Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features

Rumah Hancur Akibat Gempa Tahun Lalu, Surata masih Numpang

07 April 2019, 18: 42: 51 WIB | editor : I Putu Suyatra

Rumah Hancur Akibat Gempa Tahun Lalu, Surata masih Numpang

HANYA DAPUR: Dapur milik Nengah Surata, warga Dusun Bubung, Desa Suter, Kintamani, masih tersisa di kala rumahnya hancur akibat gempa Lombok pada Agustus 2018. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Nengah Surata, warga Dusun Bubung, Desa Suter, Kintamani ini larut dalam kesedihan berkepanjangan. Gempa bumi yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat, Agustus 2018 membuat rumahnya hancur. Rumah yang baru ia tempati dua tahun itu adalah bantuan bedah rumah pemerintah Provinsi Bali senilai Rp 30 juta. 

Tak disangka, meski gempa tak terjadi di Bali, efeknya cukup terasa. Rumah yang dibangun Pemprov Bali pada 2016 lalu itu luluh lantak. Bangunan serta atap runtuh seketika. Beruntung saat itu mereka sedang menginap di rumah orangtuanya yang tak jauh dari lokasi. Surata beserta istri dan anaknya lolos dari maut. 

Mirisnya lagi, rumah berukuran 6,5 x 5,5 itu hanya terdapat satu kamar tidur dan ruang tamu. Dulunya, sang ibu, Nengah Kari, 70, yang menempati kamar. Sementara Surata, istri, dan anaknya tidur di ruang tamu.

"Sedih sudah pasti. Dulunya rumah saya cuma dinding anyaman bambu. Sudah senang dapat bantuan, tapi sekarang begini," tutur Surata, ketika ditemui Minggu siang (7/4) di kediamannya.

Terpantau, kondisi Surata cukup memprihatinkan. Bangunan miliknya tak tersisa. Hanya dapur berdinding terpal biru dan beratap asbes, satu-satunya bangunan yang masih kokoh berdiri. Surata bingung, anak keduanya kini beranjak tumbuh. Tapi mereka tak punya tempat tinggal yang layak, terutama fokus merawat si jabang bayi.

Pascabencana, pria yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat keranjang jeruk itu sementara menginap di rumah sang ibu. Sebab, dia masih menunggu persetujuan permohonan bedah rumah kembali oleh Pemerintah Provinsi Bali. Dirinya berharap agar bisa kembali mendapatkan bantuan bedah rumah dari pemerintah. "Sudah saya lapor ke Perbekel diteruskan ke BPBD Bangli," imbuhnya.

Tak hanya Surata, empat dari lima rumah bantuan program bedah rumah Pemprov dilaporkan mengalami kerusakan. Tapi rumah Surata yang paling parah. Jika ditotal ada 16 rumah yang terdampak gempa Lombok 2018 lalu.

Perbekel Desa Suter, I Nyoman Nyepek mengaku sudah melaporkan sejumlah dampak bencana akibat gempa itu serta memohon bantuan bedah rumah ke Dinas Sosial Provinsi Bali. Hanya saja, hingga kini permohonan tersebut belum ada tindak lanjut. "Dari pihak Dinas Sosial Provinsi Bali sudah sempat turun meninjau langsung, dan pihaknya diminta untuk melengkapi proposal," ungkap Nyoman Nyepek.

Tak hanya rumah, sejumlah pura seperti Pura Pasek dan Pura Tuluk Biu juga mengalami kerusakan. Bangunan suci warga, subak, maupun balai banjar tak luput digoncang gempa. Bagi Nyepek, jika dibandingkan dengan kerusakan rumah-rumah, bangunan milik Sukarta yang paling parah. "Diperkirakan total kerugian mencapai miliaran," pungkas Nyepek.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia