Minggu, 21 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Petani Pupuan Keluhkan Soal Ekspor Kopi

19 Maret 2019, 21: 04: 55 WIB | editor : Hakim Dwi Saputra

Petani Pupuan Keluhkan Soal Ekspor Kopi

EKSPOR - Perbekel Desa Munduktemu I Nyoman Wintara mempertanyakan soal ekspor kopi Pupuan yang tidak pernah menyentuh petani di desanya. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, TABANAN - Ekspor kopi robusta, khususnya di Kecamatan Pupuan, yang dilakukan pemerintah Tabanan pada bulan Februari lalu, ternyata tidak diketahui secara detail oleh sejumlah petani di Pupuan, khususnya di Desa Munduktemu dan Desa Padangan. Hal itu dipertanyakan sejumlah petani yang belum pernah mengekspor kopi, padahal dari segi kualitas, kopi Pupuan sangat bagus. Petani pun siap menyediakan bahan baku sesuai permintaan pasar ekspor. 

Perbekel Munduktemu I Nyoman Wintara mengungkapkan, meskipun pihaknya mendengar ada ekspor kopi Pupuan dari surat kabar,  hingga saat ini petani di desanya tidak pernah tersentuh pasar ekspor. Padahal sebelumnya, Bupati Tabanan pernah merosting kopi di desa tersebut hingga masuk MURI. Ketika itu ada wacana bahwa kopi robusta di Desa Munduktemu rencananya akan difasilitasi untuk diekspor. 

"Entah saya yang tidak mendengar informasi atau memang tidak diinformasikan, karena sampai saat ini petani kami belum terdampak. Padahal, sesuai berita di koran,  kopi Pupuan sudah diekspor, tetapi saya tidak tahu, kopi Pupuan yang mana?" tanyanya.

Di Desa Munduktemu ada 15 kelompok petani kopi.  Salah satu di antaranya, kelompok tani Wana Lestari, sudah menerapkan sistem perkebunan organik dan telah mendapatkan sertifikat organik.

"Saya sudah tanyakan ke subak. Para kelompok tani dan kelian dusun ternyata tidak tahu juga perihal ekspor kopi Pupuan.  Tidak ada yang mengajak ataupun meminta produk kami untuk diekspor. Jangan-jangan hal itu merupakan permainan para tengkulak," sindirnya.

Meskipun saat ini BUMDes membeli kopi petani dengan harga lebih mahal dibanding tengkulak, tetap saja petani tidak bisa mengambil cakupan yang lebih besar. “BUMDes banyak saingan karena menjual kopi bubuk. Harapan kami, Perusda (Perusahaan Daerah) yang memfasilitasi ekspor sehingga lebih terarah," lanjutnya.

Atas kondisi tersebut, pihaknya berharap kopi Munduktemu bisa merambah pasar ekspor, karena akan membantu petani meningkatkan harga. 

Wintara menyebutkan, saat ini di Desa Munduktemu terdapat 15 ribu hektar kebun kopi. Per hektar bisa menghasilkan satu ton dengan harga jual kopi mentah per kilogram Rp 23 .000.  "Saya harap  subak dan instansi terkait terjun ke desa yang selama ini belum tersentuh pasar ekspor," harapnya.

Hal senada disampaikan Perbekel Desa Padangan I Wayan Wardita. Menurutnya, selama ini petani di Padangan juga belum pernah mengekspor kopi, padahal katanya kopi Pupuan banyak yang diekspor. "Memang ada wacana bahwa kopi salah satu subak kami akan diekspor, bahkan sudah MoU dengan eksportir, tetapi di tengah jalan dibatalkan dengan berbagai alasan," ujarnya.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pertanian Tabanan, I Nyoman Budana menjelaskan, ekspor yang dilakukan sudah diinformasikan ke kelompok-kelompok petani, karena untuk melakukan ekspor harus membentuk kelompok dan pelatihan agar kualitas yang diekspor terjamin. "Untuk produk ekspor, tentu yang dijaga adalah mutu dan kualitas," tegasnya.

Ia pun berharap semua petani melakukan ekspor. Biasanya ada petani yang tidak bisa mengekspor karena butuh dana cepat sehingga dilepas ke tengkulak. "Kalau untuk ekspor harus tunggu matang, tidak boleh cepat-cepat. Yang tahu itu adalah pengepul," pungkasnya.

(bx/ras/aim/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia