Minggu, 26 May 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Harga Tembus Rp 350 Ribu, Palora Equador Masih Langka Dibudidayakan

07 April 2019, 20: 39: 49 WIB | editor : I Putu Suyatra

Harga Tembus Rp 350 Ribu, Palora Equador Masih Langka Dibudidayakan

MAHAL: Pohon Buah Naga Palora Equador yang ditunjukkan I Made Arnaja, di kebunnya seluas 1,5 hektare di Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, KUBUTAMBAHAN - Budidaya Buah Naga jenis Palora Equador sangat menjanjikan. Buah naga berwana kuning kehijauan ini masih tergolong langka dibudidayakan. Saking langkanya, harganya pun sangat fantastis. Bahkan tembus Rp 325 sampai Rp 350 ribu saat dijual di minimarket.

Seperti yang dikembangkan petani asal Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng I Made Arnaja, 69. Pria pensiunan Notaris ini sudah mengembangkan Buah Naga Palora Equador sejak tahun 2016 lalu.

Buah jenis kaktus ini ia kembangkan di lahan seluas 1,5 hektar di sebelah rumahnya. Jumlahnya mencapai 297 pohon. Namun di lahan itu, Arnaja tidak sepenuhnya menanami dengan Buah Naga Palora. Melainkan jenis tanaman buah lainnya. Seperti Durian, Jeruk Dekofon, Lemon California, Pepaya, Jambu dan tanaman buah lainnya.

Secara fisik, tampilan buah Naga Palora memiliki perbedaan dibandingkan dengan buah naga warna merah dan putih. Dimana untuk ukuran, buah naga Palora memiliki berat rata-rata mencapai 400 gram, atau lebih besar dari buah naga merah maupun putih. Dalam sekilo bisa memuat hingga dua sampai tiga biji Palora.

Perbedaan juga terlihat dari kulit buah. Untuk buah naga Palora kulitnya masih berduri. Sedangkan buah naga biasa tak ada durinya. Sehingga saat dipanen wajib menggunakan sarung tangan dan gunting agar tangan tak tertusuk durinya yang tajam.

Kendati memiliki harga jual yang fantastis, namun Buah Naga Palora Equador ini sudah memiliki pangsa pasar khusus. Bahkan pemasarannya sudah diserap di sejumlah minimarket di Denpasar.

“Harganya di minimarket Buah Naga Palora sampai Rp 325 ribu sampai Rp350 ribu. Kenapa mahal? Ya dari sisi rasa memang jauh lebih manis, selain itu masih langka yang membudidayakan,” ujar Araja belum lama ini.

Lebih lanjut Arnaja mengungkapkan, kandungan antioksidan Buah Naga Palora juga diklaim tertinggi bila dibandingkan dengan buah naga jenis lainnya. Ia meyakini,tingginya kandungan antioksida ini menjadi pertimbangan mengapa buah ini sangat diburu untuk menjaga kesehatan tubuh.

“Antioksidannya tinggi sekali. Paling tinggi dibandingkan dengan buah naga jenis lainnya. Kalau dimakan buah ini, sistem pencernaan menjadi sangat lancar. Bisa rutin ke belakang,” selorohnya.

Lalu apakah ada perawatan khusus dibanding buah naga jenis lainnya? Arnaja memastikan tidak ada perawatann khusus. Pria kelahiran 28 Oktober 1950 ini menyebut budidaya buah jenis ini sama persis seperti buah naga lainnya.

Dimana pemupukan dilakukan secara berkala dengan pupuk cair organik. Sedangkan untuk menjaga dari serangan hama, pestisida kimia juga dibutuhkan secukupnya bila ada hama yang mengganggu tanaman.

 “Ya kami belum 100 persen organik. Baru pupuk cair yang sudah organik. Masih ada beberapa perawatan yang menggunakan kimia. Kalau ada hama baru pakai pestisida, sesekali saja. Tetapi rencana akan mengarah kesana (organik, Red)” bebernya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Soal masa panen, Arnaja mengaku jika buah gurun ini tak memiliki musim. Bahkan cenderung bisa dipanen sepanjang tahun. Sebab satu pohon bisa berbuah secara bergiliran. Dalam setahun, Arnaja mampu memanen hingga 800 kilogram buah Palora.

“Biasanya berbuahnya nyambung terus. Ada yang masih hijau, ada yang sudah mulai menguning, ada yang siap panen. Makanya kalau dikalkulasi dalam setahun bisa panen 800 an kilogram,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia