Rabu, 18 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Purnama Kedasa, Pengerajin Jajan Sarad Kelabakan Terima Pesanan

21 Maret 2019, 17: 27: 38 WIB | editor : I Putu Suyatra

Purnama Kedasa, Pengerajin Jajan Sarad Kelabakan Terima Pesanan

JAJA SARAD: Pengerajin jajan sarad, I Kadek Edi Wahyu Kusuma Yuda tengah memperbaiki pesanannya di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Kamis (21/3). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Perajin jaja sarad (jajan pelengkap upakara) menjelang rerahinan Purnama Kedasa tahun ini kebanjiran orderan. Salah satu perajin asal Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, I Kadek Edi Wahyu Kusuma  Yuda saat ditemui Kamis (21/3) mengaku kelabakan menerima pesanan. Selain datang dari wilayah Pulau Bali, pesanan ia terima dari Pulau Nusa Penida.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pria alumnus IHDN Denpasar, ini mengaku dalam sebulan  menerima dan  mengirim pesanan di 10 tempat. Mulai dari karya agung di desa pakraman, pernikahan, hingga karya agung di pemerajan. “Kita buat jajannya sesuai permintaan pesanan, konsepnya apa, dan digunakan untuk apa. Begitu juga dengan ukurannya disesuaikan dengan keinginan yang memesan,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, Edi mengatakan usaha jajan saradnya sudah dilakoni turun temurun sejak ayahnya masih muda. Sampai saat ini pesanan yang ia buat rata-rata berukuran satu meter sampai tujuh meter. Begitu juga harga yang ia berikan berkisaran Rp 700 ribu sampai yang paling mahal seharga Rp 30 juta. Ia mengajak tenaga 12 orang, namun menjelang Purnama Kedasa ini ia mengaku tetap kelabakan menerima pesanan.

“Kendalanya ya seperti biasa modal dan tenaga saja. Karena pesanan terkadang datang secara mendadak. Sehingga terpakasa kita tolak, karena kita dahulukan pesanan yang  sudah pasti,” pungkas dia.

Disinggung pengerjaannya, Edi memaparkan satu jajan sarad bisa selesai sekitar dua hari hingga tujuh hari. Cepat atau lamanya selesai sebuah jajan sarad dikatakan juga sesuai ukuran dan tema dari jajan sarad tersebut. Jika untuk orang nikah, konsepnya ia buat tentang semara –ratih. Begitu juga dengan karya agung dan piodalan konsepnya dengan cerita pewayangan yang ada kaitannya dengan dewa-dewa.

“Untuk bulan ini saja, saya buat yang kecil sekitar 60 jajan sarad. Ukuran yang sedang sebanyak enam sarad, sedangkan yang berukuran besar sebanyak 12 jajan sarad. Pengiriman yang paling jauh saya sempat kirim ke Pulau Nusa Penida untuk karya agung, dan sisanya masih di areal Pulau Bali,” jelas Edi.

Selain itu, ke tokoh-tokoh masyarakat pun ia mengaku sempat mengirimkan jajan sarad. Namun beberapa tahun lalu. Salah satunya ke rumah mantan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika yang ada di Singaraja. Bahkan ke rumah Wakil Walikota Denpasar yang masih menjabat saat ini, I Gusti Ngurah Jaya Negara di kediamannya daerah Penatih, Denpasar.

“Selama sebulan ini ya lumayanlah dapat untung sekitar Rp 300 juta itu masih kotor. Kalau sedang padat pesanan. Sedangkan hari biasanya dalam sebulan hanya mencapai Rp 40 sampai Rp 50 juta saja,” imbuh Edi.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia