Minggu, 21 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

PHDI Badung Buat Buku Ngaben Satwika, sehingga Tak Perlu Jual Warisan

20 Maret 2019, 08: 54: 31 WIB | editor : I Putu Suyatra

PHDI Badung Buat Buku Ngaben Satwika, sehingga Tak Perlu Jual Warisan

NGABEN: Upacara, termasuk Ngaben diperbolehkan dari yang kecil sampai yang besar, namun harus sesuai Iksa, Sakti, Desa, Kala, Tattwa. (SURPA ADISASTRA/BALI EXRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Ngaben salah satu ritual yang secara fisik bertujuan mengembalikan unsur panca mahabhuta. Sementara secara spirit, dipercaya memberikan jalan kepada Sang Atma menuju alam leluhur. Namun, menurut Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Badung, masih terdapat  kekeliruan di masyarakat.

Guna meluruskan esensi Ngaben secara fisik dan spirit, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Badung,  menerbitkan buku tentang Pangabenan dengan upacara yang kecil, tapi Satwika.

Kecil Satwika artinya adalah benar secara inti atau esensi. Hal ini didasari adanya keyakinan yang kurang pas, yakni dengan upacara besar, maka Sang Atma mendapat tempat utama. "Ini sebuah kekeliruan. Bentuk bhakti kepada orang tua dianggap cukup dengan membuatkan upacara yang besar. Sementara selama hidup, tidak diperlakukan dengan baik," ungkap Ketua PHDI Kabupaten Badung, I Gede Rudia Adiputra kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Badung pekan kemarin.

Lebih parah lagi,  lanjut  Rudia, upacara besar  dibuat dengan menjual warisan karena dianggap warisan tersebut adalah kepunyaan yang meninggal, sehingga wajar dijual untuk biaya upacara. "Ini juga kesalahan yang sangat fatal," ujarnya.

Pemahaman seperti itu yang ingin diluruskan PHDI sebagai lembaga umat. Dalam sastra, ditegaskan Rudia, memang diperbolehkan membuat upacara dari yang kecil sampai yang besar, sesuai Iksa, Sakti, Desa, Kala, Tattwa.

Iksa artinya paham makna upacara. Sakti artinya menyesuaikan dengan kemampuan. Desa, yakni kondisi di lingkungan atau desa tersebut. Kala artinya waktu yang baik dan tepat melaksanakan upacara. Sementara Tattwa adalah adanya tuntunan dari sastra.

"Dengan buku tersebut, bagi yang sudah terbiasa melaksanakan upacara yang kecil, inti, tidak salah, disilakan. Demikian pula yang memiliki kemampuan melaksanakan upacara yang besar disilakan. Tapi, yang tak boleh dikesampingkan adalah bhakti kepada orang tua semasa hidup. Itu lebih utama," ujar mantan Rektor IHDN ini.

Dengan demikian, jangan sampai  umat menjual warisan untuk Ngaben. Jangan pula membuat upacara Ngaben yang besar dengan berutang.  Sesungguhnya, kata dia, umat bisa membuat upacara Ngaben yang kecil tanpa utang. "Yang hidup ini kita beritahukan seperti itu. Jangan sampai nanti membebani pratisentana atau anak-anaknya. Seperti saya, sudah bilang kepada anak-anak. Kalau nanti bapak mati, buatkan upacara terkecil. Siapa nanti pamangku yang siap untuk memimpin upacara, silakan," katanya.

Sebab ia yakin, bukan upacara besar menyebabkan roh mendapat Surga, tapi perbuatan selama hidup. Tak boleh diabaikan pula, tirtha-tirtha dari pura sungsungan, termasuk Kahyangan Tiga. "Karena ini saya terjemahkan dengan manajemen sekarang, adalah rekomendasi-rekomendasi dari Beliau yang akan mengantarkan kita. Perkara mendapat Surga atau tidak, tergantung perbuatan kita di dunia," paparnya.

Demikian pula, alasan agar tak menjual warisan, sebab yang diupacarai bisa bereinkarnasi nantinya. Toh juga yang menikmati ada ia di masa depan. Jika bisa, kata dia, tiap orang yang lahir ke dunia, agar bisa menyiapkan tempat untuk anaknya. "Begitu seterusnya, sehingga tidak menjadi kemiskinan, kemiskinan, dan kemiskinan, tapi pelestarian, pelestarian, dan pelestarian," tegas Rudia.

Jadi, kehadiran buku kajian ini, lanjutnya,  guna memberikan pemahaman dan praktik keagamaan yang lebih efektif kepada umat Hindu.

"Buku sudah dikirim ke PHDI Pusat untuk disempurnakan. Termasuk kepada sulinggih kami berpesan, 10 tahun setelahnya, buku ini harus dikaji kembali. Itu harus. Karena Weda yang Sanatana Dharma selalu memberi peluang kepada Atmanastuti kita untuk membahasakan sesuai dengan perkembangan zaman. Ingat, agama mempermulia hidup, bukan memberatkan hidup," tandasnya.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia