Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Features

Curhat Disabilitas: Ingin Nangkil ke Pura-Pura Besar, tapi Akses Sulit

06 April 2019, 08: 16: 15 WIB | editor : I Putu Suyatra

Curhat Disabilitas: Ingin Nangkil ke Pura-Pura Besar, tapi Akses Sulit

SPIRITUAL: Difabel seperti Dayu Wiadnyani menginginkan jalur akses masuk pura yang lebih mudah bagi difabel. (NI KETUT ARI KESUMA DEWI/BALI EXPRESS)

Share this      

KEINGINAN pemedek umat Hindu untuk menghaturkan sembah di pura tidak selamanya bisa diakses. Salah satunya seperti yang diutarakan oleh Ida Ayu Wiadnyani Manuaba, seorang penyandang disabilitas (atau difabel). Ditemui Bali Express Jumat (5/4) siang kemarin di kantornya, ia menceritakan untuk bisa beribadah ke pura, diperlukan usaha yang lebih.

“Jarang ya yang sudah memfasilitasi ram (jalur, Red). Mungkin memang seperti itu ya desain Pura kita. Alangkah baiknya dibuatkan akses landai bagi teman difabel,” tambah staf finance dan manajer administrasi di Puspadi ini.

Pengalamannya beribadah ke pura masih lebih ringan jika dibandingkan dengan pengguna kursi roda. “Saya bisa sih naik tangga, tapi harus dipapah. Tidak mengenakan sebenarnya karena harus dipapah dan didorong dari belakang. Rasa ketika didorong itu risih dan minder,” keluhnya. Ia mengatakan pengalamannya saat dibantu oleh orang asing dengan tujuan baik belum tentu membuatnya nyaman. “Kita wanita kalau dipegang orang lain kan risih,” tambahnya. Masyarakat atau teman adalah pihak yang sering membantu.

Dayu saat wawancara juga menjelaskan pengalaman temannya yang aktif menggunakan kursi roda. “Selama ini teman pengguna kursi roda merasa tidak aman saat kursi rodanya diangkat ramai-ramai oleh relawan. Takut jatuh atau gimana. Saya pernah ke Pura Desa juga nasibnya sama. Mungkin  karena arsitekturnya. Harus dipapah dan risih juga sih,” ujarnya.

Tidak semua pura menyiapkan pemedalan yang berisi ram landai. “Tidak hanya di pura sih, di tempat ibadah lainnya juga belum banyak akses. Kalau masalah penerimaan masyarakat, tidak ada masalah,” tambahnya di sela istirahat.

Dayu memiliki keinginan besar untuk sembahyang ke pura yang ada di Bali. Misalnya, Pura Lempuyang. Ia juga mengatakan bahwa ingin sekali untuk sembahyang ke pura-pura tapi akhirnya keinginannya dibatalkan karena melihat tidak adanya akses dan terlihat tangga yang banyak serta tinggi.  Hal tersebut dianggapnya menyulitkan sehingga kalau ia hendak ke pura harus ada pendamping.

Untuk masuk ke areal pura, Dayu membutuhkan bantuan lebih kurang dua orang. Satu untuk memegangnya dari samping dan satu lagi bertugas mendorong dari belakang. “Kaki saya lemas satu, hanya satu kaki yang kuat. Tangan saya juga lemas. Jadi tangan harus ada pegang dan lainnya dorong dari belakang,” cerita tentang pengalamannya.

Jika ingin membantu difabel, ia menyarankan masyarakat harus bertanya dahulu kebutuhannya difabel di bagian mana. Ketika membantu teman difabel, harus ada etikanya juga. “Dulu sih dicengkram langsung. Banyak yang tidak tanya bagaimana cara membantu. Tanya dulu agar kami tidak merasa risih. Selain itu, pengalaman seperti itu juga saya alami ketika pergi ke bank. Tiba-tiba ada sekuriti yang memapah saya. Saya merasa kaget dan takut,” ujarnya.

Ia berharap agar suatu hari nanti semua tempat sembahyang yang ada di Bali bisa akses. “Tidak harus mengubah konteks arsitektur, tetapi bagaimana membuat solusi kepada difabel dengan tetap mempertahankan konteks mereka,” tambah Dayu. Pengguna kursi roda aktif yang tangannya kuat, masih bisa jumping 3—4 tangga yang tidak terlalu tinggi. Sementara, bagi pengguna kursi roda yang tangannya tidak terlalu kuat, mereka tidak bisa mengaksesnya. Ia sangat mengharapkan arsitektur pura di Bali ada ram landai.

Pengetahuan masyarakat tentang teori membantu difabel dianggapnya belum tersosialisasi dengan baik. “Kalau di Besakih misalnya kan bisa ngasi pembekalan dulu sebelumnya kepada pecalang. Pembekalan itu penting jika belum disediakan akses,” sarannya. Tidak berbeda dengan yang disampaikan I Wayan Sukarmen salah satu anggota Yayasan Cahaya Mutiara Ubud. Ia membagikan pengalamannya saat sembhayang di pura.

Sebagai pengguna kursi roda aktif, ia mengungkapkan sejauh ini belum ada pura yang akses untuk pengguna kursi roda. “Yayasan sering tangkil ke pura, biasanya ada sukarelawan. Mereka ada untuk memberi bantuan mengangkat kursi roda saat akan naik tangga,” tambah murid SMK Negeri 1 Mas Ubud. Ia berharap agar pura di Bali ada ram yang landai. “Kasian relawan yang bantu. Harus bolak-balik bantu kami. Untuk mengangkat saya dan kursi roda dibutuhkan 3 hingga 4 orang. Apalagi relawan sedikit, mereka bolak-balik bantu kami semua,” ujarnya kepada Bali Express.

Ia juga menceritakan pengalamannya saat kecil yang kurang menyenangkan. “Dulu saat semua keluarga saya ngayah ke Pura Desa, saya ditinggal sendiri hingga malam. Saya mau nyusul, tapi nanti kalau sudah sampai sana tetap bisa bergabung karena tidak akses dan juga tidak ada yang mendampingi,” curhatnya. Harapannya ke depana agar pura-pura besar khususnya di Bali bisa akses. “Setidaknya akses yang bisa dijangkau,” tutupnya.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia