Jumat, 24 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Mengaku Dijebak, Polisi Sarankan Ketua Kadin Laporkan Anak Pastika

12 April 2019, 16: 27: 19 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mengaku Dijebak, Polisi Sarankan Ketua Kadin Laporkan Anak Pastika

AA Alit Wira Putra (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Dir Reskrimum Polda Bali Kombespol Andi Fairan menyarankan bahwa tersangka Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali AA Alit Wira Putra bersedia melaporkan pihak yang disebut menjebaknya dalam kasus Penipuan dan Penggelapan. Saran tersebut diberikan sebagai tanggapan atas pernyataan Alit yang sempat dilontarkan saat tersangka digiring ke Rutan Mapolda Bali Kamis (11/4) sore. Alit sendiri terseret ke jalur hukum atas laporan korban Sutrisno Lukito Disastro yang berawal dari kesepakatan bisnis pelebaran Kawasan Pelabuhan Benoa seluas 400 hektare tahun 2012 lalu.

Sebelumnya tersangka mengaku ditumbalkan oleh anak mantan Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang Sandos dalam hal pengurusan izin prinsip dan rekomendari Gubernur senilai Rp 16 miliar. Hingga kemudian juga menyeret nama Made Jayantara dan Candra Wijaya yang hingga berita ini ditulis status ketiganya masih sebagai saksi.

“Yang ada, faktanya yang bekerja sama kan antara korban dan tersangka. Faktanya demikian. Jadi kalau Agung Alit merasa ditipu dan dikorbankan, laporkan siapa dia! Kami dengan tangan terbuka menerima laporan itu dan akan kami proses. Karena Kapolda Bali dan jajarannya menghindari pameo mengatakan bahwa tajam ke bawah tumpul ke atas. Kapolda Bali dan jajaranya tajam ke atas terhadap pelaku-pelaku white colour crime, tajam ke bawah bagi premanisme dan pelaku-pelaku narkoba. Itu yang ingin kami sampaikan. Sekali lagi Kapolda Bali dan jajarannya tajam ke atas dan tajam ke bawah,” tegasnya.

Sementara tersangka masih ditahan 20 hari mendatang di Rutan Mapolda Bali, Dit Reskrimum Polda Bali akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kasus ini. Meskipun Andi Fairan sendiri tampak belum berani menyatakan bakal adanya tersangka baru lagi atas ocehan Alit usai diperiksa Kamis lalu.

Baginya, saat ini tersangka ya masih cukup Alit lantaran bukti-bukti yang didapatkan pihak kepolisian menunjukkan tersangka bertindak dan bertanggung jawab sendirian atas surat kesepakatan yang dibuatnya dengan korban dalam kesepakatan bisnis PT BSM. Selain itu, korban hanya menuntut kepada tersangka dalam laporan yang dibuatnya 20 April 2018 lalu. “Karena hanya memang di antara mereka yang membuat perjanjian. Untuk ke depannya jika ada perkembangan kita lihat sendiri. Kami akan tetap kembangkan kasus ini,” tegasnya.

Apakah aliran dana yang diberikan korban kepada tersangka, ada digunakan untuk kepentingan yang lain juga masih di dalami. Lantaran dalam perjanjian dana operasional Rp 30 miliar dalam kerjasama ini hanya untuk mendapatkan Persetujuan Prinsip dari Gubernur. Tapi baru Rp 16 miliar digelontorkan, rekomendasi dari Gubernur itu tidak keluar. Sehingga korban menghentikan kerja sama dengan tersangka.

Aliran dana Rp 16 miliar ini juga masih didalami. Lantaran fakta yang didapati ternyata pengajuan untuk mendapatkan Ijin Prinsip dari Gubernur ini pun telah berporses. “Ternyata berproses ada surat PT BSM ke Bappeda. Kemudian Bappeda melakukan kajian internal dan segala macam. Sampai PT BSM itu mendapat persstujuan rekomendasi dari gubernur. Artinya sudah mendapat keputusan politik dari DPR untuk menyetujui PT BSM untuk mendapatkan rekomendasi Gubernur sebanyak 400 hektar di kawasan pembangunan. Ketika akan menjadi Rekomendasi Gubernur itu tidak terjadi. Itu yang kami dapatkan,” ucapnya.

Adanya pengakuan Alit dana tersebut mengalir kepada tiga tersangka, Fairan masih mendalaminya. Pihaknya pun antisipasi jangan sampai dana tersebut rupanya hanya mengalir ke kantong Alit. Sementara Alit mengaku aliran dana Rp 16 miliar dengan mengatasnamakan orang-orang itu (dalam hal ini Sandos, Jayantara dan Candra). Ataukah justru nantinya fakta baru yang akan ditemui memang ada yang bergeser untuk proses mendapatkan perijinan tersebut. “Jika ada ditemukan akan kami tindak lanjuti,” imbuhnya.

Atas pengakuan Alit tersebut, Andi Fairan mengakui belum melakukan kroscek apakah dana yang mengalarir dari pihak tersangka juga mengalir ke orang lain dalam proses pembuatan surat.  Karena dalam surat perjanjiannya hanya tersangka yang menyanggupi membuat ijin. Misalnya membuat kerjasama dengan Pelindo, Alitlah yang menyanggupi. Perijinan AMDAL pun Alit yang menyanggupi serta ijin-ijin lainnya.

“Izin-izin semua dia yang menyanggupi. Masalahnya apakah dia punya tim-tim yang lain. Kami masih melakukan pendalaman terkait itu. Kalau misalnya nanti dana yang mengalir itu untuk mendapatkan ijin, kemungkinan akan ada tersangka lain. Artinya dana yang digelontorkan itu tidak bisa mendapatkan ijin. Berarti kan disitu ada penggelapan. Mungkin ya. Sementara ini cukup dia karena dia bertanggung jawab atas diri sendiri. Mungkin minggu depan berkas sudah tahap satu ke kejaksaan,” tandasnya.

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia