Rabu, 18 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ditabuh 5 Tahun Sekali, Selonding Sakral Kerap Bunyi Sebelum Ditemukan

23 Maret 2019, 09: 55: 06 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ditabuh 5 Tahun Sekali, Selonding Sakral Kerap Bunyi Sebelum Ditemukan

SAKRAL : Suasana prosesi nedunin Selonding duwe yang akan dimainkan untuk mengiringi sejumlah tarian sakral, Rabu (20/3) lalu. Selonding duwe dibuatkan duplikatnya, karena Selonding asli hanya dikeluarkan lima tahun sekali. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Desa Pakraman Padangan, Desa Padangan, Kecamatan Pupuan, Tabanan, memiliki alat musik tradisional berupa Selonding yang disakralkan. Suaranya kerap didengar warga saat malam hari, namun sumbernya tidak diketahui.

Selonding salah satu alat musik tradisional Bali yang berlaras pelog, dengan nada-nada tertentu yang terbuat dari besi. Gambelan kuno ini, sejarah keberadaannya belum terang benderang.
Menurut Perbekel Desa Padangan, I Wayan Wardita, sesuai dengan mitologi di Desa Pekraman Padangan, keberadaan Gambelan Selonding di Desa Pekraman Padangan pada zaman dahulu ditemukan di hulu sebuah sungai kecil (pangkung), bernama Yeh Selonding. Sayangnya, tidak ada yang tahu pasti, pada tahun berapa ditemukan Selonding tersebut. “Hulu sungai tersebut terdapat di sebelah selatan Pura Luhur Pasimpangan Pucak Kedaton yang sangat disucikan dan dikeramatkan  masyarakat di Desa Pakraman Padangan,” ujar Wardita kepada Bali Express (Jawa Pos Group), kemarin di Pandangan, Tabanan.


Menurut cerita turun temurun sebelum gambelan Selonding ditemukan, lanjut Wardita,masyarakat Desa Pakraman Padangan pada zaman itu sering kali mendengar suara gambelan yang nadanya aneh, terutama pada malam hari dan hari-hari tertentu, seperti saat rahinan. “Akhirnya melalui rembug Desa yang dilakukan para panglingsir kala itu, dan melalui upacara tertentu, akhirnya masyarakat Desa Pakraman Padangan yang penasaran dengan suara aneh itu, bisa menemukan seperangkat gambelan yang bilah setiap gambelannya bervariasi, terbuat dari campuran besi dan perunggu,” papar Wardita.

Selanjutnya, gambelan ini dipundut (dibawa) menuju Pura Puseh Desa Pakraman Padangan, dan sejak saat itu gambelan Selonding ini disakralkan  masyarakat dan hanya digunakan untuk mengiringi tarian tertentu, seperti tarian untuk mengiringi Yadnya.

Wardita menyebutkan, tarian yang diiringi dengan gambelan Selonding adalah tari Cecondongan, Lelangkaran,  Gegandangan,  Lelegongan, dan  Rejang. “Tarian ini hingga kini masih dilestarikan oleh prajuru dan masyarakat setempat,” imbuhnya. Tarian yang diiringi Selonding memiliki nilai magis,  di samping nilai seni dan budaya agraris yang orisinil serta indah.


Uniknya, orang yang bisa membawakan tarian tersebut hanya anak gadis (daha) yang belum mengalami menstruasi, begitupun dengan juru gambelnya merupakan keturunan penabuh Selonding. “Tukang gambelnya ini turun temurun, mulai dari kakek hingga cucu,” lanjutnya. Makanya tak jarang ada gending yang dilupakan, karena banyak tukang gambel yang sudah berumur, bahkan ada yang sudah meninggal dunia.

Selonding duwe tersebut hanya diturunkan lima tahun sekali untuk mengiringi Yadnya Bhatara Turun Kabeh di Pura Puseh lan Bale Agung setempat.  Tahun ini karya digelar pada Purnama Kadasa, Rabu (20/3) lalu, dan  Selonding duwe tedun dan dimainkan. Lantaran gambelan aslinya hanya diturunkan lima tahun sekali, maka dibuatkanlah duplikat gambelan Selonding pada
tahun 1900.


Dengan adanya Selonding duwe (keramat) ini, juga diyakini bahwa Desa Adat Padangan merupakan salah satu desa kuno di Bali.

Bahkan, salah satu pura tertua dan sangat disakralkan dan disucikan di Desa Adat Padangan adalah Pura Pasimpangan Puncak Kedaton. Di lokasi sebelah tenggara pura inilah ditemukan seperangkat gambelan Selonding. "Bagi kami Selonding duwe ini adalah segalanya karena menyangkut sejarah dan kelangsungan eksistensi Desa Padangan," pungkas Wardita.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia