Senin, 22 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Soal Anggaran APBN untuk Desa Adat, Jokowi : Saya Setuju

23 Maret 2019, 07: 43: 55 WIB | editor : Hakim Dwi Saputra

Soal Anggaran APBN untuk Desa Adat Jokowi Saya Setuju

KEHUJANAN : Presiden Jokowi memayungi Bendesa Adat Penataran, Nyoman Gede Arsa, di sela simakrama atau tatap muka dengan tokoh agama dan adat Bali di Ardha Candra, Taman Budaya, Jumat malam (22/3), yang diguyur hujan. (CHAIRUL AMRI SIMABUR/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Presiden Joko Widodo menyatakan setuju desa adat memperoleh kucuran anggaran dari APBN. Sama seperti kebijakannya terhadap desa administratif maupun kelurahan.

Hal itu disampaikan Jokowi menghadiri simakrama atau tatap muka dengan tokoh agama dan adat di Bali yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center, pada Jumat malam (22/3).

Tepatnya saat menjawab harapan yang disampaikan Nyoman Gede Arsa yang juga Bendesa Adat Penataran, Desa Mundeh Kauh, Selemadeg Barat, Tabanan. "Saya setuju," kata Jokowi.

Kendati begitu, Jokowi tidak menguraikan lebih jauh seperti apa skema anggaran bagi desa adat tersebut. Dia lebih menekankan tentang persatuan dan kesatuan. Terlebih Bali dikenal karena harmoni kehidupannya yang dipelihara dengan baik. Sehingga menjadi contoh.

"Saya titip kepada krama Bali agar terus menjaga harmoni ini. Terus bergerak maju tetapi tetak menjaga akar budaya dan tradisi. Dan yang paling penting tetap mencintai tanah air Indonesia," pungkasnya.

Soal dana desa adat dari APBN juga sempat diutarakan Gubernur Bali Wayan Koster saat memberikan sambutan di awal acara tatap muka tersebut. Saat itu, Koster menegaskan kembali harapan agar pemerintah pusat ikut membantu memelihara adat istiadat, budaya, dan kearifan lokal di Bali. Yang ujung tombaknya ada pada desa adat.

"Sejalan dengan pengalokasian dana APBN untuk desa dan kelurahan, kami mohon perhatian secara khusus dari Presiden. Kiranya berkenan mempertimbangkan pemberian alokasi anggaran dari APBN untuk desa adat di Bali. Sesuai kemampuan keuangan negara," ujar Koster.

Koster menyebutkan bahwa, hanya kebudayaanlah yang dimiliki oleh Bali. Sehingga Bali berusaha berkontribusi kepada negara melalui devisa yang diperoleh dari sektor pariwisata.

"Inilah yang jadi modal kami di Bali. Kami tidak punya tambang apa-apa. Karena itu, kami memerlukan kontribusi negara untuk memelihara tradisi dan seni budaya," tukasnya.

Kehadiran Jokowi di Art Center mengakhiri kunjungannya di Bali kemarin. Setelah melakukan peresmian Pasar Badung di Jalan Gajah Mada.

Di Art Center, Jokowi yang hadir bersama istrinya, Iriana, bertatap muka dengan para tokoh agama seperti para sulinggih dan pemuka agama lainnya. Tokoh adat seperti para bendesa. Para peberkel atau kepala desa, lurah, serta perwakilan sekeha teruna-teruni, dan beberapa komponen masyarakat lainnya.

Sama halnya dengan di Pasar Badung, kehadiran Jokowi di Art Center benar-benar dinantikan masyarakat. Padahal, acara tersebut berulang kali diguyur hujan.

Meski begitu, toh tatap muka Jokowi tetap jalan. Hanya saja, jadwalnya bergeser. Dari semula direncanakan mulai pada pukul 19.00, menjadi 20.50. Pada pukul itulah, Jokowi dan Iriana yang terlihat mengenakan pakaian adat Bali tiba di Ardha Candra.

Dan masyarakat yang sudah memadati panggung terbuka itu sejak sore hari juga enggan bergeser terlalu jauh dari lokasi acara. Begitu hujan reda, mereka kembali memadati tribun di sekeliling open stage tersebut.

Demikian halnya dengan Jokowi. Saat memberikan arahan, dia juga tidak bergeser dari podium. Sekalipun hujan deras mengguyur lokasi acara. Bahkan, dia sempat memayungi Nyoman Gede Arsa saat berbicara dengan jarak yang dekat di atas podium. 

(bx/hai/aim/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia