Kamis, 22 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Features

Perpustakaan Braille; di Perpusda hanya Sedikit, Nyaris Tak Tersentuh

26 Maret 2019, 09: 59: 20 WIB | editor : I Putu Suyatra

Perpustakaan Braille; di Perpusda hanya Sedikit, Nyaris Tak Tersentuh

TIDAK TERTATA: Buku-buku braille menumpuk di ruangan deposit Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Bali, Senin (18/3) siang. (ARI KESUMA/BALI EXPRESS)

Share this      

Hak untuk mendapat pendidikan sejatinya mutlak didapatkan oleh penyandang tunanetra. Termasuk akses terhadap beragam literatur. Sayang, terbatasnya buku braille menjadi kendala. Bagaimana dengan di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bali, salah satu perpustakaan terbesar?

 

NI KETUT ARI KESUMA DEWI, Denpasar

 

Matahari siang itu terik menyengat kulit. Namun, kawasan Jalan DI Panjaitan, Renon, Denpasar cukup rindang. Tepat di seberang gedung Kantor Imigrasi Kelas I Denpasar ada bangunan yang merupakan gedung Dinas Kearsiapan dan Perpustakaan Provinsi Bali. Di sinilah letak Perpusda yang dulu sempat sangat populer di era mahasiswa sebelum zaman “mbah google.”

Dulunya, Perpusda Bali memang terletak di Jalan Teuku Umar. Belum terlalu lama pindah ke Jalan DI Panjaitan. Siang itu, kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan nampak sepi. “Di sini tidak ada humasnya,” jawab salah satu pegawai perpustakaan, saat Bali Express (Jawa Pos Group) datang ke Perpusda, Senin lalu (18/3).

Sebagai perpustakaan utama milik provinsi, sudah sepatutnya memang Perpusda Bali bisa mengakomodasi kebutuhan tunanetra akan buku-buku braille.  Setidaknya bilang Perpustakaan Grhatama Pustaka Jogjakarta yang menjadi komparasi. Perpustakaan milik Pemprov Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) ini memiliki ruangan khusus untuk buku braille.

Karena saat itu para pegawai dinas tengah istirahat siang, koran ini harus menunggu di ruang terbuka milik perpustakaan. Perpustakaan ini sedikit berbeda dengan lokasi sebelumnya di Kawasan Teuku Umar Denpasar. Kali ini, ruangannya lebih terbuka. Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati buku serta bersantai di gazebo taman. Suasananya sepi kali ini.

Ada beberapa ruangan di area perpustakaan. Salah satunya, ada ruangan deposit. Di sana, ada seorang pegawai yang sedang sibuk bekerja. Ia menunjukan beberapa tumpukan buku di meja ketika ditanya soal buku-buku braille.

“Saya sulit menginventarisasi karena tidak bisa membaca buku braille. Saya hanya melihat pada sampulnya. Buku ini jenis majalah, terbitan mana,” ungkapnya pustakawan yang hampir 20-an berdinas itu. Buku-buku berjumlah kurang dari 40 tersebut berasal dari Balai Penerbitan Braille Indonesia atau sering dikenal BPBI Abiyoso. BPBI Abiyoso berada di bawah Kementerian Sosial Republik Indonesia yang berlokasi di Kota Cimahi, Jawa Barat.

Tumpukan buku tersebut merupakan majalah braille Indonesia edisi anak dan remaja. Selain itu, juga terdapat buku kisah inspiratif yang berjudul Jangan Takut karena Cacat terbitan tahun 2016. Saat ditanyakan, apakah ini adalah keseluruhan buku braille yang ada di sini? Dia mengiyakan. Sejauh pengalaman tugasnya, ia belum pernah melihat orang dari difabel netra yang berkunjung ke ruangan tersebut. Tidak hanya berkunjung ke ruangan deposit, menurut pegawai yang lain, selama masa bertugasnya ia belum pernah melihat difabel netra datang ke ruangan umum. “Kalau ada yang difabel netra yang datang, nanti kami bantu tuntun,” tambahnya.

Perpustakaan Provinsi Bali ini memiliki fasilitas gedung berupa jalan landai menuju gedung dan teralis pelindung. Akan tetapi, gedung ini belum memiliki akses guiding block dan jalan yang lapang bagi pengguna kursi roda untuk mengakses buku-buku. Hal ini terjadi karena rak-rak buku berdekatan dengan barisan kursi-meja pengunjung.

Menjadi PR besar bagi pemerintah untuk menyediakan akses bagi difabel di perpustakaan setingkat Provinsi Bali. Baik dari fasilitas gedung (akses) hingga ketersediaan buku atau akomodasi akses lainnya. Selain itu, pemerintah pusat juga harus menggalakkan program perlindungan terhadap aksara braille. Meskipun teknologi sudah maju dan buku braille bisa tergantikan dengan media yang lain, bukan berarti membiarkan aksara braille, buku, dan sumber dayanya hilang begitu saja. Aksara braille adalah bagian dari pergulatan proses kebudayaan dan perjuangan kemanusiaan. Hal-hal ini harus diperhatikan oleh pemerintah juga masyarakat pada umumnya. (*)

(bx/aim/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia