Rabu, 18 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Krama dari 60 Desa Ikuti Mapepada Agung Ida Bhatara Ulun Danu Batur

20 Maret 2019, 18: 44: 49 WIB | editor : I Putu Suyatra

Krama dari 60 Desa Ikuti Mapepada Agung Ida Bhatara Ulun Danu Batur

MENYUSURI DESA: Warga dari 60 desa mengikuti Mapepada Agung, serangkaian Karya Ngusaba Kadasa Ida Bhatara Ulun Danu Batur, Rabu (20/3) sore. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Ribuan masyarakat atau krama dari 60 desa mengikuti prosesi Mapepada Agung, salah satu rangkaian upacara Karya Ngusaba Kadasa Ida Bhatara Ulun Danu Batur, Rabu (20/3) sore. Masyarakat bergotong-royong membawa aneka sesaji yang bakal dipersembahkan saat upacara berlangsung di Pura Ulun Danu Batur, Desa Batur, Kintamani, Bangli.

Krama membentuk barisan dan berjalan layaknya pawai, beriringan dari depan pura menuju arah selatan desa. Barisan berbalik arah dari selatan menuju utara, dan balik lagi ke depan pura. Saat berjalan, iring-iringan dimeriahkan gamelan baleganjur. Bahkan akulturasi budaya sangat terlihat saat barong sai ikut beratraksi di tengah-tengah barisan pembawa sesaji krama Desa Batur.

Pangemong Karya Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur, Jero Gede Batur Alitan menjelaskan, mapepada agung bermakna menyucikan seluruh piranti atau sarana upacara yang bakal digunakan saat pujawali di Pura Ulun Danu Batur. Sarana tersebut di antaranya aneka pala atau palawija, hewan, jajan, buah, bunga, dan peralatan lainnya. “Semua disucikan. Didoakan untuk tujuan persembahan,” ungkap Jero Gede Batur Alitan, ditemui sebelum mapepada berlangsung.

Tak hanya itu, benda-benda sakral seperti pralingga dan pratima para dewa di Pura Ulun Danu Batur juga turut dibawa menyusuri wilayah desa, dengan maksud para dewa menyaksikan batas wilayah, sekaligus menganugerahi seluruh warga Desa Batur. “Itu sebagai pertanda dewa turun ke dunia dan menyaksikan batas wilayah desa,” imbuhnya.

Peserta iring-iringan berasal dari 60 desa terdekat dengan Pura Ulun Danu Batur. Dengan kata lain, warga sebagian besar berasal dari desa-desa di Kecamatan Batur, desa luar perbatasan antarkabupaten, maupun desa yang memiliki histori kuat dengan keberadaan Pura Ulun Danu Batur.

Yang menarik, krama dengan suka cita mempersembahkan semua sesaji secara swadaya. "Kalau ini ditanggung biaya semua, bisa dibayangkan berapa besar biaya yang dibutuhkan. Saya sampai terketuk melihat krama mau menghaturkan bakti secara iklas," ungkap Jero Gede Batur.

Menurut Jero Gede Batur Alitan, rangkaian upacara telah berlangsung sejak 18 Maret 2019. Puncaknya pada purnama kadasa, Rabu (20/3), diawali dari pagi hari dengan menggelar berbagai upacara. Kemudian sore hari dilangsungkan mapepada agung, dilanjutkan Pujawali Ngusaba Kedasa Ida Bhatari Ring Tengahing Dalu Dauh, pukul 24.00. 

Saat Pujawali Tengahing Dalu, warga melaksanakan upacara dan mengikuti persembahyangan dalam suasana hening dan sepi, sehingga lebih khusyuk. Sehari sebelum puncak karya digelar pula mapepada wewalungan suku pat, yakni tiga kali mengelilingi area Pura Ulun Danu Batur. Rangkaian pujawali pun berakhir 2 April 2019.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia