkaiannya adalah melaksanakan pacaruan di Bale Agung dengan babi hitam atau babi Bali dengan olahan 66 tanding, yaitu  kanan 33, dan kiri 33 tanding.



"Tidak ada pantangan khusus. Setelah itu dilakukan pujawali di beberapa pura, seperti Batur Pejuritan, Batur Tejakula. Setelah selesai proses di pura tersebut, maka warga menunggu Tilem Panyalukan Kapat, baru melakukan pacaruan di perempatan dengan olahan banteng seperti nyanggra sasih Kasanga," ujarnya.


Ditambahkannya, penduduk juga  melaksanakan Catur Brata Panyepian dengan tenggang waktu 12 jam, sama seperti Desa Pupuan. "Setelah selesai Pangerupukan, 15 harinya baru dilakukan pujawali di Pura Puseh dan Desa," pungkasnya.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia