Senin, 22 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Tradisi Unik, Sarad Agung Bukakak Tempuh 6 Km Menuju Pura Bale Agung

21 Maret 2019, 20: 28: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tradisi Unik, Sarad Agung Bukakak Tempuh 6 Km Menuju Pura Bale Agung

TRADISI UNIK: Sarad Agung saat turun dari Pura Gunung Sekar dan menuju Pura Bale Agung, Singaraja. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Ratusan Krama Desa Pakraman Sangsit Dangin Yeh, Desa Pakraman Giri Emas, Kecamatan Sawan, Buleleng memadati areal Pura Bale Agung, Desa Pakraman Buleleng, Kamis (21/3). Mereka sedang ngiringang Ida Sesuhunan melancaran serangkaian Ngusabha Bukakak di Pura Subak Sangsit Dangin Yeh, Desa Giri Emas.

Tradisi Ngusabha Bukakak ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali oleh krama Subak Sangsit Dangin Yeh. Dengan harapan melalui tradisi agraris ini masyarakat bisa mendapatkan hasil panen yang berlimpah.

Dalam tradisi Bukakak ini yang menjadi sarana utama adalah Babi hitam mulus. Babi ini dipanggang dengan kondisi lebeng matah (matang sebelah dan mentah sebelah) pada Kamis pagi. Setelah Babi Guling lebeng matah siap, krama langsung membuat sarad yang merupakan Pelinggih Gede Bukakak.

Uniknya, krama yang boleh membuat Pelinggih Gede Bukakak yang terbuat dari bambu tersebut harus berasal dari krama dadia Pasek Bedulu. Sebab ada mitos yang hingga kini diyakini kebenarannya secara turun temurun bila pembuatan pelinggih Gede Bukakak harus dilakukan oleh krama Pasek Bedulu, Desa Pakraman Sangsit Dangin Yeh.

Menurut Kepala Desa Giri Emas, Wayan Sunarsa, jika babi hitam yang sering dijadikan sebagai sarana guling lebeng matah selalu didapatkan di Desa Julah, Kecamatan Tejakula. Bahkan krama sempat mencoba mencari babi hitam di luar Desa Julah, namun justru sulit didapatkan dan tidak masuk kriteria. Padahal dikatakan Sunarsa tidak ada hubungan sejarah antara Desa Pakraman Sangsit Dangin Yeh dengan Desa Julah.

“Babinya harus hitam mulus, tak boleh cacat. Karena itu syaratnya. Dapat babinya pun juga di Desa Julah. Dari turun temurun seperti itu. Setiap mau ngusabha secara kebetulan ada saja warga yang memiliki babi hitam mulus,” ujar Sunarsa.

Uniknya, babi hitam legam itu tidak boleh sengaja dipersiapkan untuk sarana bukakak sejak lahir. Namun harus secara alami saat diperlukan langsung dicari. “Ketika dipanggang babi tersebut bagian punggungnya dibuat mentah (matah) dengan kondisi bulu yang masih ada. Sedangkan bagian dadanya yang isi jeroan telah dikeluarkan dibuat matang (lebeng)” imbuh Sunarsa.

Sebelum berangkat melancaran, masyarakat Desa Pakraman Sangsit Dangin Yeh berkumpul terlebih dahulu di pura Subak dengan berpakaian adat yang seragam sejak pukul 12.00 Wita. Krama lanang (laki) yang akan mengusung sarad Bukakak kompak menggunakan baju putih, saput merah dan kamen putih. Sedangkan untuk para pengusung Sarad Dewa Ayu diwajibkan mengenakan pakaian dengan kombinasi pakaian putih kuning.

Para pemangku Tri Kahyangan dibantu pihak prajuru Subak kemudian langsung melakukan upacara pembersihan penyucian Sarad Bukakak dengan banten prascita. Begitu pula dengan para pengogong (pengusung) yang berjumlah ratusan orang itu, juga mengikuti prosesi ritual mejaya-jaya di Pura Gunung Sekar, yang hanya berjarak 300 meter dari Pura Subak.

Tepat pukul 13.30 Wita barulah Sarad Agung Bukakak diusung menuju Pura Bale Agung. Krama harus berjalan kaki sepanjang 6 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam. Sarad yang tingginya sekitar 3 meter dan dibentuk menyerupai burung garuda, sebagai simbol linggih Dewa Wisnu itu sampai di Pura Bale Agung Buleleng tepat pukul 16.00 Wita.

Sepanjang rute perjalanan yang dilalui Sarad Agung dari Pura Subak menuju Pura Bale Agung, mengharuskan pengendara yang melintas wajib menepi. Perjalanan Sarad Agung Bukakak inipun menjadi tontonan menarik bagi masyarakat dan pengendara yang melintas. Tak jarang dari mereka langsung mengabadikan momen langka tersebut.

Klian Subak Dangin Yeh Ketut Sukrana mengatakan, melancaran ke Pura Bale Agung ini dilakukan atas kehendak Ida Bhatara. Dimana melancaran ini juga pernah dilakukan pada 2001 lalu. Hingga pada Senin (18/3) melalui ritual Nuntun Ida Betara Mutering Jagat Sesuhunan di Pura Gunung Sekar, Ida Bhatara memberikan petunjuk bahwa Sarad Ageng harus melancaran ke Pura Desa Bale Agung. "Penetapan tujuan melancaran tidak bisa ditebak," jelasnya.

Sukrana menjelaskan, Ngusabha Bukakak ini merupakan gabungan dari berbagai ngusabha yaitu Ngusaba Uma, Ngusaba Nini, Ngusabha Jaja, Ngusabha Dangsil, Ngusabha Desa dan Ngusabha Tipat yang dilaksanakan selama enam hari di Pura Subak Sangsit Dangin Yeh sebagai wujud syukur kehadapan Dewi Sri atas kemakmuran dan melimpahnya hasil pertanian.

“Bukakak ini merupakan tradisi penghormatan atas hasil pertanian yang berlimpah kepada Dewi Sri. Selain itu ngusabha ini merupakan bentuk pemertahanan  lahan pertanian yang kian hari semakin menyempit akibat alih fungsi lahan. Kami pun di Desa Giri Emas akan membuat semacam awig-awig untuk memproteksi lahan pertanian di Desa Giri Emas sehingga bisa tetap bertahan,” ujar Sukrana.

Menurutnya lahan pertanian di Desa Giri Emas dibagi menjadi dua jenis yaitu Subak Sawah Basah dengan luas areal 67 hektar dan Subak Tegalan seluas 100 hektar.  Sedangkan total krama subak mencapai 182 orang. Rinciannya krama subak pengayah 67 orang dan penyakap sebanyak 115 orang.

“Krama pemilik lahan itu urunan untuk membiayai tradisi ini. sehingga harapannya lahan pertanian tetap lestari,” pungkasnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia