Selasa, 23 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Tantra Jadi Samudra Pengetahuan Penuh Misteri

19 Maret 2019, 12: 33: 26 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tantra Jadi Samudra Pengetahuan Penuh Misteri

BEDAH : Bedah buku Tantra di Damping Gallery, Banjar Kutuh Kaja, Petulu, Ubud, Gianyar, pekan kemarin, berlangsung menarik. Banyak misteri terungkap. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, GIANYAR - Dalam hidup ini  berkeinginan mencari kedamaian, kebahagiaan, dan jati diri. Salah satu yang bisa dilakukan dan jadi acuan adalah menggunakan sumber-sumber berupa lontar maupun teks yang ada.

Soal sumber yang bisa jadi acuan tak sulit karena sudah dirilis bulan lalu buku bertajuk
Tantra Ilmu Kuno Nusantara yang ditulis peneliti budaya yang juga  dosen Ilmu-ilmu Jawa Kuno, I Ketut Sandika S.Pd.,M.Pd.

Pria asli Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung ini, mengaku awalnya tidak tahu tentang sastra. Karena faktor lingkungan, membuatnya terbiasa dengan munculnya lontar-lontar dalam kegiatannya sehari-hari.


“Saya diwarisi ratusan lontar di rumah oleh leluhur, dan itu ditekuni oleh kakek, orang tua, hingga kakak saya. Sebenarnya saya orang tidak tahu sastra, seolah-olah saya melampaui yang dilakukan oleh mereka para Mpu yang menghasilkan karya sastra,” papar Sandika kepada Bali Express (Jawa Pos Group), saat bedah buku Tantra di Damping Gallery, Banjar Kutuh Kaja, Petulu, Ubud, Gianyar, pekan kemarin.


Alumnus Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar ini menambahkan, ditulisnya buku Tantra berawal ingin memberikan sentuhan yang indah pada sebuah buku. Selain itu, juga berharap mudah dipahami dan mudah dicerna oleh pembacanya, terlebih bagi pemula. Sehingga dalam penyusunan buku yang tebalnya 367 halaman itu, digabungkan 30-an lontar.
Meski puluhan lontar ia gabungkan dan dicari intisarinya, hasilnya pun dirasakan sangat mudah dipahami. “Prosesnya ini bukan main, untuk diskusi mengenai struktur penulisan ada hampir setahun saya lakukan dengan seorang editor, Asaludin. Supaya misi buku ini benar-benar tersampaikan. Bisa dipahami, namun bukan sebatas dipahami saja, melainkan agar masuk ke dalam tubuh untuk diparktikkan  di kehidupan nyata,” tandas penulis buku  Siwa Tattwa ini.


Pria penulis skenario film Nyungsang ini, menegaskan  Tantra merupakan samudra pengetahuan yang mahaluas. Manyadarkan di dunia ini tidak ada yang abadi, melainkan sesuatu hal yang semu, namun dibalik itu terdapat hal yang pasti. Yaitu Tantra itu sendiri, yang merupakan tujuan dari setiap makhluk yang ada tanpa melihat golongan maupun statusnya.


Dijelaskannya, berawal dari jagat raya ini bermula dari kehendak Sanghyang Suwung yang sangat misterius. Kehendak itu terekspresi melalui sabda 'Ong' yang mengoyak kehampaan, dan menciptakan ruang waktu, menyebar ke segala arah dan membentuk pusaran-pusaran energi yang menempati delapan arah mata angin.


Pada titik pusatnya sendiri bergetar dua pusaran energi yang disebut dengan Siwa Sakti, Raham-Rahim, Yang-Ying, dan Lanang –Wadon. 10 pusaran energi itu oleh leluhur Nusantara dilambangkan dengan Dasaksara, 10 aksara mistis yang membentuk sacred geometry bernama Mandala. Melalui aksara-aksara itulah kehidupan tercipta, dan aksara adalah cikal-bakal seluruh ciptaan.


Dasaksara itu, lanjut Sandika,  bersemayam pada tubuh manusia selaku jagat alit yang menampung seluruh unsur jagat raya. Sehingga tubuh manusia tersusun dari aksara-aksara yang bergetar dan membentuk Mandala. Pusatnya pada inti hati tempat Sanghyang Suwung (Tuhan)) bertahta sebagai Sanghyang Atma (Ruh). Sandika menjelaskan, siapa yang mampu mengakses dan mendayagunakan aksara-aksara di tubuhnya, dia akan menjadi manusia yang sakti dan waskita. “Terlebih siapa yang mampu mengembalikannya pada Sanghyang Suwung di inti harinya, akan menjadi manusia yang sempurna disebut dengan moksa. Nah inilah yang sesungguhnya ajaran inti Tantra, Ilmu Kuno Nusantara yag diyakini sejumlah kalangan sebagai ilmu tertian di dunia,” tandasnya.


Dia juga mengakui Tantra yang ia tulis itu didasarkan pada 30 lontar berbahasa Kawi. Buku tersebut membabar hakikat Tantra, hakikat aksara dalam kehidupan, laku Tantra , hingga penyembuhan lewat meditasi aksara. Diharapkannya, Tantra jangan sekadar diwacanakan, tulisan, namun sesuatu yang dipraktikkan berulang-ulang dalam kehidupan yang nyata ini.
Semua tidak ada yang kekal, dan pada balik itulah ada sesuatu hal yang kekal yang dituju bersama-sama oleh makhluk hidup.

“Saya awalnya juga tidak malu menyatakan bahwa buku yang saya tulis ini sakit. Tetapi sakitnya bukan konten isinya, melainkan struktur penulisannya yang perlu banyak diperbaiki. Sehingga di sana saya pikirkan kembali, di sana terjadi komunikasi dan proses amuter tutur binhayu. Memutar kesadaran, malam sampai pagi agar bisa diterima oleh pembaca. Bukan golongan Hindu saja, tapi semua golongan, semua umat manusia, dan intesitas kehidupan ini,” kata Sandika.

Naskah tersebut juga bukan sesuatu yang absolut, namun sekelumit Ilmu Tantra agar menjadi pencerahan dalam diri setiap orang. Ditambahkan Sandika, seorang Tantrika  bukan diukur dari banyaknya mengetahui sastra,  tapi seberapa banyak ia langsung mempraktikkannya.  “Ajaran Tantra, bersenyum di dalam kehidupan kepada seseorang, juga dianggap Tantrika, pemikiran yang baik, hati, terlebih dalam tindakan,” tuturnya.


Sandika menegaskan, ajaran Tantra juga dikaitkan dengan bagaimana cara menyeimbangkan pikiran dan hati. Diakuinya, buku yang ia tulis  dianggap sebagai pemantik agar berkesinambungan. Pasalnya, Tantra selalu dikonotasikan jalan Tantra dengan praktik yang menyesatkan, padahal belum tentu. Lantaran melalui tulisan tersebut ia hanya membukakan pintu bahwa Tantra sesungguhnya dunia mengalami.


Tantra juga ia ungkapkan sebagai lontar tanpa tulis, namun di dalamnya perlu juga lontar sebagai refrensi. Meksi telah menelusuri beberapa sumber dari ajaran Moksa, Sandika mengaku tidak menemukan satu pun kitab yang terkait dengan  Tantra, karena semua itu ada dalam diri. “Bila mana kita bertutur memang benar- benar di sana memasuki dunia Tantra,” paparnya. Dijelaskannya, misi buku Tantra ini merupakan sekelumit bagaimana mengetahui Tantra lebih dalam. "Ketika sudah masuk ke dalamnya, silakan memasuki Tantra lebih ke dalam lagi,” terang Sandika. Tantra juga dikatakan sebagai wadah untuk menyajikan kekuatan hati, pikiran, karena prakerti tidak ada di dalamnya. Bagaimana seharusnya merasakan dari hati, merasakan aura di tempat tertentu dengan kekuatan hati. Sehingga buku itu adalah media menghubungkan kekuatan hati pada puncaknya, dan welas asih kepada semua makhluk.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia