Rabu, 18 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Taman Baginda, Tempat Mohon Taksu dan Kesembuhan

26 Maret 2019, 11: 19: 40 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Taman Baginda, Tempat Mohon Taksu dan Kesembuhan

PURA TAMAN BAGINDA : Pura Taman Baginda di Banjar Peteluan, Desa Temesi, Gianyar, diyakini menjadi tempat memohon taksu dan kesembuhan. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Pura Taman Baginda yang berada di pusat Kota Kabupaten Gianyar,ternyata punya tuah khusus. Pura  yang  masuk kawasan Banjar Peteluan, Desa Temesi ini,   diyakini tempat mohon kesembuhan segala macam penyakit dan tempat nunas taksu bagi jero dasaran (balian) hingga pragina (seniman).

Pura Taman Baginda dikenal sebagai tempat permandian pada zaman kerajaan, Raja Sri Kresna Dalem Kepakisan. Letaknya juga cukup strategis, berdampingan  dengan aliran Tukad Sangsang. Jika mencari pura tersebut tidaklah sulit. Dari Lapangan Astina Gianyar hanya sekitar lima  menit menuju arah timur mencari traffic light  (lampu pengatur arus lalin) yang kerap disebut lampu merah Peteluan Bangli. Sebelum lampu merah ini, ada  jembatan yang membatasi Desa Samplangan dengan Desa Temesi. Sampai di ujung jembatan susuri arah ke kiri mengikuti jalan desa yang merupakan satu-satunya akses menuju Pura Taman Baginda.


Kelihan Adat Banjar Peteluan, Desa Temesi, Gianyar, Pande Ketut Subakti menjelaskan kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (24/3) lalu, keberadaan pura telah ada sejak zaman kerajaan Sri Kresna Kepakisan. “Konon Pura Taman Baginda sebagai tempat mandinya raja dulu, sehingga nama pura ini pun disebut Pura Taman Baginda. Pura berarti tempat suci, Taman adalah tempat permandian, dan Baginda adalah seorang raja,” terangnya.


Sejak leluhurnya yang berawal jumlah warga setempat 15 orang, di pura itu hanya terdapat satu buah pancuran saja. Yakni yang bertempat di Utama Mandala pura. Seiring perkembangan zaman yang selanjutnya ada renovasi, sehingga pada areal pura  dibagi atas tiga mandala, Utama, Madya, dan Nista. Jumlah  warga di  banjar pun terus berkembang, yang kini mencapai 191 krama.


Pada bagian Utama Mandala  terdapat tirta yang disebut dengan Tirta Sudamala. Tirta Sudamala diyakini sebagai penyembuh dari segala macam penyakit. Bahkan, dari luar Desa Temesi banyak yang berbondong-bondong datang untuk nunas tirta pada rerahinan tertentu, seperti Kajeng Kliwon, Purnama, dan Tilem," ujar Pande Subakti.


Selain sebagai penyembuh segala macam penyakit, lanjutnya, tak jarang juga  seniman nunas (memohon) taksu atau energi magis positif agar apa yang disuguhkan semakin memesona penikmat seni. “Malahan warga yang dari luar Desa Temesi banyak yang nunas tamba (obat) di sini. Karena beberapa Jero Dasaran (balian) nunas panugerahan di sini juga. Secara otomatis akan nunas tirta juga pada pura ini. Begitu juga dengan seniman,” ungkap Pande Subakti.Selain nunas  taksu, Tirta Sudamala  kerap digunakan sebagai Melasti atau ngabejiang waktu piodalan di Pura Kahyangan Tiga setempat. Bahkan, dahulu seluruh desa yang ada di Gianyar Timur, Melasti di Pura Taman Baginda, dan  nunas tirta di areal Utamaning Mandala pura. Namun kini masing masing desa sudah mulai Melasti ke pantai dan beji yang ada di masing-masing desa pakraman.


Bila ingin nangkil secara pribadi, bisa membawa sesidan-sidan atau semampunya. Jika mampu menghaturkan pajati dipersilakan, jika hanya sebatas canang saja juga tidak soal. "Nunas panugerahan, taksu, maupun kesembuhan di Pura Taman Baginda  tidak ada kriterianya. Asal memiliki niat, pemikiran, dan tindakan yang baik, pasti hasilnya akan baik pula," terangnya.


Pande Subakti menambahkan, pada bagian Jaba Tengah teradapat lima buah pancuran yang disebut dengan Pancaka Tirta. Masyarakat setempat biasanya menggunakan tirta itu sebagai sarana upakara Pitra Yadnya. Segala bentuk yadnya dalam prosesi Pitra Yadnya diarahkan agar nunas tirta pada areal Jaba Tengah di bagian barat pura.


Sedangkan pada bagian timur pura juga terdapat dua buah pancuran yang disebut dengan Pancuran Idadari.  Pada zaman kerajaan, tempat permandian ini  dibagi dua. Di tempat nunas tirta untuk Pitra Yadnya sebagai permandian Raja (pria), dan yang di timur  sebagai tempat permandian permaisurinya atau khusus perempuan. “Diyakini juga pada pancuran Idadari ini sebagai tirta awet muda,” tuturnya.
Tidak hanya pada jaba tengah, namun pada jaba sisi pura juga terdapat pancuran yang dimanfaatkan warga untuk mencari air minum. Bahkan, ada juga yang sudah ditata sebagai tempat permandian umum, yang  lokasinya berdekatan dengan aliran Sungai Sangsang. “Biasanya yang mencari air minum di sini banyak warga dari luar desa, sekalian langsung mandi. Karena lokasi parkir dengan tempat mencari air sangat mudah dan tinggal turun dari kendaraan, langsung bisa menuju pancuran,” imbuhnya. 

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia