Minggu, 21 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Petani Manggis Buleleng Kian Teredukasi Lewat World Mangosteen Fiesta

24 Maret 2019, 20: 18: 40 WIB | editor : I Putu Suyatra

Petani Manggis Buleleng Kian Teredukasi Lewat World Mangosteen Fiesta

FESTIVAL MANGGIS DUNIA: Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana saat membuka World Mangosteen Fiesta di Lapangan Desa Galungan, Kecamatan Sawan, Buleleng, Sabtu (23/3) siang. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SAWAN - Kualitas Buah Manggis di Buleleng tak diragukan lagi. Bahkan sudah menembus pasar ekspor hingga ke Tiongkok. Demi meningkatkan potensi budiaya Manggis di Buleleng,  Pemkab Buleleng melalui Dinas Pertanian pun menggelar World Mangosteen Fiesta. Festival Manggis perdana di Indonesia inipun sukses digelar di Lapangan Desa Galungan, Kecamatan Sawan, Buleleng, selama dua hari, terhitung Sabtu (23/3) hingga Minggu (24/3).

Beragam acara disuguhkan untuk meramaikan festival Manggis ini. Mulai dari Kontes Manggis, Lomba Durian Lokal, Parade Makan Manggis dan Durian, Sarasehan Manggis hingga Buyer Meet Farmer. Dalam Festival Manggis ini Dinas Pertanian Buleleng menggandeng Junior Chamber International (JCI) Singaraja sebagai pelaksana.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) Sabtu (23/4) lalu, kontes manggis diikuti sejumlah kecamatan di Buleleng penghasil manggis. Belasan desa penghasil Manggis menampilkan buah terbaiknya dalam kontes tersebut.

Melalui festival ini, sambung Suradnyana, petani-petani manggis yang ada di Bali dipertemukan. Mereka berlomba-lomba menciptakan kualitas manggis terbaik agar dapat menjaga kualitas manggis yang akan diekspor nantinya.

“Disini kita mengajak petani dan eksportir untuk bisa memilah secara quality control buah-buahan yang diekspor agar kualitasnya tetap terjaga, sehingga tidak menjadi persoalan di ekspor berikutnya,” katanya.  

Sejauh ini, buah manggis yang lebih diminati di pasar ekpor adalah buah manggis dari Bali. Maka dari itu, eksportir diminta untuk memperhatikan sisi perijinan, packaging, kualitas, serta membuat lembaga untuk mengontrol ekspor buah lokal.

Dengan disetujuinya pembangunan iradiasi gamma oleh Gubernur Bali Wayan Koster, yang rencananya dibangun tahun depan, menjadi langkah untuk memajukan ekspor buah-buahan lokal.

“Yang penting bagi kita, bagaimana kita menjaga kualitasnya, seperti contohnya manggis diperhatikan dari pemupukannya, penyemprotanya, sehingga sortirannya tidak terlalu banyak dan bisa menambah nilai harga jualnya” jelasnya.

Acara inipun mendapat apresiasi dari Gubernur Bali I Wayan Koster. Menurutnya festival Manggis ini sejalan untuk mendukung Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali ini sangat luar biasa.

Gubernur Koster menilai, festival ini sebagai suatu strategi pengembangan pertanian khususnya di hilir. Bahkan, kedepan melalui Pergub No 99 Tahun 2018, hotel-hotel di Bali diwajibkan untuk menyediakan buah lokal di kamar-kamar hotel untuk dinikmati tamu wisatawan. Sehingga buah lokal di Bali bisa diproteksi untuk meningkatkan daya saing serta kesejahteraan petani.

Lebih lanjut, Gubernur Koster mengatakan dirinya akan mendukung penuh segala keperluan petani lokal untuk menunjang kualitas hasil pertanian di Bali. Saat ini, tim dari Provinsi Bali sedang menyusun pemetaan sentra-sentra yang akan dibentuk di Kabupaten/Kota sesuai dengan potensinya. “Jangan mengundang investor besar, cukup kita saja yang mengembangkan, jika kurang modal saya akan ajak BPD, LPD dan CSR untuk membantu pendanaannya,”  pungkasnya.

Sementara itu pelaku ekspor yang juga anggota JCI Bali, Anak Agung Gede Wedatama mengatakan, sejauh ini Manggis Buleleng dan Bali sudah menembus pangsa pasar ekspor ke Tiongkok. Bahkan untuk tahun 2018, pihaknya sudah mengekspor Manggis sebanyak 4.200 ton dengan pemasukan devisa sebesar Rp 350 miliar.

Agung Wedha pun tak menampik selama ini yang menjadi kendala dalam ekspor manggis adalah persoalan kualitas. Dimana dari hasil panen manggis,  yang layak untuk diekspor hanya 20 persennya saja. Selebihnya hanya dijual untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal

“Memang selama ini ekspor manggis masih terkedala di kualitas. Dengan harapan setelah festival ini petani manggis kian teredukasi dalam budidaya manggis sehingga mereka siap untuk menghasilkan manggis yang berkualitas. Baik dari cara pemupukan, perawatan secara organik hingga panennya,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia