Rabu, 18 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Gubernur Bali Lepas Ekspor Perdana Produk Pertanian Senilai Rp 17 T

22 Maret 2019, 12: 21: 04 WIB | editor : I Putu Suyatra

Gubernur Bali Lepas Ekspor Perdana Produk Pertanian Senilai Rp 17 T

EKSPOR: Salah gula pasir menjadi salah satu komoditi yang diekspor Kamis siang (21/3) di Pelabuhan Benoa Bali. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Gubernur Bali, Wayan Koster melepas ekspor perdana salak gula pasir, manggis, dan komoditas pertanian Kamis (21/3) siang kemarin. Ekspor itu senilai Rp 17 triliun. Dan percaya diri melawan produksi pertanian Bangkok. Kegiatan berlangsung di Packing House PT Buah Angkasa Bali.

Acara itu dihadiri 14 eksportir, anggota Komisi IV DPRRI, Made Urip, I Gusti Agung Adi Mahendra, Kepala Balai Besar Karantina Soekarno -Hatta, Imam Djajadi dan Kepala Badan Karantina Dinas Pertanian Denpasar, I Putu Taruna Negara.

Koster mengapresiasi program Ayo Galakkan Ekspor Generasi Milenial Bangsa (Agrogemilang) 2019 Kementerian Pertanian. Menurut Kepala Balai Besar Karantina Sorkarno-Hartta, Imam Djajadi, secara umum ekspor komoditas pertanian nasional dari 2013-2017 masih surplus USD 11,5 miliar. Hal ini termasuk salah satu kegiatan pelepasan ekspor. Program seperti ini yang dilakukan di berbagai daerah secara serentak.

Dikatakan, kelancaran program tersebut berkat kerjasama yang baik dengan pemerintah daerah yang telah memberikan fasilitas kepada dinas-dinas terkait. Kerjasama ini untuk bersinergi membentuk suatu jaringan untuk melepas ekspor. Melepas ekspor seperti kemarin dikatakan bukan hanya sekadar pencitraan. Akan tetapi, menunjukkan kinerja Kementerian Pertanian terutama Badan Karantina Pertanian dalam hal memfaasilitasi ekspor.

Dengan dilepaskannya komoditas-komoditas seperti manggis bali dan salak gula pasir yang kemudian diekspos membuka peluang bagi masyarakat luas. Peluang tersebut untuk mengetahui ada peluang-peluang yang bisa dilakukan dan digalakkan.

Data ekspor yang disampaikan dari statistik Kementerian Pertanian tahun 2018 surplus USD 11,5 miliar. Sementara ada bebrapa yang masih difisit. “Ini yang kita galakkan dengan program-program ekspor seperti ini. Tujuannya untuk menaikkan surplus USD 11,5 M”, tambah Kepala Badan Karantina Bali  I Putu Kerta Negara.

 Badan karantina berkomitmen untuk terus mengawal peningkatan sfasilitas ekspor pertanian dengan target pencapaian 200 persen. Hal tersebut bukan hal yang mudah. Untuk itu dimohonkan bantuan dari pemerintah daerah bekerjasama dengan karantina, pelaku usaha, petani untuk menjalin untuk meningkatakan peluang-peluang yang ada di daerah.

Program Agrogemilang telah diluncurkan mulai Januari 2019 oleh Badan Karantina Pertanian. Dengan peluncuran program Agrogemilang diharapkan karantina dapat melakukan bersama dengan koordinasi pemerintah daerah, dinas dan pelaku usaha. Badan karantina telah memberikan bimbingan teknis untuk sertifikasi ekspor kepada petani dan pelaku usaha.

Selain itu, melakukan usaha layanan prioritas untuk mendukung kelancaran ekspor komoditas pertanian dari sisi perkarantinaan. Hal tersebut harus dipadukan dengan program dari dinas, kementerian, dan sebagainya.

Badan Karantina Pertanian Bali juga telah melakukan sosialisasi perkarantinaanya. Ekspos maupun launching komoditas pertanian juga salah satu kegiatan di dalam Agrogemilang. Mengingat sekarang zamannya milenial.

Menurutnya Gubernur Bali, salah satu program yang sedang dijalankan dengan tegas membangun dari hulu sampai ke hilir. Baik yang berkaitan dengan pertanian, perikanan, perkebunan. “Dari hulu sampai ke hilir yang kami bangun sekarang karena Bali memiliki potensi yang sebenarnya luar biasa untuk pertanian. Sejak dulu produk pertanian sudah memiliki merek yang sangat terkenal. Ada salak bali, manggis bali, jeruk bali, sapi bali, babi bali, ayam bali dan lain sebagainya.”

“Saya melihat langsung setelah duduk sebagai Gubernur, dari program dan APBD nampak kurang serius. Tidak serius lagi di bagian hilirnya. Di huu ada sedikit usaha, tapi di hilirnya tidak ada fokus, tidak terarah dan tidak ada komitmen yang kuat yang menyelesaikan masalah pertanian di hilir,”kritik Koster.

Tahun 2020 dia mengatakan akan totalistas menuntaskan masalah pembangunan pertanian dari hulu hingga hilir. Di bagian hulu penyediaan lahan, termasuk pengairan. Termasuk petani, penyuluhan, teknologi untuk pengembangan produk pertanian. Pemrov akan bekerjasama dengan lembaga riset perguruan tinggi untuk mengembangkan budi daya dan meningkatkan kualitas produk-produk pertanian.

“Saya melihat petani Bali ini sangat luar biasa. Cuma selama ini belum mendapatkan bimbingan yang memadai baik arahan,tuntunan, petunjuk, penyulkuhan sehingga kurang optimal pekerjaanya. Betgitu juga cara bertanamnya yang tepat di musimnya. Ini juga harus ada penyuluhannya. Teknologinya supaya produknya meningkat volume dan kualitas/taste. Bagaimana caranya agar rasa manggis dan salak tidak bisa disaingi oleh negara lain,” katanya. (akd)

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia