Senin, 22 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Jika Berniat Buruk di Pura Taman Baginda, Air Keruh dan Dibuat Linglun

26 Maret 2019, 11: 22: 29 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jika Berniat Buruk di Pura Taman Baginda, Air Keruh dan Dibuat Linglung

ANGKER : Kawasan Pura Taman Baginda dikenal angker, banyak kejadian aneh terjadi bila ada yang berniat buruk. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, GIANYAR - Kawasan Pura Taman Baginda di Banjar Peteluan, Desa Temesi, Gianyar, memang angker. Jadi, jangan coba-coba melanggar pantangan yang sudah ada sejak zaman dahulu.

Berdasarkan pengalaman Kelihan Adat Banjar Peteluan, Desa Temesi, Gianyar, Pande Ketut Subakti, banyak pantangan yang semestinya dihindari kalau nangkil ke Pura Taman Baginda. Jika pantangan tetap dilanggar, maka harus tanggung risikonya.  

Dikatakannya, jika mencari air atau nunas tirta dengan kecuntakaan (kotor), menstruasi,  akan membuat air pancuran keruh, bahkan menjadi kering.


“Sudah sering kali warga saya di sini menggelar upacara mendakin, yaitu berupa upacara guru piduka dan memohon agar airnya bisa kembali normal. Karena itu terjadi akibat keteledoran ketika akan nunas tirta ke sini,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (24/3) lalu di Gianyar.

Selain itu, pengalaman mistis juga sering dialami warga. "Bila memasuki areal pura, tepat di Palinggih Bukit Buwung, jika berpikiran kotor akan linglung. Bahkan, suasana menjadi sangat gelap gulita seakan berada di alam mimpi," urainya.


Di bawah pohon beringin sebelum mencari pancuran, lanjutnya, juga sering dihadang ular  panjang, seakan-akan menghadang masuk ke dalam pura. “Kejadian ini tidak mengada-ngada ataupun menceritakan dari cerita seseroang. Melainkan ini  pengalaman pribadi saya, terkait Pura Taman Baginda. Bukan saya saja, beberapa warga juga mengaku mengalami hal yang sama. Itu berarti ada yang perlu diperbaiki atau diingat kembali, ketika akan masuk ke areal pura,” jelas Pande Subakti.

Untuk mengatasinya, ia hanya menyarankan supaya diam sejenak untuk mengucapkan permohonan maaf lewat hati maupun langsung, dan balik kembali. Dengan demikian, tidak akan terjadi apa-apa yang menimpa. Cara seperti itu dilakukan, lanjutnya,  sebagai cara untuk berbenah diri terlebih dahulu, sebelum memasuki areal pura.

“Saya saja sampai menghaturkan pajati agar tidak diganggu lagi, dan sebagai permohonan maaf juga. Sebagai pangayah di sini mungkin masih ada salah, baik pemikiran, perkataan, dan perbuatan saya, sehingga sasuhunan yang malinggih di sini mengingatkan saya. Sampai saat ini setiap ke pura  tidak ada kejadian  seperti itu lagi,” tandas  Pande Subakti.


Pura yang luasnya sekitar 10 are tersebut piodalannya bertepatan pada Tumpek Wayang yang dilaksanakan selama tiga hari. Selama piodalan, banyak Jero Dasaran (balian ) biasanya nangkil karena  taksu dan panugerahaan banyak  didapatkan di Pura Taman Baginda. 

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia