Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Features

Marianta, Siswa SD yang Mau Ujian Harus Nginap dan Bawa Bekal Jagung

01 April 2019, 19: 58: 24 WIB | editor : I Putu Suyatra

Marianta, Siswa SD yang Mau Ujian Harus Nginap dan Bawa Bekal Jagung

MARIANTA: Ketut Marianta saat mengikuti pemantapan ujian akhir sekolah di SDN 6 Bunutan, Abang, Karangasem, Senin (1/4). (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Dunia pendidikan Karangasem viral di media sosial (medsos). Viral setelah salah seorang siswa kelas VI SD N 6 Bunutan Ketut Marianta harus menginap di rumah kerabatnya di dekat sekolah. Itu dilakukannya agar tidak terlambat mengikuti pemantapan ujian sekolah yang dimulai Senin (1/4). Ia rencananya menginap selama pemantapan yang berlangsung selama sepekan. Selama “mengungsi” juga membawa bekal jagung mentah untuk dimasak di rumah Wayan Sibang tempatnya menginap. Seperti apa?

 

SD N 6 Bunutan berada Dusun Gulinten, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem. Sekolah itu berada di wilayah perbukitan. Marianta juga secara administrasi berada di Dusun Gulinten. Namun untuk menjangkau sekolah itu, ia harus jalan kaki melewati bukit. Jalan setapak ia lalui sejak awal sekolah sana.

Ternyata, aktivitas itu tidak dilakoninya sendiri. Masih ada 18 siswa lain melakukan hal serupa. Setiap hari, mereka biasa jalan kaki bersama melintasi bukit. Marianta kepada Bali Express (Jawa Pos Group) mengatakan, dari 18 temannya itu, lima orang duduk di kelas VI. Yakni Kadek Januada, Komang Soma, Kadek Sugiarta, Wayan Listiawati, dan Luh Putu Suartini. “Kalau yang nginep sebelum pemantapan, cuma berdua. Saya dan Suartiani,” ujarnya kemarin. Teman lainnya, berangkat lebih pagi agar tidak telat karena pukul 07.30 pemantapan sudah dimulai. “Saya bawa jagung biar ada dimasak di tempat nginap,” tegasnya.

Anak kelima dari pasangan Ni Nyoman Sudiasih dengan I Made Mastika itu mengatakan, tumben menginap di rumah kerabatnya. Biasanya, Marianta bersama teman-temannya berangkat pagi hari, sekitar pukul 05.00. Praktis bangun tidur harus lebih awal. Perjalanan melewati bukit ditempuh sekitar 3 jam, bahkan bisa lebih. Anak-anak itu biasanya tiba di sekolah paling cepat pukul 08.00, sering juga pukul 09.00. Tergantung kondisi di jalan. Tak jarang juga tiba di sekolah dalam keadaan basah. “Kalau pulang biasanya jam 3 sore baru sampai di rumah,” tutur Marianta usai mengikuti pemantapan di sekolahnya kemarin.

Dalam perjalanan sekolah, tak jarang siswa ini dihantui bencana tanah longsor, terutama musim hujan. Tak hanya itu, bojog (monyet) yang ditemui dalam perjalanan membuat anak-anak itu takut. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk ke sekolah demi mendapat ilmu pengetahuan.

Kepala SD N 6 Bunutan I Wayan Dayuh Suyasa juga mengakui, ada 19 siswanya menempuh pendidikan harus melewati bukit yang tidak bisa dilalui kendaraan. Ia membenarkan siswa itu sering terlambat, kadang-kadang datang dalam keadaan basah. Untuk memastikan bahwa anak itu menempuh perjalanan jauh, Suyasa yang sudah menjabat kepala sekolah di sana sejak dua tahun lalu sempat menyusuri jalur yang biasa dilalui siswanya. Tak hanya jauh, medan juga berat. “Saya jalan kaki ke rumah mereka lewat bukit. Namanya bukit, jalannya naik turun. Tidak tahu seberapa jauh. Saya jalan kaki sekitar 4 jam,” tutur Suyasa. Setelah mengetahui medan itu, ia pun maklum dengan siswanya yang sering terlambat. “Awalnya saya bertanya-tanya kok setiap hari terlambat, setelah dapat ke rumahnya, saya maklumi,” tegas dia. Pihaknya pun mengapresiasi kegigihan anak-anak tersebut demi mendapat pendidikan. Telebih, Marianta merupakan anak yang terlahir dari keluarga miskin. “Saya pernah ke rumahnya. Rumah orangtuanya merupakan bantuan bedah rumah,” tandas pria asal Sega, Desa Bunutan itu.

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia