Kamis, 22 Aug 2019
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali

Karangasem Suguhkan Pariwisata Berbasis Desa Adat

05 April 2019, 07: 10: 34 WIB | editor : I Putu Suyatra

Karangasem Suguhkan Pariwisata Berbasis Desa Adat

POTENSI: Potensi pariwisata di kabupaten Karangasem begitu hebat. Saat ini pengelolaannya sedang digenjot oleh Pemda Karangasem. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Berbicara pariwisata, Kabupaten Karangasem tak kalah menarik untuk dikunjungi. Dengan mengandalkan keindahan alamnya, kabupaten paling ujung timur Pulau Bali itu memiliki banyak objek wisata. Di bawah kepemimpinan Bupati I Gusti Ayu Mas Sumatri, Karangasem kini berusaha menyuguhkan pariwisata berbasis desa adat atau berbasis masyarakat. Desa adat digenjot menggali potensi pariwisata di masing-masing wilayahnya.

Bupati Mas Sumatri belum lama ini mengatakan, dengan konsep pariwisata berbasis desa adat, sejumlah objek wisata akan bermunculan di Karangasem. Nantinya, program ini tak hanya menguntungkan Pemkab Karangasem dari sisi Pendapatan Asli Daerah (PAD), namun juga masyarakat desa tempat objek wisata tersebut juga akan menikmati berkah pariwisata. “Karena nanti akan ada kerja sama antara pemerintah dengan desa. Jadi desa secara langsung menikmati,” ujar Mas Sumatri. Ketika objek wisata bermunculan, wisatawan yang datang ke kabupaten dengan julukan Bumi Lahar menjadi banyak pilihan.

Saat ini saja, lanjut Mas Sumatri,  sudah ada sejumlah desa yang aktif menggali potensi wisata hingga mendatangan wisatawan. Ia mencontohkan Pondok Edelweis di Dusun Temukus, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem. Meski tergolong baru, objek wisata yang dikembangkan masyarakat setempat mampu menarik perhatian wisatawan. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Wisatawan yang datang ke sana disambut hamparan bunga kasna berwarna putih. Lokasi Pondok Edelweis berada di lereng Gunung Agung. Dengan cuaca sering berkabut membuat Pondok Edelwies semakin menarik. Ditambah lagi sejumlah spot foto yang dibangun di sana membuat objek wisata itu menarik dikunjungi. “Masing-masing desa mesti tahu potensi,” jelas Mas Sumatri. Ia pun menyebutkan, selain pemadangan alam yang indah, Karangasem juga berpotensi mengembangkan wisata spiritual. Hal itu, kata Mas Sumatri, tak terlepas dari tempat suci Agama Hindu di Karangasem. Di antaranya Pura Besakih yang merupakan pura terbesar di Bali. Ada Pura Andakasa, Pura Silayukti, Pura Lempuyang. Tak sedikit pula tempat malukat yang bisa dijadikan objek wisata spiritual. “Saya contohkan Pura Lempuyang, pura yang berada di atas bukit itu sangat menarik. Dari sana bisa dilihat pemandangan yang sangat indah,” terangnya.

Sejauh ini, Pura Lempuyang memang telah menjadi daya tarik wisatawan atau lebih dikenal pesona Bukit Lempuyang. Tak sebatas keberadaan pura-nya yang membuat wisatawan memutuskan singgah ke sana. Namun juga pemandangan alamnya. Salah satu yang menjadi daya tarik wisatawan di sana adalah spot foto di gapura yang tingginya sekitar 5 meter. Wisatawan berfoto di sana bukan hanya karena ada gapura, melainkan ada latar belakang Gunung Agung. 

Saat Gunung Agung erupsi 2017, tak sedikit wisatawan maupun fotografer mengabadikan Gunung Agung erupsi dari sana. Kawasan itu tergolong jauh dengan gunung tertinggi di Bali tersebut. Lempuyang masuk zona aman. “Foto di gapura dengan pemandangan indah Gunung Agung itu tengah kami promosikan untuk menarik wisatawan,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Karangasem I Wayan Astika dihubungi terpisah.

Selain spot selfie, keberadaan Bukit Lempuyang juga dinilai tepat untuk wisata spiritual maupun trekking. Mengingat ada sejumlah pura hingga paling puncak bernama Pura Lempuyang Luhur. Untuk sampai ke puncak, menaiki anak tangga yang tak sedikit.  “Bagi wisatawan yang belum pernah ke Lempuyang, ayo,” ajaknya. Saat ini biaya masuk ke sana masih berupa donasi yang masuk ke desa adat.

Selain Pesona Bukit Lempuyang, Astika menyebutkan sudah banyak desa wisata bermunculan. Itu merupakan ide kreatif masyarakat di desa setempat. Pariwisata berbasis desa adat atau masyarakat ini sebagai upaya memberdayakan masyarakat, membangun kesadaran masyarakat menggali potensi pariwista. Apalagi berdasarkan Keputusan Bupati Karangasem Nomor 658/HK/2014 tentang Desa Wisata di Karangasem, ada 20 desa wisata. “Desa harus terus menggali potensi wisatanya,” ujar Astika. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia