Senin, 09 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Teater Orok Unud Pentaskan Drama Karya Anton P. Chekhov

24 Maret 2019, 22: 00: 54 WIB | editor : Hakim Dwi Saputra

Teater Orok Unud Pentaskan Drama Karya Anton P. Chekhov

DRAMA - Karya Anton P. Chekov berjudul Beruang Menangih Hutang yang dipentaskan Teater Orok Universitas Udayana di Rompyok Kopi Komunitas Kerta Budaya, Jembrana, Sabtu malam (23/3). (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, NEGARA - Teater Orok Universitas Udayana mementaskan sebuah drama realis karya Anton P. Chekhov, Sabtu malam (23/3) di panggung halaman Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya, Jalan Udayana, Kecamatan Negara, Jembrana. Pentas ini merupakan pementasan ke-empat dari lima lokasi pementasan keliling ke kantong-kantong budaya di Bali yang dilakukan Teater Orok tahun ini.

Dalam pementasan naskah karya Anton P. Chekhov yang diterjemahkan oleh Landung Simatupang dengan judul "Beruang Menagih Hutang" berdurasi 45 menit ini, mengisahkan Nyonya Yuli, seorang janda yang sudah tujuh bulan ditinggal mati oleh suaminya. Sepeninggal suaminya itu, Nyonya Yuli bertekad untuk menutup diri dari dunia luar dengan memutuskan untuk berkabung selamanya dan mengurung diri di rumah ditemani potret suaminya yang tergantung dingin di ruang tamu. Suatu hari seorang lelaki pensiunan tentara datang dan memaksa untuk masuk rumah walau sudah diusir. Lelaki yang mula-mula mengenalkan diri bernama Andri itu ternyata datang untuk menagih hutang yang ditinggalkan almarhum suami Nyonya Yuli sebesar 12 juta. Dan sayangnya, Nyonya Yuli belum sanggup membayar utang itu. Ia pun akhirnya terlibat pertengkaran bahkan saling ancam dengan Andri. Andri nekat bertahan tidak mau pergi dari rumah itu sampai Nyonya Yuli melunasi hutang suaminya. 

Sementara itu dalam diskusi yang dilakukan seusai pementasan, Suiya yang bertindak sebagai sutradara mengakui masih ada beberapa kelemahan dari pementasan garapannya ini. “Jika bicara kelemahan, jelas masih banyak. Tapi dalam proses selanjutnya, kami juga pasti akan melakukan penyempuraan, karena naskah ini masih akan kami pentaskan di tempat lain. Jadi, diskusi seperti ini sangat membantu kami untuk berproses,” ujarnya. 

Di sisi lain, De Ogie yang bertindak sebagai pimpro mengatakan, kendala utama yang dihadapi bersama para pemain dalam menggarap pementasan  adalah benturan dengan jam kuliah yang tidak sama. Sebagai teater mahasiswa, jam kuliah yang tidak sama merupakan kendala utama sehingga sulit untuk bisa kompak latihan dan juga sulit untuk membangun korelasi karakter antarpemain secara utuh. “Untuk naskah ini, sebenarnya kami sedang melakukan eksperimen yaitu menggarap naskah dengan tiga lapis pemain. Kebetulan yang sekarang main di Rompyok Kopi ini adalah lapis kedua,” pungkasnya.

(bx/tor/aim/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia