Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Panen Raya, Harga Manggis di Tingkat Petani Terjun Bebas

07 April 2019, 19: 18: 04 WIB | editor : I Putu Suyatra

Panen Raya, Harga Manggis di Tingkat Petani Terjun Bebas

PANEN RAYA : Buah manggis yang baru dipanen Minggu (7/4). (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN – Sejumlah petani manggis di Tabanan, khususnya di Kecamatan Pupuan hanya bisa gigit jari. Pasalnya harga manggis saat ini tengah terjun bebas.

Salah seorang petani manggis asal Banjar Sasahan, Desa Bantiran, Kecamatan Pupuan, Tabanan, Komang Suarsana membenarkan perihal harga manggis yang saat ini tengah terjun bebas.  Dimana harga untuk manggis yang masuk dalam kualitas ekspor turun dan berada di level Rp 8.000 per kilogram hingga Rp 11.000 per kilogram saat ini. Sedangkan untuk kualitas manggis di pasar lokal berada dikisaran Rp 5.000 per kilogram hingga Rp 7.000 per kilogram. "Memang menurun saat ini harganya," ujarnya Minggu (7/4).

Menurutnya kondisi harga manggis baik itu untuk pangsa pasar ekspor maupun manggis untuk pangsa pasar lokal, sama-sama mengalami penurunan yang cukup drastis, sehingga membuat oetani gigit jari.  Karena sebelumnya untuk manggis dengan kualitaa penjualan ekspor, harganya bisa mencapai Rp 30.000 ribu per kilogram pada Februari 2019 lalu. "Nah sejak masuk April 2019 ini harga manggis di tingkat petani rata-rata mulai mengalami penurunan dan terjadi hingga saat ini,” lanjutnya.

Kata dia, penyebab turunya harga jual manggis di tingkat petani ini karena terjadi panen manggis di Thailand pada waktu yang sama. Dimana Thailand merupakan Negara pemasok ekspor untuk Tiongkok. Maka dari itu masuknya produksi manggis dari Thailand membuat pasokan manggis dari Indonesia, termasuk Bali menjadi berkurang ke Tiongkok karena kalah saing, sehingga jumlah produk manggis di dalam negeri menjadi berlimpah.

Atas kondisi tersebut, petani akhirnya mau tidak mau terpaksa mengobral hasil produksi manggis sekarang ini. Bahkan kualitas manggis yang biasanya masuk untuk mengisi kuota ekspor, sekarang ini terpaksa turun kelas dengan masuk kepasar lokal. "Jadi saat ini salah satu solusi di petani adalah melempar ke pasar lokal. Terpenting bagi saya hasil produksi atau buah manggis ini ada yang beli. Itu saja, saya sudah bersukur,” imbuhnya.

Di sisi lain apabila manggis itu dipaksakan untuk tetap masuk ke pasar ekspor, maka dengan nilai jual tidak akan maksimal, ditambah dengan biaya distribusi untuk ekspor yang juga tidak murah, sehingga akan kurang menguntungkan. Itu pula yang akhirnya juga membuat sejumlah perusahaan ekspor manggis yang ada di Pupuan, ada yang masih beroperasi, dan ada yang sudah menutup sementara usahanya.

“Sebelumnya saat harga manggis masih mahal, jumlah eksportir manggis di Pupuan mencapai belasan. Kini seiring dengan anjloknya harga, jumlah eksportir ini hanya tinggal empat yang masih oprasional dan itu pun serapannya hanya mencapai 300 keranjang per eksportir per hari. Itu sesuai kuota yang dijatah,” paparnya.

Disamping itu, upaya lain yang dilakukan guna menopang harga jual manggis agar tidak anjlok lebih dalam lagi adalah beberapa hasil produk manggis ada yang dilempar untuk antarpulau. Sayangnya, untuk perdagangan antarpulau ini juga tidak banyak membantu, karena untuk daerah lain seperti Jawa Barat, dan Banyuwangi juga sedang memasuki musim panen manggis, sehingga harga jual manggis produksi Pupuan tidak banyak selisih harga untuk perdagangan antarpulau saat ini.

Saat ini rata-rata produksi manggis bisa mencapai 10 ton per hari, belum lagi di tambah dengan produksi manggis ditingkat pengepul yang jumlahnya ada 15, sedangkan masing-masing pengepul bisa berproduksi hingga 2 ton per hari.

Hal serupa diungkapkan, Ketut Alit Dwiyasa, petani manggis Desa Belatungan, Pupuan. Dirinya mengatakan, saat ini merupakan musim panen untuk tanaman manggis. Dimana saat ini kondisi buah manggis lebih baik daripada panen Desember lalu. Sebab, pertumbuhan buah didukung oleh cuaca yang diselingi oleh hujan dan tidak panas terus menerus.

“kalau panen Desember lalu cuacanya panas, sehingga banyak buah yang kualitasnya turun dan tidak memenuhi syarat ekspor,” ungkapnya.

Sayangnya, seiring dengan membaiknya kualitas hasil pada musim panen saat ini, tidak dibarengi dengan bagusnya harga jual untuk buah kualitas super. "Semoga pemerintah bisa membantu menyikapi masalah harga buah manggis ini, mengingat petani manggis sudah berusaha dalam hal pengelolaan kebun sesuai SOP, namun sayang ketika panen harganya kurang menguntungkan," harapnya.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia