Kamis, 22 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Features

Tinggal di Gubuk Reyot, Tak Dapat Bedah Rumah karena Tanah Numpang

19 Maret 2019, 07: 57: 00 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tinggal di Gubuk Reyot, Tak Dapat Bedah Rumah karena Tanah Numpang

PASRAH: Wayan Suitri didampingi anak terakhirnya, Budiartawan di rumahnya, Minggu (17/3). (GDE RIANTORY/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, NEGARA - Meski program bedah rumah dan sejumlah program sosial lainnya sudah beberapa tahun berjalan, tapi masih cukup banyak yang harus hidup dalam himpitan ekonomi dan tempat tinggal tak layak. Seperti dialami keluarga I Ketut Suama di Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya.

Sepasang suami istri, I Ketut Suama, 56, dan Ni Wayan Suitri, 55 yang tinggal di pelosok Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana hanya bisa pasrah menerima keadaan. Selama 15 tahun terakhir mereka mendiami gubuk reyot. Bersama mereka juga ikut tinggal anak keempatnya yakni Ketut Budiartawan, 16, di gubuk tersebut. Bahkan karena hanya terdapat satu kamar saja, anaknya tersebut sering mengalah dan kerap menginap di rumah temannya.

Untuk mencapai tempat tinggal pasangan suami istri ini harus melalui jalan setapak dengan kondisi licin dan terjal. Mereka tepatnya tinggal di Banjar Kembangsari (Sombang) Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya. Di atas bendungan Palasari sisi sebelah timur. Dari jalan perbatasan desa, masih harus berjalan kaki bisa juga juga naik sepeda motor sekitar 500 meter masuk ke wilayah perkebunan milik warga.

Saat ditemui dirumahnya, Minggu (17/3), Wayan Suitri hanya ditemani oleh anaknya. Sedangka sang suami, I Ketut Suama saat itu tengah menghadiri upacara salah satu kerabatnya. Dari penuturan Suitri, sejatinya mereka memiliki empat orang anak. Tiga orang sudah menikah dan satu orang masih usia remaja, yakni Ketut Budiartawan. Ironisnya, Budiartawan yang seharusnya duduk di bangku SMA kini terpaksa harus putus sekolah karena tidak punya biaya. Budiartawan sekarang harus  bekerja sebagai buruh atau kernet truk yang mengangkut bahan material bangunan. Ini dilakukan demi membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Sedangkan kondisi ketiga anaknya yang sudah menikah, sambung Suitri hampir sama dengan kondisi mereka sekarang ini alias kurang mampu. “Tanah ini milik orang lain. Kami tinggal sudah 15 tahun lebih,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka menjual hasil kebun berupa ubi dan sayuran yang mereka tanam di lahan pelaba pura. Di samping juga mereka mendapatkan bantuan raskin/rastra dari pemerintah. “Dapat sebulan sekali, cuman cukup untuk 15 hari saja. Untuk selanjutnya kami bergantung pada hasil kebun,” terangnya.

Meskipun hidup serba kekurangan, Suitri mengaku pasrah menerima dengan ikhlas apa yang menimpa keluarganya selama ini. Keluarganya pun tidak ingin menyusahkan orang lain. “Kami syukuri apa yang ada. Beginilah hidup kami,” ujarnya.

Sementara itu Perbekel Tukadaya, Made Budi Utama saat dikonfirmasi membenarkan kalau keluarga Ketut Suama merupakan warganya yang masuk keluarga miskin. “Mereka memang KK miskin buku merah. Tapi kami belum bisa memberikan bantuan bedah rumah karena tidak punya tanah sendiri,” katanya.

Budi Utama mengatakan  untuk bedah rumah ada aturan harus memiliki tanah sendiri atau boleh numpang asal ada surat pernyataan dari pemilik tanah bahwa diizinkan membangun permanen di tanah tersebut dan tidak akan diusir sekurang-kurangnya 10 tahun.

(bx/tor/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia