Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features

Sukanta, Satu-satunya Seniman Ukir Telur di Bangli

07 April 2019, 19: 29: 09 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sukanta, Satu-satunya Seniman Ukir Telur di Bangli

MESTI HATI-HATI: Nyoman Sukanta kala mengerjakan pesanan kulit telur, di rumahnya di Banjar Pande, Kelurahan Cempaga, Kecamatan Bangli, beberapa waktu lalu. (SUKANTA FOR BALI EXPRESS)

Share this      


BALI EXPRESS, BANGLI - Sebagai satu-satunya seniman ukir telur di Bangli, I Nyoman Sukanta, 57, tak mau besar kepala saat karyanya melanglang buana hingga ke manca negara. Berkat jerih payahnya, staf Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bangli itu pernah merasakan megahnya Istana Negara di Jakarta pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, Januari 1996.

Sukanta mewakili Bali dalam ajang pameran karya nasional se Indonesia pada 1996. Dia semula tak lolos begitu saja. Sukanta harus bersaing dengan beberapa seniman dari kabupaten lainnya di Bali. Pada ajang itu, dia berkesempatan bertemu mendiang Ibu Negara Raden Ayu Siti Artinah atau Ibu Tien Soeharto. Sukanta menjelaskan bagaimana proses awal pengerjaan kulit telur itu hingga bisa berbentuk relief. Momen itu, bagi Sukanta, terasa istimewa.

Kepiawaian Sukanta mengukir kulit telur tidak turun begitu saja. Mendiang Ayahanda, I Nyoman Tangap terkenal pelit ilmu. Bukan tanpa sebab. Bahan bakunya tergolong langka. Ayahnya pun tidak berani memberikan kesempatan ke Sukanta belajar mengukir kulit telur. Sukanta mesti mencuri kesempatan agar dapat mengukir kulit telur kepunyaan ayahnya itu. 

"Itu tahun 1976 saya masih SMP baru belajar. Pemesan yang bawa bahannya. Ayah saya hanya mengukir saja. Entah dari mana dapat bahannya. Yang jelas kalau pecah kan bisa gawat, mau cari bahan di mana lagi," ucap Sukanta, Minggu siang (7/4). 

Ilmu soal ukir-mengukir baru dia dalami ketika masuk Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Udayana (kala itu). Padahal sebelum masuk kuliah, Sukanta sempat menimba ilmu di Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Anehnya, dia tak terjun belajar mengukir, melainkan hanya memperdalam ilmu seni rupa. "Tapi syukur ada kaitannya. Bikin pola itu kan dasarnya seni rupa, jadi tidak sulit," aku ayah dari tiga anak itu.

Selepas kuliah, dia mulai mengukir kecil-kecilan. Namun semakin hari banyak orang yang tahu, Sukanta mahir mengukir telur. Mulailah order masuk pada dirinya. Sambil menyibukkan diri sebagai staf di Disdikpora Bangli sejak 1992, Sukanta tetap nyambi mengukir pesanannya di bengkel kerjanya di Banjar Pande, Kelurahan Cempaga, Bangli.

Peminatnya tak sedikit dari luar negeri. Mereka membawa bahan sendiri, Sukanta cuma mengukirnya saja. Kata dia, tak sembarang telur bisa diukur. Selain mempertimbangkan kualitas bahan, aspek nilai dan artistik jadi alasan penggunaan telur kaswari hingga telur unta jadi media. "Tapi bukan saya yang punya bahannya," tegasnya lagi.

Dia mengaku mengerjakan ukiran telur lebih cepat dari mendiang ayahnya. "Tapi butuh kesabaran juga. Saya sudah tiga kali pecahkan pesanan, rugi waktu dan biaya. Ongkos terpaksa saya gratiskan anggap ganti rugi," ungkapnya.

Dulu, ongkos sekali ukir dibayar Rp 150 ribu. Kini kata Sukanta mencapai Rp 2 juta. Pengerjaan butuh waktu sebulan tanpa jeda. Agar tidak tertipu pelanggan, dia menerapkan sistem jemput bola. Ketika pesanan datang, dia yang jemput bahan dan mengantarkan hasilnya. "Soal pembayaran uang muka saya enggak. Tidak ada semangat kerja ketika uang muka sudah habis dipakai. Mending saya minta bayaran total di akhir," ketusnya.

Saking banyaknya pesanan ke luar negeri, Sukanta khawatir karyanya bisa-bisa diklaim negara lain. Berangkat dari kecemasan itu, Sukanta mendaftarkan karyanya. Dua karyanya berjudul "Mahabarata" dan "Ramayana" resmi terdaftar dan diabadikan dalam Surat Pencatatan Ciptaan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM), Februari 2016 lalu.

Sebagai seniman, dia mengaku bangga karena bisa mengharumkan nama daerahnya Bangli di kancah nasional maupun internasional. Terlebih Sukanta adalah seniman yang punya ciri dan karakter berbeda dari seniman kebanyakan. Dia berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal dia dan mengapresiasi karya-karyanya. "Saya seniman ukir. Tapi seberapa banyak seniman ukir telur sekarang di Bali? Ini yang mesti diperhatikan pemerintah bahwa Bali punya aset yang tak ternilai," pungkas Sukanta.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia