Kamis, 22 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Features
Ni Komang Padmiari, Guru SDN 3 Dausa

Satu-satunya Guru, tanpa Kepala Sekolah, Tiap Hari Tempuh 100 Km

23 Maret 2019, 08: 07: 23 WIB | editor : I Putu Suyatra

Satu-satunya Guru, tanpa Kepala Sekolah, Tiap Hari Tempuh 100 Km

SABAR: Ni Komang Padmiari, satu-satunya guru di SDN 3 Dausa. Dia dengan sabar melaksanakan tugas, meski harus mengajar dua kelas sendirian. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Anda ingat film Laskar Pelangi yang dirilis 2008, garapan sutradara Riri Riza, yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata? Film itu mengisahkan 10 anak desa dengan semangat belajar tinggi, meski hanya dibimbing seorang guru saja. Kisah yang sama juga terjadi di SD Negeri 3 Dausa, Kecamatan Kintamani, Bangli. 

Sedikit beda dengan kisah di film maupun novel Laskar Pelangi. Jika tokoh Bu Muslimah, yang diperankan Cut Mini, mengajar satu kelas saja, tapi Ni Komang Padmiari, guru Agama Hindu di SD Negeri 3 Dausa, bahkan mengajar dua kelas sendirian, yakni kelas II dan IV.

DEDIKASI : Ni Komang Padmiari menjadi satu-satunya guru yang mengajar di SDN 3 Duasa, Kecamatan Kintamani, Bangli

Wanita 36 tahun itu mengaku sedih lantaran kasihan melihat nasib siswa. Jika ada keperluan mendadak, dia mungkin akan meninggalkan siswa-siswinya belajar sendiri. Sebetulnya apa yang terjadi?

Ya, SDN 3 Dausa sudah lama ditinggal para gurunya. Bukan karena tidak tanggung jawab, melainkan dapat tugas mengajar di sekolah lain alias dimutasi. Kondisi ini sebetulnya terjadi sejak 2017. Satu per satu guru dimutasi, hingga akhirnya menyisakan kepala sekolah dan Padmiari sebagai satu-satunya guru pemegang mata pelajaran. 

Ibu dua anak itu sejatinya memendam beban yang teramat berat. Itu terlihat saat Bali Express (Jawa Pos Group) mengajaknya ngobrol santai. Padmi mengatakan kepala sekolahnya, I Ketut Wista, sudah dimutasi ke SDN 1 Dausa, Februari 2019. Otomatis, Padmiari mengurus administrasi hingga mengajar sendiri. Meski sudah dimutasi, nama Ketut Wista masih tercantum di Data Pokok Pendidikan (Dapodik) hingga Maret 2019. Itulah mengapa Wista masih tetap membantu Padmi apabila diperlukan.

"Sekolah tanpa kepala sekolah bagaimana? Saya berharap pemerintah cepat menangggapi ini. Saya susah ngurus administrasi sambil mengajar. Bukan guru kelas, saya kan guru agama," kata dia dengan nada terbata-bata.

Ditemui di sekolahnya, Padmiari tengah mengajar siswa kelas IV. Memang saat itu kelas II sudah dipulangkan. Ada tujuh anak di dalam ruang kelas yang cukup luas itu. Lima laki-laki dan dua perempuan. Sangat semangat melontarkan jawaban. "Tambang pasir ada di Kintamani," seru siswa ketika Padmiari menanyakan soal potensi tambang yang dimiliki Kabupaten Bangli.

Tak ada sekat antara guru dan siswa. Mereka sudah saling mengenal. Mulai kebiasaan nyeleneh hingga kesibukan siswa sepulang sekolah pun diketahui. "Karena siswanya sedikit, jadi saya mudah kenal mereka. Bisa membimbing satu-satu, terlalu banyak susah membimbing," aku Padmi.

Kata dia, jumlah siswa kelas II hanya lima anak, sedangkan kelas IV tujuh anak. Sekolah itu tidak memiliki siswa kelas I, III, V, dan VI. Sebab dari tahun ke tahun, banyak anak yang belum memenuhi syarat batas usia diterima di sekolah itu.

Meski ada saja yang mendaftar di tahun ajaran baru, tapi jumlahnya dua hingga empat orang saja. Itupun para orangtua mendaftarkan anaknya ketika usianya belum genap 7 tahun. Saking tak ada yang mendaftar, pihak sekolah beserta komite memutuskan menerima anak tersebut, dengan syarat diikusertakan dalam tes intelligence quotient (IQ).

Menurut Padmi, hasil tes IQ dipakai untuk bukti kelayakan belajar calon siswa yang belum cukup umur, guna bisa diterima. Nantinya, kata Padmi, bukti itu akan diunggah ke Dapodik sebagai pertanggungjawaban. "Penduduk di sini sedikit sekali yang masuk usia sekolah. Kebanyakan sudah bekerja, ada yang SMP. Walaupun jumlah penduduknya banyak," imbuhnya.

Padmi menceritakan perjalanannya dari rumah di Desa Taman Bali, Kecamatan Bangli, menuju Desa Dausa yang jaraknya kurang lebih 50 kilometer. Atau 100 Km pulang pergi yang harus ditempuh setiap hari. Sampai di sekolah, lelah sepanjang perjalanan seketika terhapus saat melihat siswa sudah menunggu di kelas dengan wajah polosnya.

Yang paling membuatnya sedih ketika mengajar di dua kelas dalam waktu bersamaan. Baginya, hal itu berimbas pada efektivitas belajar siswa. Di samping itu Standar Pelayanan Maksimal (SPM) tidak terpenuhi. "Kalau mengajar dua kelas jelas gak maksimal. Kalau saya mengajar kelas II, kan kelas IV yang saya tinggal. Kalau sekarang kelas II sudah pulang, saya bisa fokus di kelas IV. Pembelajaran juga gak maksimal karena bukan bidang saya," keluhnya.

Dulu, ketika dirinya masih berdua dengan kepala sekolah, pekerjaan lebih mudah dan cepat selesai. Mereka membagi tugas. Kepala sekolah merangkap guru di kelas IV, sedangkan Padmi fokus mengajar siswa kelas II. "Kepala sekolah juga yang mengerjakan laporan dan Dapodik. Tapi sekarang semuanya saya sendiri," keluhnya lagi.

Di satu sisi, sekolah itu terancam tutup lantaran jarang mendapat siswa. Di sisi lain, sekolah itu memang layak didirikan. Sebab SD itu salah satu yang terdekat dari Banjar Cenigaan, Desa Dausa. Untuk diketahui, Banjar Cenigaan jauh dari pusat keramaian, sekitar 5 kilometer dari Jalan Kintamani-Singaraja. "Makanya, kalau anak-anak sekolah di Dausa, sangat jauh. Warga tidak mau sekolah ini ditutup," kata Padmiari.

Sebagai solusi, dirinya ingin agar SDN 3 Dausa digabung ke sekolah lain, dengan menerapkan pola belajar kelas jauh. Nantinya administrasi dijadikan satu, sementara guru dari sekolah lain ditugaskan mengajar siswa SD 3 Dausa. "Saya berharap ada regrouping (penggabungan) siswa kami dengan sekolah lain, misalnya SD 1 Dausa. Entah nanti dijadikan satu atau bagaimana, yang jelas sekolah ini jangan ditutup. Siswa tetap belajar di sini, administrasi digabung dengan sekolah lain," harapnya.

Menurut guru lulusan Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar itu, penggabungan siswa dirasa tepat. Apabila kelas dengan siswa yang minim tetap dipertahankan, tidak menutup kemungkinan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada 2020 bakal tak cair. "Kalau BOS di tahun ini (2019) dapat. Aturannya kan apabila jumlah siswa di sekolah kurang 60 orang, maka tidak mendapat bantuan BOS. Makanya saya berharap ada penggabungan siswa kami dengan sekolah lain supaya anak-anak tetap dapat dana," ujarnya menegaskan.

Sudah ada usulan ke pemerintah? Padmi mengaku sudah mengirim surat ke Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Bangli, beberapa waktu lalu, terkait permohonan penambahan guru ataupun regrouping. Namun belum diketahui apakah April mendatang sudah ada tambahan guru atau kepala sekolah baru, atau mungkin ada desas-desus regrouping bakal disetujui? Dirinya hanya menunggu.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia