Rabu, 24 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Napi Lapas Tabanan Ikuti Rehabilitasi Narkoba

25 Maret 2019, 20: 55: 48 WIB | editor : Hakim Dwi Saputra

Napi Lapas Tabanan Ikuti Rehabilitasi Narkoba

REHAB : Suasana pembukaan rehabilitasi sosial narapidana narkoba di Lapas Tabanan, Senin (25/3). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, TABANAN – Kabupaten Tabanan menempati urutan kelima untuk angka kasus narkoba di Bali. Oleh karena itu, rehabilitasi sosial dan medis harus dilakukan para pengguna, seperti halnya dilaksanakan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tabanan yang dibuka Senin (25/3).

Kalapas Tabanan, I Putu Murdiana menjelaskan, rehabilitas yang digelar kali ini merupakan rehabilitasi keempat sejak pertama kali dilaksanakan tahun 2016 lalu. Ia menyebutkan, rehabilitasi kali ini diikuti 30 orang narapidana kasus narkoba. "Sebenarnya, sesuai juknis pusat, pesertanya 22 orang. Namun kami ikutkan 30 orang karena kami prioritaskan yang belum ikut rehab, terutama yang masa pidananya pendek. Siapa tahu, tahun depan sudah bebas sehingga tidak bisa ikut rehab," paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan Murdiana, sebelum menjalani rehabilitasi, para napi kasus narkoba sudah menjalani assesment oleh tim dokter Lapas Tabanan. Alasannya, agar terlepas dari jerat narkoba, diperlukan kemauan dan tekad yang kuat dari pribadi masing-masing, sehingga dilakukan pendekatan untuk mensugesti para napi dengan hal-hal positif.  "Contohnya adalah pendekatan spiritual, kemudian keterampilan dan kreatifitas, sehingga perlahan mereka terbiasa tanpa narkoba," lanjutnya.

Berbeda dengan rehabilitasi tahun lalu, kali ini rehabilitasi dilakukan 6 bulan sesuai arahan pusat, dengan anggaran Rp 30 juta yang bersumber dari DIPA Lapas Tabanan. Sedangkan tahun 2018 lalu, hanya 1 bulan. Dengan waktu yang lebih panjang, diharapkan rehabilitasi dapat berjalan maksimal.

Rehabilitasi akan diisi berbagai kegiatan, mulai dari pemaparan materi, kegiatan keterampilan dan kemandirian hingga konseling yang akan didampingi oleh asesor dari BNN Provinsi Bali. "Kami juga mendatangkan keluarga napi untuk memberikan semangat dan dukungan," sambungnya.

Murdiana menyebutkan, saat ini ada 52 orang napi kasus narkoba di Lapas Tabanan, termasuk salah seorang anggota Polri di Polsek Baturiti. Sebagian besar telah mengikuti rehabilitasi, tetapi ada juga yang ingin kembali ikut rehabilitasi di tahun berikutnya, apabila kuota memungkinkan. Setelah mengikuti rehabilitasi, diharapkan para napi mengalami perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.  Tentunya berubah kebiasaan, yang dulunya ketergantungan dengan narkoba, kini bisa menjalani hari tanpa benda haram tersebut. 

Di sisi lain, Kabid Brantas BNN Provinsi Bali, AKBP Nyoman Sebudi mengungkapkan, meskipun rehabilitasi dilakukan  BNN, pihak Lapas juga boleh melaksanakan rehabilitasi terhadap para pengguna narkoba, baik rehabilitasi sosial maupun rehabilitasi medis. Dengan rehabilitasi tersebut, diharapkan para napi bisa terlepas dari narkoba saat usai menjalani masa hukumannya. 

Menurutnya, sejauh ini angka kasus narkoba di Bali tertinggi terjadi di Denpasar, kemudian Buleleng, dan ketiga Gianyar. Sedangkan Tabanan ada di peringkat kelima dan terendah adalah Bangli. Sebagai barometer Bali, Denpasar menjadi tempat peredaran narkoba yang cukup banyak karena terdapat banyak tempat-tempat hiburan malam yang sangat rentan akan peredaran narkoba. Namun, sejauh ini, menurut AKBP Sebudi, pihaknya belum mendapatkan informasi tentang adanya tempat hiburan malam yang menyediakan narkotika bagi para pengunjungnya. "Kami tetap selidiki apakah tempat hiburan malam atau tempat dugem itu ada yang menyediakan atau tidak, kalau ada, ya pasti kami tindak," tegasnya.

Kendatipun ada di peringkat kelima, Tabanan tetap harus mewaspadai peredaran dan penggunaan narkoba, terlebih saat ini narkoba sudah masuk ke pelosok-pelosok Desa. Maka dari itu, BNN Provinsi Bali menonjolkan aspek pencegaham dan koordinasi, misalnya mengimbau desa membentuk Perarem atau Perdes, karena narkoba itu tanggungjawab bersama, bukan tanggungjawab polisi dan BNN saja.

 "Sanksi sosial lebih ditakutkan ketimbang sanksi hukum, sehingga dengan Perarem atau Perdes, bisa menekan peredaran dan penggunaan narkoba. Sanksi sosialnya tergantung desa, kala, patra setempat. Di samping kena sanksi pidana, juga kena sanksi adat misalnya, dan keluarganya juga kena, sehingga minimal ada efek yang membuat warga takut jika berurusan dengan narkoba," jelasnya.

Di Tabanan, kata dia, sudah ada beberapa desa yang mencantumkan perihal narkoba dalam Perarem atau Perdesnya, tetapi belum semuanya  sehingga diharapkan seluruh desa memiliki Perarem serupa. "Harapan kami ya semua desa di Bali memiliki Perarem itu," tandasnya.

Sementara itu, salah seorang napi yang mengikuti rehabilitasi, Viktor Harry, 42, asal Denpasar menuturkan, awal mula mengkonsumsi narkoba karena coba-coba saat ditawari temannya. Pria yang ketika itu bekerja di proyek pun ketagihan dan akhirnya membeli narkoba jenis ekstasi ke salah satu tempat hiburan malam di Denpasar yang kini telah tutup. "Disana saya beli ekstasi Rp 500.000 cuma dapat 1 biji, dan saya makek itu selama 3 tahunan," ungkapnya.

Anak dan istrinya tak mengetahui jika selama itu Viktor menjadi pemakai, sampai akhirnya ia tertangkap di daerah Desa Bajera, Kecamatan Selemadeg, Tabanan karena kedapatan membawa ekstasi. "Saat itu ada razia di jalan. Saya ditangkap karena kedapatan membawa ekstasi. Tahun ini saya direhab, semoga benar-benar bisa berhenti dan saya tidak akan mengulanginya lagi," pungkasnya.

(bx/ras/aim/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia