Minggu, 26 May 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Beji Pura Dalem Kawi Diyakini Bisa Sembuhkan Penyakit Kulit

08 April 2019, 08: 37: 19 WIB | editor : I Putu Suyatra

Beji Pura Dalem Kawi Diyakini Bisa Sembuhkan Penyakit Kulit

PANCURAN : Kelihan Adat Banjar Kutuh, Desa Sayan, Ubud Gianyar, I Ketut Parsa menunjukkan areal malukat di Beji Pura Dalem Kawi, Dukuh, Banjar Kutuh, Desa Sayan, Ubud, Gianyar. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, GIANYAR - Beji atau sumber mata air yang disucikan, tak jarang punya fungsi khusus, selain sebagai tempat ritual bagi umat di Bali. Seperti tempat malukat Asta Gangga di Beji Pura Dalem Kawi, Dukuh, Banjar Kutuh, Desa Sayan, Ubud, Gianyar, yang diyakini bisa sembuhkan berbagai penyakit kulit.

Beji Pura Dalem Kawi diapit oleh Sungai Yeh Ayung dengan Sungai Yeh Lauh, yang membatasi Kecamatan Ubud dengan Kecamatan Abiansemal, Badung. Lokasinya tidaklah sulit. Dari Pusat Kota Gianyar hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit ke lokasi, menuju arah barat hingga sampai di perempatan Tebongkang, Singakerta, selanjutnya ke Utara sekitar  satu kilometer. Tepat di Utara Kantor Desa Sayan, ada gang pertama masuk ke kiri. Tinggal ikuti jalan tersebut, dan dalam perjalanan akan menyebrang sungai Yeh Lauh untuk selanjutnya  akan sampai di jaba Pura Beji Dalem Kawi, Banjar Kutuh Sayan, Ubud.

Kelihan Adat, Banjar Kutuh, Desa Sayan, I Ketut Parsa menjelaskan kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), pekan kemarin,  Beji tersebut sudah ada sejak leluhurnya zaman dahulu. “Beji ini selain digunakan untuk mata air di sini, juga diyakini sebagai tempat nunas (mohon) pembersihan secara sekala dan niskala. Bahkan, ada juga yang menyebutnya bisa menyembuhkan penyakit kulit,” paparnya.

Dijelaskannya, areal Beji terbagi atas tiga mandala, yakni nista mandala (halaman luar), madya mandala (halaman tengah), dan utamaning mandala (halaman dalam).  Pada nista mandala terdapat beberapa pancuran yang bisa dimanfaatkan masyarakat setempat mencari air minum. Selain itu, ada juga tempat khusus untuk tempat mandi yang sudah dikurung menggunakan beton.

“Pada jaba sisi ini juga  terdapat sebuah palinggih yang difungsikan prosesi Ngening (rentetan Ngaben) saat mencari tirta pasca upacara di kuburan. Memang dari turun temurun di sini dilakukan Ngening,” terangnya.

Dahulu tepat di Utara Beji, lanjutnya,  ada namanya Tirta Gentuh, yang juga menjadi
tempat malukat pada zaman itu. Tirta Gentuh juga diyakini bisa menyembuhkan penyakit kulit.
"Kemungkinan saat ini Beji tersebut aliran tirtanya juga mengandung Tirta Gentuh, sehingga kini bisa juga sebagai penyembuh penyakit kulit," urainya. 

Pancuran tempat malukat  tersebut terdapat pada areal jaba tengah Beji. Dikatakan Parsa, ada delapan pancuran yang memiliki beberapa khasiat masing-masing. Namun, semuanya kembali lagi dengan kepercayaan dan keyakinan yang melakukan panglukatan. Delapan pancuran itu mempunyai nama-nama dewa yang  fungsinya  dianggap untuk membersihkan cakra yang ada dalam tubuh seseorang. “Tidak harus semuanya digunakan malukat, disesuaikan dengan keinginan,” terangnya.


Di utamaning mandala, lanjut Parsa, terdapat sebuah tirta yang disebut dengan Tirta Sudamala.
Setiap piodalan di pura maupun merajan warga, tirta tersebutlah dimohon untuk digunakan saat piodalan. Tirta Sudamala memang dikhususkan untuk menyelesaikan upacara yang bersifat ke luhur oleh leluhurnya terdahulu.


Disinggung sarana yang digunakan malukat, Parsa  menjelaskan hanya cukup menghaturkan canang ataupun pajati, dan sesuaikan dengan kemampuan. Tidak ada paksaan harus menggunakan sesajen khusus, lanjutnya, karena yang  terpenting adalah niat dalam melakukan panglukatan.


“Posesnya hanya menghaturkan canang pada palinggih di depan, kemudian langsung malukat menggunakan kamben. Setelah malukat diganti dengan pakaian dan kamben yang kering. Setelah itu, dilanjutkan dengan  sembahyang menuju utamaning mandala,  bisa dihaturkan sendiri maupun pemangku,” ungkapnya.


Dikatakannya, selain digunakan untuk mandi, air minum, malukat, dan untuk ke luhur, di  Pura Beji juga sebagai tempat nunas kesembuhan. Bahkan, beberapa waktu lalu, lanjutnya, ada salah satu warga yang  sakit parah. Kemudian ia nunas ica (berdoa) di areal Beji untuk mengadu dan pasrah dengan sakit diderita yang sudah bertahun-tahun. “Dia mohon  bila harus  meninggal, ia memohon agar  segera  diakhiri hidupnya. Kalau  diberi kesembuhan, agar  diberikan kesembuhan. Seperti itu doanya, dan orang bersangkutan lantas sembuh dan masih hidup sampai saat ini. Semua itu terjadi dan kembali lagi ke keyakinan diri sendiri,” jelas Parsa.


Ia menambahkan, terkait khasiat panglukatan merupakan sugesti dari masyarakat yang datang. Pasalnya, pada awalnya ia berharap agar Beji tersebut lebih dipamahi oleh masyarakat setempat dan di Desa Sayan pada khususnya, untuk melestarikan sumber mata air yang ada.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia