Rabu, 24 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Soal Jenazah Titipan, PHDI: Lebih Utama Mekinsan di Pertiwi atau Geni

19 Maret 2019, 19: 51: 21 WIB | editor : I Putu Suyatra

Soal Jenazah Titipan, PHDI: Lebih Utama Mekinsan di Pertiwi atau Geni

IMBAUAN: Ketua PHDI Bali I GN Sudiana (paling kanan) saat memberikan imbauan terkait fenomena menitip jenazah di rumah sakit selama berlangsungnya upacara Panca Wali Krama di Pura Besakih, Selasa (19/3). (CHAIRUL AMRI SIMABUR/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, Prof. I GN Sudana akhirnya angkat bicara terkait fenomena membludaknya jumlah jenazah yang dititipkan di sejumlah rumah sakit di Bali. Usai rapat bersama membahas fenomena itu bersama Gubernur Bali Wayan Koster dan Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP), Sudiana mengingatkan krama Hindu di Bali agar tidak menitipkan jenazah anggota keluarganya di rumah sakit selama berlangsungnya upacara Panca Wali Krama.

Sesuai Keputusan Pasamuan Madya PHDI Bali yang ditetapkan pada 16 Agustus 2018 lalu Nomor 01/PESAMUHAN-MADYA/PHDI-BALI/VIII/2018, khususnya pada poin keempat yang mengatur dengan jelas proses memperlakukan jenazah yang meninggal saat berlangsungnya upacara Panca Wali Krama. 

Adapun proses yang dimaksud mekinsan di pertiwi atau mependem namun tidak mendapatkan tirta pengentas. Itupun dengan ketentuan dilakukan pada saat matahari terbenam atau dikuburkan secara diam-diam. Sedangkan bagi sulinggih, pemangku, atau mereka yang menurut dresta tidak boleh dipendem agar secapatnya dikremasi atau mekinsan di geni.

“Jauh lebih utama mendem. Apalagi meninggal di desa lalu dititipkan di rumah sakit, dalam sastra itu disebut nundung sawa,” tegas Prof Sudiana.

Sebab, sambung dia, dalam sastra tidak disebutkan menitipkan jenazah di rumah sakit. Justru yang masuk dalam kategori dharmaning utama adalah mendem sawa ketika upacara Panca Wali Krama berlangsung.

“Kalau mendem sawa saat Panca Wali Krama dapat tirta pengentas atau pemarisudha dari Dalem Puri Besakih. Ini darmaning utama untuk menyucikan yang meninggal. Kalau dititip di rumah sakit ini yang tidak ada dalam sastra. Dan, ini yang disebut nista,” tukasnya.

Hal serupa juga ditegaskan Ketua Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP) Bali, Jero Gede Putus Suwena Upadesa, dalam gilirannya. Dia pun meminta agar jangan sampai ada pemangku yang tidak mau menerima mengurus upacara yang telah diuraikan dalam keputusan PHDI tersebut.

“Yang dilarang ini kan ngaben. Mekinsan di geni dan mependem yang tidak dilaksanakan. Mungkin ada pemikiran biar sekaligus ambil pekerjaan atau kasihan kalau langsung dipendem,” ujarnya.

Padahal, sambung dia, mekinsan di pertiwi atau mependem jauh lebih utama dilakukan. “Karena kita berasal dari pertiwi, apah, teja, bayu, akasa. Jadi lebih utama daripada mekinsan di rumah sakit,” pungkasnya.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia