Minggu, 26 May 2019
baliexpress
icon featured
Features

Kisah Kakak Beradik Disabilitas, Putu Agus Setiawan dan Kadek Windari

02 April 2019, 05: 19: 29 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kisah Kakak Beradik Disabilitas, Putu Agus Setiawan dan Kadek Windari

INSPIRATIF: Putu Agus Setiawan menunjukkan dua buku karyanya yang berisi kumpulan kata-kata motivasi. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SERIRIT - Memiliki keterbatasan fisik tak membuat Putu Agus Setiawan, 31, dan Kadek Windari, 28, berpangku tangan. Kedua kakak beradik ini merupakan penyandang disabilitas. Namun semangatnya berkarya untuk mencari sesuap nasi sangatlah besar. Putu Agus Setiawan berkarya dengan menulis buku motivasi. Sedangkan sang adik Kadek Windari tekun menjadi seorang pelukis. Seperti apa kisahnya?

Suasana sunyi nampak terlihat di kediaman Putu Agus Setiawan di Dusun Kerobokan, Desa Banjarasem, Kecamatan Seririt, Buleleng, Senin siang (1/4). Namun saat koran ini mengucapkan salam, jawaban pun terdengar dari dalam rumah.

“Silakan masuk,” ujar Putu Setiawan dengan ramah dari ruang tamunya. Maklum saja, Putu Setiawan tak bisa leluasa bergerak lantaran tulang kakinya mengecil. Kondisinya itu terjadi sejak ia berusia 8 tahun.

Saat ditemui di kediamannya, Setiawan sedang asyik menonton TV. Ia didampingi sang adik Kadek Windari yang juga mengalami hal serupa. Beruntung, mereka didampingi adik bungsunya bernama Bunga Ayu Lestari, 8. Sehingga segala keperluan keduanya dibantu dilayani oleh Bunga.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Setiawan menuturkan jika dirinya sudah menulis dua buah buku. Keduanya merupakan buku yang berisi kumpulan kata-kata motivasi kehidupan. Buku itu ia tulis dan dipersembahkan bagi penyandang disabilitas agar tetap berssemangat dalam menjalani hari di tengah keterbatasan.

Buku pertama sebut Setiawan diluncurkan pada tahun 2017. Buku perdana itu berjudul “Berjuang Menembus Kemelut Kehidupan”. Hebatnya, buku itu mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh. Seperti Andy F. Noya presenter program Kick Andy di TV Swasta dan pengusaha sukses yang juga owner Krisna Oleh-oleh Bali, I Gusti Ngurah Anom yang akrab disapa Ajik Cok.

Di buku itu, Andy F. Noya dan Ajik Cok menuliskan apresiasinya atas perjuangan Setiawan dalam menembus segala kekurangan untuk tetap berkarya. Buku perdana itu bahkan laris terjual sebanyak 3.450 buah dengan harga dibanderol Rp 90 ribu.

“Semua yang pernah kami lewati ditulis di sana (buku, Red). Bahkan sudah dibeli dan dibawa ke Amerika, Inggris, Hongkong, Jepang dan Singapura. Buku pertama sudah dicetak sebanyak 3.450 eksemplar,” ujarnya kepada Bali Express.

Nyala semangatnya kian membara. Bahkan pria kelahiran Desa Keramas, Gianyar kembali menulis buku keduanya. Buku bersampul gelap setebal 200 halaman itu berjudul “Mengusir Gelap Dengan Cahaya” itu akan di-launching pada 21 April mendatang. Bahkan pihaknya sudah mencetak  sebanyak 1.000 buah yang siap dipasarkan seharga Rp 70 ribu.

Lalu siapa yang mengajari menulis? Setiawan pun mengaku hanya belajar secara otodidak. Padahal pria kelahiran tahun 1987 ini tidak pernah mengenyam pendidikan secara formal. Selama ini dirinya diajari menulis oleh sang Ibu Komang Warsiki, 49. “Saya tidak pernah sekolah. Kalau menulis dan membaca memang diajari Ibu,” akunya.

Aktivitasnya menulis ia lakukan di rumah dengan menggunakan laptop. Saat ada mood menulis, barulah ia melanjutkan tulisannya. Buku perdananya itu ia rampungkan dalam hitungan beberapa bulan.

Sedangkan buku keduanya memakan waktu yang lebih panjang. mencapai 1,5 tahun. “Kalau buku yang kedua lebih lama. Karena memang sudah ada kumpulan kata-kata yang ditulis secara dicicil. Editing dan lay out dibantu sama teman. Saya Cuma nyetor naskah saja,” urainya.

Atas kiprahnya ini, Setiawan sempat diundang secara khusus untuk tampil di acara Kick Andy yang ditayangkan di stasiun Metro TV. Tak cukup disana ia juga pernah diundang oleh ilusionis Dedy Corbuzier dalam acara Hitam Putih di stasiun Trans 7.

Segala kisah dan perjuangannya pun dinilai menginspirasi kaum disabilitas lainnya untuk bangkit. Bahkan, dari hasil penjualan buku kumpulan kata-kata motivasi ini, Setiawan mampu membiayai kebutuhan hidup keluarganya.

Terlebih sang ayah almarhum Ketut Punia sudah meninggal sejak 3 tahun silam. Tak pelak, Setiawan menjadi tulang punggung keluarga.“Makanya penjualan buku ini sepuluh persen saya donasikan kepada penyandang disabilitas lain. Dengan harapan kami saling berbagi, saling memotivasi untuk menjalani hari-hari dengan semangat. Dari hasil jual buku ini kami bisa makan,” imbuhnya.

Senada dengan sang kakak, Kadek Windari juga tak mau berpangku tangan di tengah keterbatasan. Ia berjuang menjadi seorang seniman lukis. Karyanya bahkan laku terjual hingga ke Amerika, Australia, Inggris hingga Portugal.

Windari melukis secara otodidak. Cat dan segala bahan lukisan ia beli secara online. Lukisan yang ia jual beragam. Tergantung peminatnya. “Ada lukisan pasar, pemandangan. Tergantung pesanan. Orderannya dari media sosial seperti facebook dan instagram,” ujar Windari.

Ditanya soal harga lukisan, Windari menyebut harganya beragam tergantung ukuran. Seperti lukisan berukuran 60 x 120 cm dibanderol dengan harga Rp 3,5 juta. Sedangkan lukisan yang pernah ia jual ke luar negeri bahkan dibanderol mencapai Rp 5 juta. “Dalam sebulan kadang bisa melukis dua buah lukisan. Tergantung ukuran lukisan. Astungkara dari ini kami bisa makan,” ujar Windari.

Seperti diketahui, Windari memiliki empat saudara. Yakni  Putu Agus Setiawan, Kadek Windari, almarhum Komang Dimas Wahyu, dan Bunga Ayu Lestari. Konon, kelumpuhannya itu disebabkan oleh faktor genetik.

“Kakak saya Putu Setiawan, saya dan adik almarhum Dimas lahir di Keramas Gianyar. Namun adik kami yang ketiga sakit dan meninggal. Kemudian tahun 2001 kami bersama kedua orang tua pindah ke Desa Banjarasem. Setelah tinggal di sini adik keempat kami lahir dan astungkara normal,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia