Minggu, 21 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Features

Perpustakaan Braille; Langka dan SDM pun Jauh dari Cukup

25 Maret 2019, 09: 06: 55 WIB | editor : I Putu Suyatra

Perpustakaan Braille; Langka dan SDM pun Jauh dari Cukup

BUTUH SDM: Dra. Ni Wayan Ratih Tritamanti dan koleksi buku braille di Perpustakaan SLBN 1 Denpasar. (NI KETUT ARI KESUMA DEWI/BALI EXPRESS)

Kampanye menghilangkan diskriminasi terhadap para disabilitas memang gencar dilakukan. Namun, bagaimana di dunia literasi, apakah penyandang tunanetra sudah mendapatkan akses yang baik akan kebutuhan buku-buku braille?

 

NI KETUT ARI KESUMA DEWI, Denpasar

Ilmu pengetahuan jangan sampai berjarak dengan manusia. Kebutuhan manusia terhadap sumber ilmu dan informasi dapat diakses salah satunya dengan membaca buku. Buku sebagai jendela dunia memiliki peran signifikan dalam pekembangan manusia yang lebih baik.

Perpustakaan menjadi jembatan penghubung yang sangat menguntungkan bagi semua kalangan. Sayangnya, tidak semua perpustakaan memberi ruang kepada kaum disabilitas atau difabel. Baik dari ketersedian buku hingga akses fisik, misalnya fasilitas gedung.

            Selasa siang (15/3) Bali Express (Jawa Pos Group) berkunjung ke SLB Negeri 1 Denpasar. Sekolah yang beralamat di Jalan Sersan Mayor Gede Nomor 11, Dauh Puri Klod, Denpasar Barat ini lebih dikenal dengan sebutan Dria Raba. Dria Raba tersebut berdiri dari tahun 1959 dengan jumlah murid 216 anak. Seperempatnya merupakan difabel netra atau sekitar 45 anak. Selebihnya berasal dari jenis difabel daksa, grahita, autis, dan lain-lain. Sekolah yang aktif dari pagi hingga siang ini memiliki 20-an guru.

Salah satunya yang ditemui adalah Dra. Ni Wayan Ratih Tritamanti, M.Pd. Ia adalah Wakasek Kurikulum SLBN 1 Denpasar yang juga aktif sebagai Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) serta pengurus Ikatan Guru Pendidikan Khusus Indonesia (IGPKhI). Saat ditanyai tentang perpustakaan, Bali Express diarahkan ke sebuah ruangan yang penuh dengan buku braille. “Ini hanya sedikit. Di lantai dua, ada perpustakaan yang lebih besar,” lanjutnya. Buku-buku braille berjajar di dalam rak-rak dengan rapi. Buku-buku yang berjajar tersebut merupakan bahan ajar yang dialihbahasakan dari huruf romawi ke huruf braille.

            Wakasek Kurikulum tersebut menjelaskan ada beberapa jenis buku yang ada di dalam perpustakaan sekolah ini. “Kalau dilihat dari perpustakaan, pada umumnya ada semacam “buku awas” dan buku “braile”. Buku awas adalah buku pada umumnya,” terang Ratih.

Selain perpustakaan dan jejeran buku, sekolah ini juga memiliki ruangan percetakan. Ruang percetakan tersebut berisi cetakan braille, kertas khusus, pemotong kertas yang berasal dari Norwegia. Semua kebutuhan percetakan buku braile tidak lepas dari Project Brillo pada tahun 2000-an. SLBN 1 Denpasar juga menjadi pusat untuk memproduksi buku-buku braille dan pusat pelatihan bagi tunanetra.

Di tahun 2000 guru-guru mendapatkan kesempatan untuk dilatih. Pelatihan berlangsung di Direktorat Pusat Jakarta. Melalui Braillo Project itulah guru dilatih untuk menangani anak khusus difabel netra. Mengingat guru untuk difabel netra tergolong langka, termasuk untuk bahan ajarnya. Pelatihan tersebut juga mengajarkan cara memproduksi buku untuk cetakan braile. “Di sini sebagai resource centre salah satunya juga memproduksi buku-buku braille. Pusat sumber itulah,  SDM-nya sudah dilatih mulai dari memproduksi /memperbanyak buku-buku braille. Buku-buku itu sebenarnya hanya alih tulis saja. Sehingga kalau mengalih tulis berarti mengambilnya dari buku- buku umum,” tambahnya.

Awalnya, ia menyebutkan bahwa memang tidak ada sarana untuk meproduksi braille, sehingga lebih banyak mendapatkan bantuan dari mitra netra. Akan tetapi, setelah project dan pelatihan tersebut, akhirnya gedung ini menjadi sumber produksi dan distribusi buku braille di Bali. Adanya program literasi nasional, menstimulus sekolah untuk menebar pojok perpustakaan di beberapa titik sekolah. Misalnya, di depan kelas. Tujuannya agar mudah diakses oleh murid-murid. Sebelum mulai belajar, guru mengarahkan murid untuk membaca buku apa saja selama 15 menit.

Untuk produksi sebuah buku braille, prosesnya hampir sama dengan proses percetakan buku pada umunya. Dimulai dari mengalihaksarkan huruf romawi ke braille-edit- cetak-jilid dengan spiral- memberi cover- uji publik dan berujung pada distribusi buku ke seluruh SLB di Bali. Tidak semua orang tahu bahwa perbandingan buku umum dengan buku braille sebesar 1:3 atau 1:4. Dalam artian, sebuah buku umum jika dialihaksarakan ke huruf braille, maka sebuah buku tersebut terkonversi menjadi tiga-empat buku braille. Atau 1 lembar kertas tulisan romawi bisa terkonversi menjadi 5 lembar kertas braille. Inilah yang membuat produksi buku braille sangat mahal dan langka. Selain bahan dan alat yang mahal, SDM-nya juga sangat kurang.

 “Pemerintah jangan berhenti menganalisis kebutuhan bahan ajar untuk mereka difabel netra. Terkadang kebutuhan itu kita sendiri yang mengatasi hanya di sini saja. Dalam menganalisis dan wawancara sampel, jangan hanya satu dua jadi sample karena kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Selain itu, agar mesin membuat buku braille yang mahal itu juga perlu didukung pemerintah. Jika tidak, bisa jadi lama kelamaan buku braille tidak ada,” ujar Ratih ketika soal harapannya terhadap pemerintah.

(bx/aim/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia