Senin, 23 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Sempat Diterjang Banjir, Aktivitas SDN 2 Kalisada Lumpuh

25 Maret 2019, 19: 55: 49 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sempat Diterjang Banjir, Aktivitas SDN 2 Kalisada Lumpuh

BERSIH-BERSIH: Pegawai di SDN 2 Kaliasada, Kecamatan Seririt tengah membersihkan ruang guru yang sempat dipenuhi lumpur akibat banjir bandang. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SERIRIT - Proses belajar mengajar di SDN 2 Kalisada, Desa Kalisada, Kecamatan Seririt, Buleleng terganggu. Pemicunya ruang kelas dan perpustakaan masih dipenuhi lumpur akibat banjir bandang yang menerjang sekolah pada Sabtu (23/3) lalu. Tak pelak, ratusan siswa bersama guru pun harus bahu-membahu gotong royong membersihkan ruang kelas.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) Senin (25/3) siang, lantai ruang kelas dan ruang guru masih terlihat basah pasca dibersihkan dari lumpur. Sejumlah guru dan pegawai juga nampak sibuk memilah buku-buku bacaan yang ada di perpustakaan setelah sempat terendam banjir.

Kepala SD Negeri 2 Kalisada, Nyoman Sumetra menjelaskan banjir yang merendam tingginya mencapai 75 centimeter. Sayangnya, musibah yang terjadi malam hari membuat pihaknya tak mampu menyelamatkan barang-barang. Akibatnya pihaknya pun merugi hingga Rp 25 juta.

Sejumlah barang elektronik seperti soundsistem, komputer, printer hingga mesin pompa air rusak akibat terendam banjir. Begitu pula dengan media pembelajaran, buku-buku yang  tersimpan di ruang perpustakaan, serta administrasi siswa dan guru, juga rusak dan dipenuhi lumpur. Terjangan air bahkan merobohkan tembok penyengker sepanjang 20 meter yang ada di sekolah tersebut.

"Ratusan buku yang di perpustakaan terendam. Sama sekali tidak bisa dipakai, karena benar-benar basah. Termasuk buku administrasi siswa dan guru juga rusak dipenuhi lumpur,” kata Sumetra.

Atas musibah ini, sebanyak 134 siswa di sekolah tersebut terpaksa diliburkan selama dua hari. Pada Selasa (26/3), pihaknya berencana akan kembali melakukan gotong royong, membersihkan lumpur-lumpur di areal sekolah seluas 22 are tersebut.

"Hari ini (Senin,red) kami fokus membersihkan ruang-ruang belajar, ruang guru dan perpustakaan. Besok (Selasa,red) pembersihan lagi sekali, untuk dibagian halaman sekolah," terangnya.

Rupanya banjir serupa bukan kali ini saja terjadi. Bahkan banjir juga pernah terjadi pada tahun 2011 lalu. Kerugian yang dialami pun sama besar dengan banjir yang menerjang saat ini. Kondisi itu terjadi lantaran pondasi sekolah sangat rendah, sehingga air sangat mudah masuk ke dalam ruangan.

Atas kondisi ini, Sumetra mengaku telah mengusulkan agar pondasi sekolah kiranya bisa dibuat lebih tinggi, kepada pihak Disdikpora Buleleng. "Tadi saya sudah menghadap dan melaporkan kondisi ini dengan Sekretraris Disdikpora. Rencananya besok (Selasa,red) mereka akan turun melakukan peninjauan," jelasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Perbekel Desa Kalisada, I Nyoman Bagiarta menjelaskan, hujan deras mengguyur desa setempat pada Sabtu (23/3) sekira pukul 19.00 wita. Hal ini lantas membuat irigasi Tukad Banyuraras, tidak mampu menampung debit air, sehingga meluap dan menerjang sekolah, rumah, sawah, hingga perkebunan milik warga.

"Penyebabnya bukan karena hujan saja. Tapi memang irigasi Tukad Banyuraras itu dangkal, dampak galian c yang ada diatas irigasi. Makanya subak Kalisada, yang jumlahnya ratusan hekar sudah empat tahun tidak dapat air, karena irigasinya dangkal. Sekarang karena hujannya deras ditambah irigasinya dangkal, sehingga air itu meluap," jelasnya.

Musibah banjir itu mengakibatkan sebanyak 146 unit rumah, serta 8 hektar lahan pertanian milik warga Desa Kalisada rusak. Kala itu banjir yang menerjang, memiliki ketinggian mencapai 1.5 meter. Hingga membuat warga sempat mengungsi ke dataran yang lebih tinggi. Akibat musibah ini, sebut Bagiarta kerugian ditafsir mencapai ratusan juta rupiah.

“Ada kebun buah naga, pepaya kalifornia, padi siap panen yang luas totalnya delapan hektar rusak. Mesin-mesin milik petani dan hewan ternak juga hanyut. Warga sempat kumpul di tempat yang tinggi. Saya suruh diam, karena takut ada aliran listrik yang putus. Minggu pagi aktifitas kembali normal, warga sudah mulai melakukan pembersihan," tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia