Rabu, 18 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

“Tradisi” Mencari Kesalahan Orang Lain Bisa Hanguskan Ribuan Kebaikan

22 Maret 2019, 12: 33: 57 WIB | editor : I Putu Suyatra

“Tradisi” Mencari Kesalahan Orang Lain Bisa Hanguskan Ribuan Kebaikan

Rasa Acharya Praburaja Darmayasa (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Orang bijaksana takut dengan pujian, sebagaimana ketakutan pada racun, dan menginginkan cacian dan hinaan sebagaimana menginginkan amerta kekekalan. Kenapa demikian?    

Tokoh Meditasi Rasa Acharya Praburaja Darmayasa tak menyanggah, ada kecendrungan orang mencari-cari kesalahan dan kejelekan orang lain, mulai dari kekurangan dan kejelekan para pengemis sampai dengan para suci bijaksana. Mencari cari kesalahan dan menjelekkan orang, lanjut penerjemah Bhagawadgita ini, bisa menjadi 'tradisi' di sejumlah orang.

"Kitab suci dan orang suci pun akan diobrak-abrik dengan bebas tanpa ampun. Jumlah para pencari kesalahan dibandingkan dengan pencari kebaikan bisa jauh lebih banyak," beber penulis ratusan buku spiritual dalam sejumlah bahasa ini kepada Bali Express (Jawa Pos Group) baru baru ini di Ashram Meditasi Angka, Padanggalak, Sanur.

Dikatakan pria kelahiran Ubud yang lama menetap di India ini, ribuan kebaikan akan dihanguskan oleh dugaan atau prasangka lewat hanya satu kecurigaan atau kesalahan.
Hampir setiap orang mengalami sendiri atau mendapat keluhan dari sanak keluarga atau kenalan perihal kesakitan yang didapat akibat dari ulah para pencari keburukan. Bahkan, tidak sedikit yang sampai mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Sesuatu yang sangat disayangkan, namun beberapa orang di masyarakat akan tetap memilihnya. Mereka mendapat 'kepuasan' dalam menghancurkan hidup orang lain.


"Adanya kebiasaan pencari kesalahan di masyarakat yang cukup meluas  seperti ini, menyebabkan kitab suci tidak pernah bosan memberikan pengingatan dan petunjuk agar orang tidak menjadi lalat pencari kotoran," urai Darmayasa yang kini fokus menggalang aksi memberikan satu juta  buku Bhagawadgita gratis kepada umat di Nusantara.


Lantas, bagaimana caranya menghadapi orang orang yang terbiasa melakukan jurus buruknya itu? Dikatakan murid tunggal Maestro Kundalini India, Acharya Kamal Kishore Goswami, Mānava Dharma Śāstra memberikan pemahaman indah agar orang tidak merasa begitu kesakitan akibat dari amukan para pencari kesalahan. Sammānād brāhmaṇo nityam, orang bijaksana terpelajar selalu ketakutan akan pujian dan penghargaan yang ditujukan kepada dirinya, bagaikan ketakutan pada racun.


Ditambahkan pria yang ancang ancang membuat ashram di Eropa ini,  orang biasanya sibuk mengumpulkan pujian dan penghargaan bagi dirinya. Orang bijaksana, lanjutnya, akan berlaksana sebaliknya.  "Bagi orang bijaksana, pujian adalah racun. Bagi orang biasa, pujian adalah kebanggaan dan harga diri," ujar Darmayasa yang juga President of International Divine Love Society.


Darmayasa mengutip Manu Smṛti 2.162 : Sammānād brāhmaṇo nityam, udvijeta viṣād iva, amṛtasyeva cākāṅká¹£ed, avamānasya sarvadā. "Orang bijaksana takut dengan pujian sebagaimana ketakutan pada racun, dan menginginkan caci-hinaan sebagaimana menginginkan amerta kekekalan,” ungkapnya.     


Menurut Darmayasa, orang bahkan mengatur dengan baik cara untuk mendapatkan pujian dan penghargaan. Mereka akan sangat berbahagia mendapatkan pujian dan penghargaan. "Barangkali pula mereka siap membayar orang untuk memberikan pujian serta penghargaan kepada dirinya," ujarnya.


Diakuinya, banyak orang tidak bisa hidup tanpa pujian dan penghargaan, demi kesenangan pribadi, karier, dan harga diri.


Sebaliknya bagi orang bijaksana, lanjut Darmayasa, hal-hal seperti itu justru dihindari bagaikan orang menghindari racun (viṣād iva).


Tentu saja hal ini sangat mengherankan bagi orang kebanyakan. Akan tetapi, bagi orang suci bijaksana, segala pujian dan penghargaan dunia adalah sesuatu yang merupakan kebalikan dari apa yang dielu-elukan oleh orang-orang biasa. Orang bijak tidak menginginkan nama baik, penghargaan, atau karier. Bagi orang bijak, semua itu hanyalah racun, atau halangan bagi tujuan sejati orang bijaksana. "Orang bijak mencari 'berlian kemuliaan', sedangkan orang-orang biasa mencari 'pecahan-pecahan kaca' keruntuhan hidup. Jika orang bijaksana mencari kemuliaan, maka orang biasa mencari kemeriahan. Di situlah bedanya pencari kesalahan dengan pencari kebaikan, " papar Darmayasa.


Bagi para pencari kesalahan, lanjutnya, apa pun dilakukan orang, semua pasti menjadi salah. Mereka akan selalu melihatnya salah. Sedangkan bagi pencari kebaikan, apa pun dilakukan orang, semua pasti dilihat mulia atau melihat ada segala jenis kemuliaan yang tersembunyi dibaliknya. Mereka akan melihat segalanya dengan jujur dan bijak.


Siapakah yang bisa tahan dengan caci maki dan hinaan?


"Orang memerlukan daya tahan yang kuat mengagumkan, teguh dan penuh kesabaran untuk menghadapi caci maki serta hinaan. Daya tahan seperti itu, hanya akan dimiliki oleh mereka yang berada dalam cinta kasih dan mempunyai jiwa pengampun yang baik, terangnya.
Bagi orang bijaksana terpelajar, lanjutnya, caci maki, hinaan, atau bahkan pembunuhan karakter,  semuanya diterima dengan tenang damai. Cacian dan hinaan merupakan minuman amerta bagi para bijak. Sedangkan bagi orang biasa, semua itu merupakan bencana besar dan sudah merupakan alasan cukup untuk 'mengumumkan perang besar' dengan orang yang memberikan cacian, hinaan, dan pencemaran namanya. Akan tetapi, orang bijaksana tidak akan ikut-ikutan menjadi bodoh dan jahat untuk membalas balik caci hinaan atau pun fitnah.


Dijelaskan Darmayasa, kitab suci Mahābhārata memberikan ilustrasi arahan bijaksana nan mulia untuk menghadapi caci hinaan, yakni 'Jīvantu me śatru-gaṇaḥ sadaiva ' ( Ya Tuhan, semoga semua musuh-musuh hamba hidup terus). "Orang-orang bijaksana berdoa agar musuh-musuhnya bukannya 'Satru-vināśanam' (semoga musuh-musuhku mengalami kehancuran), melainkan 'Jīvantu śatru-gaṇaḥ' (semoga musuh-musuhku hidup terus)," bebernya.


Ditambahkannya, para musuh barangkali khawatir bahwa orang bijaksana terpelajar akan melakukan sesuatu atau merafalkan mantram shakti demi kehancuran dirinya. Ternyata bagi orang suci bijaksana semua menjadi kebalikannya. Mereka akan menjadi semakin tekun mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang memfitnahnya. Mereka tidak akan pernah tergoda untuk melakukan kejahatan walaupun mereka sudah mempunyai alasan untuk melakukannya atau memraktikkan ilmu-ilmunya. Ajaran-ajaran suci Veda mewariskan pemahaman indah mengagumkan terhadap hal ini. "Bahwa orang-orang yang sibuk mencari segala kesalahan, menabur gosip dan fitnah, mereka sebenarnya sedang mengumpulkan dosa-dosa orang-orang yang difitnahnya. Karena mereka sama sekali tidak mungkin bisa menyelamatkan diri dari karma buruk yang diciptakannya melalui fitnah dan menjelek-jelekkan orang lain," katanya.


Selain beban karma yang sudah dibawanya sejak kelahiran terdahulunya, lanjut Darmayasa, tanpa sadar ia pun akan menambah beban karma berat mengerikan lagi akibat memfitnah dan menjelek-jelekkan orang lain. Menurut Darmayasa, mereka melakukan hal itu karena merasa ada kenikmatan dan kebanggaan dalam menjelek-jelekkan orang lain. Dibalik fitnah, diam-diam tersimpan rapi di dalam kesadaran tukang fitnah, bahwa dirinya lebih baik dari pada orang yang dijelek-jelekkannya itu. Ada kebanggaan ego bersembunyi di baliknya. Tentu saja mereka tidak mengenalinya, karena jika kesadaran seperti itu dilakukannya, maka ia akan menyentuh serta menurunkan harga dirinya.


Sebaliknya, lanjut Darmayasa, orang suci bijaksana sudah menjauhkan diri dari kebanggaan ego palsu, terlebih jika  didapatkan dengan cara menjelek-jelekkan yang lain. Mereka tidak akan menistakan diri dengan cara menjelek-jelekkan atau memfitnah orang lain. Orang bijaksana menerima para 'pencari kesalahan' tersebut sebagai dewa penyelamat atau sebagai guru yang baik.  "Melalui fitnah dan hinaan dari para pencari keburukan tersebut (yeśaṁ prasādat suvicaká¹£aṇo’ham), maka para pencari kebaikan telah sangat terbantu oleh musuh-musuh tersebut untuk menjadi lebih baik lagi, dan semakin bijaksana dalam menghadapi setiap permasalahan yang datang menguji dirinya,"'ungkapnya.


Darmayasa mencontohkan, Arya Vidura pernah menasihati Dhṛtarāṣṭra tentang iri, dengki, dan fitnah, yang mengatakan : Orang bodoh menyakiti orang bijak karena iri dan dengki dengan cara menjelek-jelekkan dari belakang. Dengan cara seperti itu tukang fitnah mengambil beban dosa orang yang difitnahnya, sedangkan orang bijak melepaskan karma-karma buruknya dengan cara mengampuni orang-orang yang menjelek-jelekkannya.


Bhiṣma pun menasihati hal yang sama kepada Yudhiṣṭhira, bahwa orang yang sabar dan tidak membalas fitnah, dosa-dosanya akan berpindah kepada orang yang memfitnahnya. Menurut Krishna (ketika menasihati Uddhava), orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain segera akan mengalami keruntuhan sifat-sifat baik dan mulianya. Dattatreya juga memberikan nasihat agar orang tidak membalas fitnah dengan fitnah, karena tindakan tersebut akan membatalkan segala kemuliaan yang seharusnya ia dapatkan.


"Para bijak umumnya berterima kasih atas kedatangan orang yang suka menjelekkan karena membuatnya menjadi awas selalu. "Mereka berdoa, wahai musuh-musuhku, semoga Anda semua hidup terus demi mengambil karma burukku dan memberikan kebijaksanaan pada hidupku.” Demikian nasihat indah yang diberikan oleh kitab suci Mahābhārata.


Dikatakannya, orang baik-baik tidak akan merasa bijak, jika memberikan tempat di kepalanya untuk keburukan-keburukan yang disebar oleh para pencari serta penabur keburukan. Sebagaimana orang yang tidak menginginkan komputernya dihancurkan oleh keberadaan virus berbahaya di dalam komputernya. Seperti itu pula orang bijaksana akan menempatkan virus-virus penebar keburukan, tetap berada di luar kesadarannya. Disebutkannya,  lebih baik membuat rumah di dekat para pencari dan penabur keburukan, karena tanpa air dan tanpa sabun, kesadaran orang yang dihina dan dijelekkan akan menjadi bersih suci dengan sendirinya.

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia