Rabu, 26 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Unik, Tradisi Melasti Kedasa Makekobok Nangluk Desa di Desa Semaagung

20 Maret 2019, 09: 28: 05 WIB | editor : I Putu Suyatra

Unik, Tradisi Melasti Kedasa Makekobok Nangluk Desa di Desa Semaagung

MELASTI : Prosesi Melasti Kedasa Makekobok Nangluk Desa di Desa Pekraman Semaagung, Desa Tusan, Banjarangkan, Klungkung, Rabu (20/3). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Jika biasanya prosesi Melasti dilakukan menjelang Hari Raya Nyepi, di Desa Pekraman Semaagung, Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, dilakukan tepat saat Purnama Kedasa. Melasti ini biasa disebut Melasti Kedasa Makekobok Nangluk Desa.

Tradisi yang terbilang unik ini berlangsung Rabu (20/3), dimana rangkaian prosesi Melasti di Desa Pekraman Semaagung dimulai sejak pukul 04.00 wita dan diikuti oleh seluruh krama Desa Pekraman sekitar 180 orang lebih dengan penuh suka cita menuju Pantai Tegal Besar. Selain ngiring Pratima atau Sesuunan yang ada di Desa Pekraman Semaagung prosesi Melasti ke Pantai atau segara untuk Makekobok, juga dilakukan Ngiring tiga Pakuluh (tempat tirta berupa bambu, Red) sebagai simbol Kahyangan Tiga di Desa Pekraman Semaagung serta arug dan pralingga berupa Ratu Lingsir yang berada di Pura Dalem Penyarikan dan dipusatkan di Pura Melanting setempat.

Uniknya lagi, krama laki-laki utamanya anak-anak dan remaja Ngiring Melasti dengan menggunakan topi atau capil yang terbuat dari slepan lengkap membawa Kulkul dan semprong dari bambu yang sudah dihias dengan berbagai macam dedaunan. Iringan suara tek-tekan dari kulkul inilah yang mengiringi perjalanan Melasti.

Jero Mangku Pura Dalem Penyarikan, Ketut Purna menuturkan bahwa tidak bisa memastikan sejak kapan tradisi itu berlangsung di Desa Pekraman Semaagung karena memang sudah berlangsung sejak dulu. Bahkan babad ataupun purana yang menjelaskan tentang tradisi itu hingga saat ini belum ditemukan. “Tradisi ini sudah ada sejak jaman para penglingsir dulu, istilahnya Napet, dan hingga saat ini tradisi ini masih berlangsung,” ujarnya.

Lebih lanjut diceritakan jika setiap Purnama Kedasa maka akan digelar Melasti di Desa Pekraman Semaagung yang diikuti oleh seluruh krama. Selanjutnya krama yang masih anak-anak hingga pemuda akan Ngiring dengan membawa kulkul dan semprong dari bambu. Kulkul inilah yang akan dibunyikan saat Ngiring atau tek-tekan sebagai symbol untuk Ngiring Ida Betara Makekobok ke Segara. Alasan penggunaan kulkul dan semprong itu sendiri, tidak ketahui pasti olehnya karena memang merupakan tradisi turun temurun. “Entah apakah karena zaman dulu tidak ada gong atau bagaimana, kami tidak tahu pasti. Hanya saja setelah memiliki gong, kulkul dan semprong itu tetap kami gunakan karena memang sudah tradisi sejak dulu,” paparnya.

Adapun tujuan dari pelaksanaan Melasti Kedasa Makekobok Nangluk Desa ini adalah untuk melakukan penyucian terhadap Pakuluh, Pralingga dan Arug yang tedun sebagai pelinggihan Ida Betara serta memohon kadegdegan jagat khususnya di Desa Pekraman Semaagung. “Selain untuk kesucian lingkungan desa, juga untuk kesucian jasmani dan rohani masyarakat Desa Pekraman Semaagung,” tegasnya.

Lebih lanjut, Jero Mangku Purna menuturkan jika menurut cerita turun temurun yang dipercaya warga Desa Pekraman Semaagung, pada jaman dulu bahkan saat Ngiring Melasti, bukan capil dari slepan yang digunakan, melainkan kukusan. Para lelaki juga bertelanjang dada dan menghiasi wajah dan badan mereka dengan kapur dan arang.

Seusainya Ida Betara Makekobok di Segara, maka selanjutnya iringan Ida Betara akan meajar-ajar nyatur desa dengan berkeliling keempat arah penjuru desa untuk Nyuryanin Jagat atau Macecingak yang bertujuan untuk memberikan Kedegdegan jagat diseluruh penjuru Desa Pekraman Semaagung.

Selanjutnya, Ida Betara Khayangan Tiga Desa akan Nyejer di Pura Melanting selama tiga hari sebelum dilakukan Penyineban yang diakhiri di Pura Dalem Penyarikan untuk nunas tirta Pakuluh sebagai tahapan akhir proses Melasti Purnama Kedasa di Desa Pekraman Semaagung. “Dimana tirta tersebut hanya akan ditunas pada saat Penyineban di Pura Dalem Penyarikan dan dipercaya dapat memberikan kesucian dan keharmonisan dan masyarakat,” tandasnya.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia