Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Ini Makna dan Jenis Jajan Sarad Saat Piodalan di Pura Tertentu

30 Maret 2019, 09: 59: 12 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ini Makna  dan Jenis Jajan Sarad Saat Piodalan di Pura Tertentu

SARAD: I Kadek Edi Wahyu Kusuma Yuda, salah seorang pembuat Jajan Sarad di Desa Bedulu, Blahbatuh, Gianyar. Bentuk Jajan Sarad beragam, tergantung jenis upacara yang dilaksanakan (kiri). Pinandita Drs Ketut Pasek Swastika (kanan). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Jajan Sarad, salah satu sarana pelengkap upacara yang banyak menarik perhatian umat. Selain bentuknya yang cukup besar, juga terlihat indah karena sosoknya sangat artistik.

Jajan Sarad biasanya dipajang pada pelataran pura. Namun, tak banyak orang yang mengetahui apa tujuan dan makna dari jajan  tersebut dibuat, saat karya maupun piodalan tertentu di  pura. Menurut Wakil Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Pinandita Drs Ketut Pasek Swastika, Jajan Sarad secara umum adalah simbol bumi. Semua yang ada pada Jajan Sarad ada kaitannya dengan seluruh kegiatan semua  makhluk hidup di dunia ini.

“Secara kasat mata bisa dilihat pada jajan itu adalah olahan tepung dan dibentuk sedemikian rupa. Semua itu adalah isi bumi ini,” papar Pinandita Drs Ketut Pasek Swastika kepada Bali Express (Jawa Pos Group).


Dijelaskannya,  setiap tingkatan upacara atau piodalan sudah memiliki porsinya masing-masing. Mulai dari bebantenan, orang suci yang harus muput hingga penentuan tempatnya. Begitu juga dengan penggunaan Jajan Sarad, selalu disesuaikan dengan tempat dan tingkatan upacara yang dilakukan oleh masyarakat yang melaksanakan upakara.

Jajan Sarad yang dipajang pada pelataran pura, apakah  dihaturkan atau untuk dimakan?
"Semua itu hanyalah sarana dan seusai tingkatan upacara kita saja. Bukan berarti itu makanan Ida Sang Hyang Widhi. Memang kita haturkan sedemikian rupa, hanya saja terdapat sebuah makna di sana,” ungkap pria asli Jembrana tersebut.


Jajan Sarad bervariasi ukurannya. Ada yang sedang, bahkan sampai ada yang tujuh meter. Itu juga tidak untuk dimakan, namun sebagai salah satu perwujudan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Karena atas anugerah beliau makhluk hidup dapat bertahan di bumi ini, dengan segala isi alamnya.“Semua itu merupakan perwujudan bhakti atas anugerah Tuhan. Semua tentang Jajan Sarad tersebut ada pada lontar Sarwa Bebantenan, yang  menyebutkan bahwa banten adalah perwujudan alam, bumi ini,” tandasnya.


Ditambahkannya, Jajan Sarad biasanya dibuat saat pelaksanaan piodalan Madyaning Utama ke atas. Yakni piodalan yang menggunakan bebangkit dan upacara  yang meggunakan palagembal.
Jajan Sarad yang ukurannya tinggi dan tidak bisa ditaruh pada piyasan atau bale paselang, biasanya ditaruh pada pelataran pura. Namun, tempatnya ada paling depan, lantaran sebagai sesajen yang dihaturkan, di samping juga bisa sebagai hiasan.

Sedangkan yang bisa ditaruh pada bale paselang maupun pangarum biasanya dengan palagembal dengan ukurannya satu meteran.

Jajan Sarad bentuknya juga terdapat beberapa jenis. Mulai dari bentuk manusia, tumbuhan, suasana alam hingga hiasan lainnya yang menggunakan bahan tepung diwarnai. Dibentuknya juga dengan cara digiling dan digoreng, selanjutnya baru dirangkai agar tampak lebih indah. “Sebenarnya penggunaan Sarad juga atas kemampuan kita saat melakukan yadnya atau upakara. Kalau kita mampu melakukan yadnya yang lebih madyaning utama, kenapa tidak menggunakan Jajan Sarad. Meskipun tujuan akhirnya adalah sama-sama beryadnya, jika punya lebih kenapa tidak kita menghaturkan yang lebih, asalkan tidak memaksakan diri,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, salah satu pembuat Jajan Sarad  asal Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, I Kadek Edi Wahyu Kusuma  Yuda, mengaku membuat Jajan Sarad bersama rekan rekan dengan berbagai macam ukuran, mulai dari satu meter hingga delapan meter.

Ia biasanya membuat Jajan Sarad untuk karya agung di desa pakraman, pernikahan, hingga karya agung di pamerajan. “Kita buat jajannya sesuai permintaan, konsepnya apa, dan digunakan untuk apa. Begitu juga dengan ukurannya disesuaikan dengan keinginan yang memesan,” paparnya.

Untuk membuat Jajan Sarad ia mengaku mengajak tenaga minimal 12 orang. Pasalnya, membuat Jajan Sarad memerlukan beberapa tahapan dan butuh waktu seminggu hingga tiga minggu.
Cepat atau lamanya membuat, tergantung  ukuran dan tema dari Jajan Sarad tersebut. Jika untuk orang nikah, konsepnya yang dibuat tentang Semara Ratih. Begitu juga dengan karya agung dan piodalan, konsepnya dengan cerita pewayangan yang ada kaitannya dengan dewa-dewa.

“Selain saat karya agung, tokoh-tokoh puri di Bali biasanya menggunakan Jajan Sarad setiap upacara apapun itu.  Selaian bisa dihaturkan kaitannya dengan banten, juga bisa dijadikan sebuah dekorasi yang megah meski berbahan sederhana,” tandasnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia