Senin, 23 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Imbauan Tak Digubris, Penitipan Jenazah Masih Tinggi

22 Maret 2019, 07: 40: 00 WIB | editor : I Putu Suyatra

Imbauan Tak Digubris, Penitipan Jenazah Masih Tinggi

PENITIPAN JENAZAH: Kondisi ruang jenazah di salah satu rumah sakit di Bali. (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, MANGUPURA-Imbauan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali dan Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) agar segera melakukan upacara terhadap keluarga yang meninggal belum direspon sepenuhnya oleh masyarakat. Salah satunya di Kabupaten Badung. Jumlah jenazah yang dititip di Rumah Sakit Daerah (RSD) Mangusada, masih tetap tinggi. Hingga Kamis (21/3), jumlah jenazah yang ditampung di rumah sakit pelat merah tersebut justru berjumlah 118 jenazah. Padahal Senin (18/3) jumlahnya 104 jenazah.

Dirut RSD Mangusada Kabupaten Badung dr I Nyoman Gunarta tak menampik ada jenazah yang dibawa pulang untuk diupacarai, tapi hal itu sebelum imbauan PHDI dan MUDP, yakni 11 dan 15 Maret. Jumlah yang dibawa pulang pun tak seberapa. “Ada yang dibawa pulang untuk dilakukan upacara makingsan ring gni dan ada yang makingsan ring pertiwi,” ungkapnya.

Lantaran ruang jenazah overload, sebelumnya RSD Mangusada juga telah ‘menolak’ penitipan jenazah dari luar rumah sakit. Namun demikian, jenazah bertambah karena ada pasien yang meninggal. “Ada yang baru meninggal, sehingga relatif jumlahnya tidak berkurang. Jadi yang kami terima tambahannya hanya yang meninggal di RSD Mangusada saja, yang dari luar tidak kami terima,” tegasnya.

Pun demikian, hingga kemarin, lanjut Gunarta, pihaknya belum menerima pemberitahuan pihak keluarga akan membawa jenazah pulang. Pihaknya memprediksi penitipan jenazah akan berkurang seiring berakhirnya upacara Panca Walikrama di Pura Agung Besakih.

Sebelumnya, Ketua PHDI Provinsi Bali, Prof. IGN Sudiana usai rapat bersama Gubernur Bali Wayan Koster dan MUDP mengingatkan krama Hindu di Bali agar tidak menitipkan jenazah anggota keluarganya di rumah sakit selama berlangsungnya upacara Panca Wali Krama.

Sesuai Keputusan Pasamuan Madya PHDI Bali yang ditetapkan pada 16 Agustus 2018 lalu Nomor 01/PESAMUHAN-MADYA/PHDI-BALI/VIII/2018, khususnya pada poin keempat yang mengatur dengan jelas proses memperlakukan jenazah yang meninggal saat berlangsungnya upacara Panca Wali Krama. 

Adapun proses yang dimaksud makinsan di pertiwi (dikremasi) atau mapendem (dikubur), namun tidak mendapatkan tirta pengentas. Itupun dengan ketentuan dilakukan pada saat matahari terbenam atau dikuburkan secara diam-diam. Sedangkan bagi sulinggih, pamangku, atau mereka yang menurut dresta tidak boleh dipendem, agar secepatnya dikremasi atau makinsan di geni. “Jauh lebih utama mendem. Apalagi meninggal di desa lalu dititipkan di rumah sakit, dalam sastra itu disebut nundung sawa (mengusir jenazah, Red),” tegas Prof Sudiana.

Sebab, sambung dia, dalam sastra tidak disebutkan menitipkan jenazah di rumah sakit. Justru yang masuk dalam kategori dharmaning utama adalah mendem sawa (mengubur jenazah) ketika upacara Panca Wali Krama berlangsung. “Kalau mendem sawa saat Panca Wali Krama dapat tirta pengentas atau pamarisudha dari Dalem Puri Besakih. Ini dharmaning utama untuk menyucikan yang meninggal. Kalau dititip di rumah sakit ini yang tidak ada dalam sastra dan ini yang disebut nista,” tukasnya.

Hal serupa juga ditegaskan Ketua Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP) Bali, Jero Gede Putus Suwena Upadesa, dalam gilirannya. Dia pun meminta agar jangan sampai ada pamangku yang tidak mau menerima mengurus upacara yang telah diuraikan dalam keputusan PHDI tersebut. “Yang dilarang ini kan ngaben. Makinsan di geni dan mapendem yang tidak dilaksanakan. Mungkin ada pemikiran biar sekaligus ambil pekerjaan atau kasihan kalau langsung dipendem,” ujarnya.

Padahal, sambung dia, mekinsan di pertiwi atau mependem jauh lebih utama dilakukan. “Karena kita berasal dari pertiwi, apah, teja, bayu, akasa. Jadi lebih utama daripada mekinsan di rumah sakit,” tandasnya.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia