Sabtu, 21 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Meski Terkendala Mesin, Bangli Cetak 6.000 KIA

26 Maret 2019, 19: 17: 15 WIB | editor : Hakim Dwi Saputra

Meski Terkendala Mesin, Bangli Cetak 6.000 KIA

KIA BANGLI: Meski mengandalkan satu mesin cetak e-KTP, Bangli mampu mencetak sekitar 5.800 KIA per pertengahan Maret 2019 ini (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 2 Tahun 2016, anak di bawah umur 17 tahun wajib memiliki Kartu Identitas Anak (KIA). Namun kewajiban itu belum bisa dipenuhi oleh Kabupaten Bangl karena terkendala mesin cetak.

Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bangli hanya memprioritaskan warga yang memerlukan KIA untuk keperluan sekolah. Sebab, Disdukcapil Bangli terkendala urusan cetak, sehingga masih memanfaatkan mesin cetak e-KTP untuk pencetakan KIA.

Kepala Disdukcapil Bangli I Nyoman Sumantra menyebutkan, partisipasi masyarakat Bangli untuk memiliki KIA sebenarnya cukup bagus. Itu terbukti dari jumlah warga yang sudah mencetak kartu mencapai 5.805 lembar per pertengahan Maret 2019. Angka ini diperkirakan bertambah hingga April 2019. Sesuai target, Bangli ingin 6.000 KIA bisa dicetak pada 2019.

"Kami sebetulnya sudah taat undang-undang. Sejak 2016, Bangli sudah mencetak KIA sebanyak 2.000 kartu, kemudian 2017 sebanyak 4.000 kartu, 2018 sebanyak 5.000 kartu dan sekarang target 6.000 kartu," beber Sumantra, Selasa (26/3).

Berdasar data, jumlah anak di bawah 17 tahun di Bangli mencapai 61.000 orang. Apabila Bangli mewajibkan seluruh anak memegang KIA, pihaknya mesti mengadakan alat cetak. Sebab, Disdukcapil selama ini hanya memanfaatkan mesin cetak e-KTP dan hanya satu mesin yang dimiliki. "Sebenarnya tahun ini kami sudah adakan (mesin cetak KIA). Namun kami belum bisa mewajibkan karena kemampuan cetak terbatas," ungkap birokrat asal Desa Siakin, Kintamani itu.

Dijelaskan, pada 2018 lalu pengadaan blanko mencapai 5.000 keping. Itu belum termasuk tinta maupun ribbon yang harganya mencapai Rp 3,7 juta. Satu ribbon berdaya cetak sekitar 300-350 keping. "Sedangkan kami menarget wajib cetak 61.000 KIA untuk anak-anak Bangli," sambungnya.

Oleh karena itu, kata Sumantra, mesin cetak e-KTP tak bisa dipaksa untuk cetak KIA, karena perbedaan mesin bakal memengaruhi kualitas kartu. Kata dia, tingkat ketahanan blanko KIA sangat berbeda dengan KTP. Perbedaan bahan menjadi dasarnya. "Mesin KTP selama ini sering dipakai. Apabila dipakai untuk KIA, cepat panas dan KIA pasti mengelupas sehingga terjadi kendala pada proses pencetakan KIA," terang mantan Kepala SMAN 1 Kintamani itu.

Sumantra tidak memungkiri pentingnya KIA. Kartu tersebut dibutuhkan oleh anak-anak Bangli yang sekolah di luar daerah, seperti di Denpasar yang menggunakan KIA sebagai pengganti kartu keluarga (KK) untuk syarat pendaftaran. Selain itu, Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang bersangkutan sudah tercantum di kartu dan terkoneksi dengan database. Dia mencontohkan, apabila anak tersebut mengalami musibah, maka akan memudahkan pihak terkait mencari data-data yang menyangkut orangtua, keluarga, maupun data medis pemegang kartu.

"Misalkan, anak itu kecelakaan kemudian pendarahan, pihak terkait langsung bisa menelusuri keberadaan keluarga dengan mencocokan NIK yang bersangkutan ada dalam KK siapa. Dengan demikian, keberadaan orangtuanya, ataupun golongan darah bisa dengan cepat diketahui," pungkasnya.

(bx/aka/aim/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia