Senin, 23 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Bali Under The Moon

Suicidal Sinatra Konsisten Karya ‘Aliran Kiri’

21 Maret 2019, 09: 55: 24 WIB | editor : I Putu Suyatra

Suicidal Sinatra Konsisten Karya ‘Aliran Kiri’

KONSISTEN: Band satu ini memang memiliki karakter beda, dengan warna musik beda namun konsisten. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Jagat musik tanah air, khususnya di Bali, seakan tak berhenti melahirkan band-band spektakuler untuk melaju ke barisan terdepan. Salah satunya adalah Suicidal Sinatra, band yang mengawali karirnya di kancah rock meski eksis dibawah bendera indie label. Terbentuk sejak tahun 1996 di skena musik pulau Dewata dengan nama awal SOS (Soul of Speed) begitu mantab dengan genre heavy metal sebagai acuan musiknya. Namun sejak tahun 2000, mereka pun bertransformasi dengan format nama dan genre yang lebih fresh yaitu Suicidal Sinatra dengan genre musik rockabilly Psychobilly.

Dan sejak 16 Agustus 2004 sebagai tanda lahirnya kembali band tersebut, Suicidal Sinatra langsung menelurkan mini album bertajuk ‘Valentine Ungu’. Pada tahun 2005 dengan debut album bertajuk ‘Love Songs & Stinkin Cheese’. Album ini menjadi awal langkah sukses Suicidal Sinatra mengenalkan dirinya ke publik dengan mengusung lagu-lagu berkekuatan Rockabilly New School. Berbagai penghargaan berhasil Suicidal Sinatra sabet diantaranya adalah Best Video Clip di Mtv Indie dengan Singgle ‘White Shoes’  dan di tahun yang sama menjadi artis most wanted di majalah Rolling Stone. berbekal album inilah Suicidal Sinatra mulai menjajal panggung Nasional.


Menariknya, band yang hingga saat ini masis eksis di kancah musik Bali dan digawangi oleh Opic Sinatra (Vocal, Guitar), Kape Sinatra (stand up bass, vokal latar), Leo Sinatra (guitar), dan Aji TheBilly (drum) ini masih tetap mempertahankan karakter ‘aliran kiri’ sesuai filosofi nama band yang di bentuk. Kape Sinatra yang diwawancarai koran Bali Express (Jawa Pos Group) ini mengaku, jika pemilihan nama Suicidal Sinatra sendiri memiki kaitan yang cukup erat dengan sejumlah karya musik yang telah dihasilkan. Salah satunya, lebih banyak mengangkat isu-isu sosial dan lingkungan sekitar.


“Nama Sinatra diambil dari nama penyanyi legendaris Frank Sinatra dan Suicidal memiliki arti bunuh diri yang tentu adalah penegasan bahwa kita ada di ‘aliran kiri’. Sehingg sebagian dari karya kita mengangkat isu sosial dan sebagian lagi kita menulis lagu tentang kehidupan keseharian kita, rasa cinta dengan orang disekitar kita dan cinta dengan alam,” jelas Kape Sinatra. Hal ini bisa dibuktikan dari salah satu lagu ‘White Shoes’ tahun 2006 yang dilirik oleh label Jepang untuk sebuah kompilasi Tropicalize vol. II, bersama band ternama dunia seperti Jack Johnson dan Pennywize. 


Dengan api semangat yang membara dan membakar jiwa inilah, Suicidal Sinatra kembali melempar album ‘Boogie Woogie Psychobilly’ yang memiliki irama gelap kental dengan lirik sosial pembrontak pada tahun 2007 dibawah payung Ellectrohell record. Dengan keluarnya album ini, sepak terjang Suicidal Sinatra di nasional semakin menjadi jadi serta mengukuhkan diri sebagai band pertama yang mengusung music psychobilly di Indonesia.  Pertengahan 2010 tanpa ragu ragu Suicidal Sinatra merilis album baru LOS SINATRAS Rock n Roll not for sale. Album ini tidak dijual belikan alias gratis, sebagai tanda terima kasih kepada Los Sinatras (sebutan Fans Suicidal Sinatra) yang selama ini tetap menyalakan api semangat Suicidal Sinatra. Pada Awal 2013, Suicidal Sinatra akan mengukuhkan albumnya pada ATO Production Jakarta dan akan merilis single pertama nya di album yang ke 4 dengan title ‘Kentang’.


Eksistensi mereka pun masih terasa hingga saat di tahun 2019 lewat tiga single bertajuk ‘Bendera’, ‘Psycholoco’, dan ‘Pecah’. Ketiga single yang dirilis lewat platform digital ini pun masih tetap mengangkat isu-isu yang sama, yaitu sosial. “Lagu ‘Bendera’ bercerita tentang harapan masyarakat Indonesia untuk bisa hidup rukun dan damai dengan keragamannya. Tanpa ada isu politik dan agama yang marak beberapa tahun belakangan ini. Lalu lagu ‘Pecah’ untuk meluapkan kemarahan kami terhadap apa yang terjadi seperti isu politik dan adu domba. Serta kerakusan penguasa merebut kekuasaan dengan segala cara,” jelas Kape.


Sementara itu untuk single ‘Psycholoco’ sendiri, lanjutnya, diambil dari kisah para pembalap mobil liar di tahun 50’s dimana para pembalap terlihat macho dan loco di atas hot road berkarat. Hingga hysteria para pelacur dipinggir lintasan yang rela tubuhnya dibawa ke ranjang. “Ya mudah-mudahan karya kami bisa diterima di telinga para pendengar,” tutup Kape.

(bx/vir/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia