Senin, 22 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Features

Tiga Kali Didata, Pemangku di Samplangan Belum Juga Dapat Bedah Rumah

20 Maret 2019, 15: 54: 55 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tiga Kali Didata, Pemangku di Samplangan Belum Juga Dapat Bedah Rumah

BELUM DAPAT BANTUAN: Kondisi rumah salah satu warga Samplangan yang berharap mendapatkan bantuan bedah rumah di Lingkungan Samplangan,Kelurahan Samplangan, Gianyar, Rabu (20/3). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, GIANYAR – Rumah salah seroang warga di Lingkungan Samplangan, Kelurahan Samplangan, Gianyar sangat memprihatinkan. Pasalnya rumah yang berukuran 4 x 6 tersebut dihuni oleh tujuh anggota keluarganya dan tampak sudah rusak. Pemilik rumah, Dewa Gede Arisudewa saat ditemui Rabu (20/3) mengaku sudah tiga kali rumahnya didata sejak 2015 lalu, namun tak kunjung dapat bantuan bedah rumah.

Pria yang berusia 29 tahun itu pun mengaku, Dewa Made Kertha adalah ayah kandungnya yang selaku pemangku di Pura Kawitan Penataran Agung Samplangan. Bahkan diiming-imingi akan dapat bantuan bedah rumah. “Kalau di areal pekarangan ini total ada empat kepala keluarga. Sedangkan pada bale daja ini khusus untuk keluarga saya yang terdiri atas tujuh orang. Yaitu ayah, ibu, istri dan anak saya, ditambah tiga adik saya,namun adik nomor dua sudah menikah. Bahkan pada tahun 2015 lalu petugas desa dan Pemkab sudah sempat ke sini tiga kali sambil foto-foo tapi tidak ada tindaklanjutannya,” jelasnya.

Setelah didata tersebut pria yang disabilitas dengan tuna netra ini juga mengatakan hanya mendapatkan bantuan jamban pada tahun 2017 lalu. Sedangkan rencana waktu didata sebanyak tiga kali itu dikatakan terdapat rencana yang berbeda. Pada pendataan pertama akan diberikan bantuan bedah rumah secara total, pendataan kedua dijanjikan hanya mengganti atap rumah saja, dan pendataan yang ketiga akan direnovasi kerusakannya saja.

Meski tiga kali pendataan tersebut dilakukan sampai saat ini ia mengaku tidak ada tindaklanjutannya. “Entah mengadunya kepada siapa, selain itu saya juga tidak enak kalau menuntut saya tidak enak harus dapat bantuan bedah rumah itu,” paparnya.

Rumahnya tersebut hanya terdiri atas tiga kamar, bahkan jadi satu dengan dapur darurat, tepat di teras rumahnya. Selain itu tampak atap rumah yang  bebahan bambu dan kayu sudah pada rusak. Jika hujan, ia mengaku di beberapa titik mengalami kebocoran.

Dewa Arisudewa menambahkan sebelumnya ia bekerja pada salah satu percetakan di Denpasar pada bagian komputer. Ia bekerja langsung setelah ia lulus dari sekolah menengah kejuruan. Bahkan dia sendiri adalah tulang punggung keluarganya, namun musibah menimpanya. Pada tahun 2014 lalu matanya mulai rabun, hingga akhirnya mata sebelah kanannya tidak bisa melihat. Sedangkan yang sebelah kiri penglihatannya sangat rabun sekali pengakuannya.

“Waktu itu dokter bilang saya kena penyakit parasit darah yang tumbuh pada pembuluh darah dan kena retina mata. Katanya juga riwayat lama, diduga waktu kecil sempat memegang kotoran kucing lalu lupa cuci tangan langsung makan sesuatu. Sehingga virusnya itu berkembang pada darah dan baru 2014 menunjukkan gejalanya,” tuturnya.

Sampai saat ini di keluarganya tersebut yang bekerja hanyalah adik nomor duanya yang bekerja di salah satu koperasi di desa setempat. Selain berharap mendapatkan bantuan bedah rumah, ia juga sangat berharap ada bantuan yang bisa mengobati penyakit yang diderita pada matanya tersebut.

Sedangkan dikonfirmasi Kepala Lingkungan Samplangan, I Nyoman Winada mengaku rumah Dewa Made Kertha itu memang belum mendapatkan bantuan bedah rumah. Namun yang ia ketahui hanyalah baru menerima bantuan jamban saja yang dibangun di selatan ruamahnya. “Kalau bedah rumah sepengetahuan saya selama jadi Kaling dua tahun ini belum ada. Pengajuannya juga sepengetahuan saya langsung dari kelurahan,” imbuhnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia