Senin, 16 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Usai Keguguran, Lakukan Warak Kruron atau Pangepah Ayu, Ini Tujuannya

25 Maret 2019, 09: 29: 50 WIB | editor : I Putu Suyatra

Usai Keguguran, Lakukan Warak Kruron atau Pangepah Ayu, Ini Tujuannya

Ida Pandhita Mpu Yogiswara (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Upacara Warak Kruron bagi orang yang pernah Aborsi atau keguguran, jarang dijalankan karena tak banyak yang mengetahui. Di sisi lain, masih banyak yang malu  mengakui dirinya pernah Aborsi atau keguguran. Padahal, efeknya sangat buruk bagi kelangsungan hidup berumah tangga. Bila itu terjadi, ada solusi mudah dan murah. Ikuti upacara Warak Kruron Massal yang digelar di Pantai Matahari Terbit, Sanur, 13 April mendatang.

Ida Pandhita Mpu Yogiswara dari Griya Gede Manik Uma Jati, Kepaon, Denpasar Selatan, menjelaskan, upacara Warak Kruron atau Pangepah Ayu tidak hanya bagi yang pernah melakukan Aborsi, tapi juga bagi keluarga yang kandungannya  gugur sebelum dilahirkan.
"Keguguran yang disengaja atau keguguran yang tidak disengaja,seharusnya melakukan upacara 

Warak Keruron atau Pangepah Ayu,"  ujar Ida Pandhita Mpu Yogiswara kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Griya Gede Manik Uma Jati, Kepaon, Pemogan, Denpasar Selatan, kemarin.

Kalau merasa berat karena biaya, lanjut Ida Pandhita Mpu Yogiswara, bisa mengikuti atau melakukannya secara massal dan bersama – sama yang digelar Griya Gede Manik Uma Jati, Kepaon, 13 April mendatang di Pantai Matahari Terbit, Sanur, Denpasar.


Tak hanya upacara Warak Kruron yang bertujuan untuk menghilangkan nasib buruk dan sakit-sakitan yang dilaksanakan, ada juga upacara Ngelangkir untuk bayi yang meninggal sebelum kepus pungsed dan Ngelungah untuk bayi yang meninggal sebelum ketus gigi.


Ditegaskannya, upacara Warak Kruron bukan berarti membenarkan praktik Aborsi ilegal karena Aborsi ilegal tetaplah salah. "Kita semua berharap anak muda tidak melakukan kesalahan fatal dengan menghilangkan nyawa, meskipun itu nyawa anaknya sendiri. Karena agama apapun tidak pernah membenarkan perbuatan tercela seperti membunuh. Juga hubungan seks di luar pernikahan,” tandasnya.


Dikatakan Ida Pandhita Mpu Yogiswara, seseorang yang melakukan Aborsi dampaknya akan dibawa seumur hidup. Bahkan, dampak secara niskala tak hanya akan dirasakan si wanita, tetapi juga pria. Lantaran itu pula, penting melakukan upacara Warak Keruron agar hidup tidak terus bermasalah.


Aborsi ilegal merupakan tindakan pembunuhan yang dilakukan secara sengaja. Aborsi umumya dilakukan oleh kalangan muda dengan kondisi hamil di luar nikah. "Dalam ajaran agama Hindu, aborsi disebut dengan Dhanda Bharunana, sedangkan keguguran yang tidak disengaja disebut Warak Kruron. Meski sebutannya berbeda, namun dampak yang dialami ibu maupun ayah sang  calon janin akan merasakan akibat yang sama," paparnya.


Ida Pandhita Mpu Yogiswara menambahkan, banyak dampak negatif yang akan dialami pasangan yang tega berbuat Aborsi ataupun yang mengalami keguguran, diantaranya sakit yang berkepanjangan, susah mencari pekerjaan, tak pernah nyaman dalam bekerja dimanapun, selalu merasa gelisah, bahkan mengalami musibah, seperti kecelakaan dalam waktu yang berdekatan. Biasanya yang akan terjadi pada muda – mudi yang melakukan aborsi
biasanya mereka sangat gelisah. Di tempat bekerja atau di sekolah selalu bermasalah, rezekinya pun sangat susah, dan mereka akan merasa tidak nyaman dalam hal apapun. Bahkan, mereka juga akan sering mengalami musibah (kecelakaan) karena Atman sang janin yang mereka gugurkan, masih berada di Marcepada dan menuntut untuk kembali ke alam Suargan (Sorga).


Dikatakan Ida Pandhita Mpu Yogiswara, ketidaktahuan ataupun rasa malu membuat banyak pasangan yang pernah melakukan Aborsi akhirnya membawa sebel atau kekotoran tersebut sepanjang hidupnya. "Nah, kesebelasan itu bisa ditebus (ditebusin) dengan cara melakukan upacara Warak Keruron atau Pangepah Ayu,” terangnya.


Dalam lontar Tutur Lebur Bangsa dan Sunari Gama dijelaskan, Atman telah bersemayam dalam janin sejak usia dua minggu kandungan atau  berbentuk  gumpalan darah yang melengkung seperti Tokek. "Sejak usia dua minggu kandungan, janin itu sudah bernyawa. Artinya, jika ia digugurkan haruslah kita mempersiapkan upacara yang layak, bukannya setelah gugur lalu dibuang ke laut dan dianggap selesai.  Jasadnya memang hilang di laut, tapi Atman bayi itu tetap mengikuti ayah ataupun ibunya kemana pun, meskipun ayah dan ibunya akhirnya tidak menikah ataupun tinggal bersama,” terangnya.


Ida Pandhita Mpu Yogiswara menerangkan, orang tua janin yang gugur atau diaborsi harus bertanggung jawab kepada sang bayi, baik secara skala maupun niskala. Bagaimana bentuk tanggung jawabnya? "Secara sekala, jika bayi itu gugur bukannya dihanyutin ke laut, tapi ditanem (dikubur) dengan banten matanem yang layak, dan prosesinya sesuai Desa Kala Patra. Lalu, tanggung jawab secara niskala, yaitu pada Atman janin itu, tetap harus dilakukan prosesi khusus untuk mengantarkan Atmannya ke alam Swargan agar dia bisa bereinkarnasi kembali,” jelasnya.


Prosesi khusus itu disebut upacara Warak Kruron atau Pangepah Ayu. Upacara ini menggunakan Segehan Rare sebagai inti prosesi. “ Upacara ini tidaklah mahal, intinya adalah mengembalikan Atmannya agar tidak di Mercepada ngeruwabeda atau menimbulkan masalah,” jelasnya. 


Selain menggunakan Segehan Rare, upacara Warak Kruron juga menggunakan Sasayut Guru Piduka, Banten Ngulapin, Sanggah Cucuk, dan beberapa kelengkapan lainnya. Dijelaskannya, prosesi intinya dilakukan di laut atau segara. Namun, sebelum memasuki proses inti, pelaku Aborsi dan keluarganya harus melaksanakan Guru Piduka terlebih dahulu di Sanggah Kemulan. "Dalam kepercayaan Hindu, anak merupakan titisan leluhur yang terlahir kembali. Ketika kita melakukan Aborsi artinya kita juga berdosa pada leluhur kita,” terangnya.


Menurutnya, prosesi Guru Piduka di Kemulan tak harus dilakukan secara besar, prosesi itu bisa saja dilakukan sederhana dengan menggunakan Pajati, Tipat, Prasita, Sasayut Guru Piduka, Tumpeng Guru, Kojong Rangkadan, dan Sampian. “Cukup hanya menyediakan banten inti dan dipuput oleh pemangku pun sudah puput, yang penting si ibu dan ayah yang melakukan Aborsi harus matur  piuning dan memohon maaf dan pengampunan,”terangnya.


Selain maturan Guru Piduka di Sanggah Kemulan, ayah dan ibu yang melakukan Aborsi juga harus melakukan Pacaruan Sapuh Awu di tempat mereka melakukan Aborsi. Ada tiga tahap yang dilakukan dalam upacara Warak Kruron ini. Pertama, upacara di Sanggah Kemulan masing – masing, dan prosesi Macaru Awu di tempat Aborsi yang jadi  bagian dari Guru Piduka. Ada juga upacara di Perempatan Agung yang menggunakan kasa sebagai perantara, dan terakhir prosesi puncak di laut.


Dalam prosesi puncak Warak Kruron Massal yang akan dilaksanakan bulan depan oleh
Griya Gede Manik Uma Jati ini,  juga menggunakan Segehan Rare. Segehan Rare merupakan bentuk simbolisasi Sang Atman, yang   terbuat dari nasi yang dikepel membentuk janin yang masih melengkung di dalam kandungan ibunya. 


Masing – masing peserta yang mengikuti prosesi Warak Kruron  mendapatkan banten yang berisi satu  Segehan Rare, sebuah Kelapa yang dibungkus kasa oranye dan kelengkapan banten lain yang selanjutnya akan  dihanyutkan ke laut.


Acara massal ini akan dilaksanakan Saniscara Pon,wuku Ugu, 13, April  2019, mulai pukul 08.00 Wita di Pantai Mertasari, Sanur.  Bagi umat yang turut agar segera mendaftarkan diri di Griya Gede Manik Uma Jati, Kepaon, Pemogan, Denpasar Selatan, paling akhir 9 April 2019.

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia