Sabtu, 07 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Jero Sedaan, Wanara Duwe Pura Pulaki, Penting Perhatikan Tips Nangkil

12 April 2019, 16: 44: 10 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jero Sedaan, Wanara Duwe Pura Pulaki, Penting Perhatikan Tips Nangkil

NANGKIL: Saat nangkil ke Pura Pulaki di Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng perlu memperhatikan beberapa tips penting supaya terhindar dari gangguan wanara duwe. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Nangkil ke Pura Pulaki, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, senantiasa memberikan kenangan spiritual tersendiri. Bagaimana tidak, begitu sampai di pura yang berlokasi di pinggir pantai, ini, kawanan kera duwe yang nakal kerap mengganggu para pamedek yang tangkil. Bahkan, sesajen para pamedek sering menjadi sasaran.
Saat mulai menginjakkan kaki ke Pura Pulaki, kawanan kera (wanara) yang berada di sekeliling pura tak jarang langsung mendekati pamedek. Kawanan kera ini seolah mengintip setiap gerak langkah para pamedek yang hendak masuk ke jeroan pura.

Jika lengah, bisa saja sesajen maupun canang akan ‘dibegal’ oleh kawanan kera ini. Sudah pasti, jika berhasil diambil, pamedek hanya bisa gigit jari. Mereka tak bisa menghaturkan sesajen lantaran sudah dibawa lari kawanan kera itu.

Demi kenyamanan pamedek yang tangkil, areal Utama Mandala Pura Pulaki sudah dibentengi oleh pagar besi. Pemagaran  keliling itu dilakukan sejak dua tahun silam. Praktis, kawanan kera nakal ini tak bisa beraksi mengganggu kekusyukan pamedek saat bersembahyang. “Kalau pemagaran di areal Jaba Pura dilakukan sejak dua tahun lalu. Memang tujuannya untuk memberikan kenyamanan kepada pamedek. Ya selama ini gerombolan kera itu sifatnya suka mencuri sesajen, kalau melukai pamedek sih jarang,” ujar Pemangku Pura Pulaki Jro Mangku Made Putra kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) saat nangkil, Kamis (11/4).

Jro Mangku Made Putra pun memberikan sebuah tips bagi pamedek yang ingin tangkil ke Pura Pulaki. Agar terhindar dari ulah jahil kawanan kera, pamedek diharapkan tidak menjinjing sesajen menggunakan kantong plastik. Namun, akan lebih aman jika sesajen dirangkul. Sehingga kawanan kera tak terpancing untuk merebutnya.

Menurutnya, kera itu memiliki insting yang sangat tajam. Jika ada kantong plastik yang dijinjing, itu menandakan di dalamnya ada makanan. “Selama ini kan pamedek bawa canang yang berisi bunga gemitir. Bunga jenis itu sangat disukai kera. Biasanya langsung drebut dan dimakan,” tuturnya.

Lanjut Jro Mangku Made Putra, kawanan kera justru takut dengan ayam panggang atau bukakak. Terlebih jika kepala ayam diarahkan ke kawanan kera. Bukannya mendekat, kawanan kera dipastikan akan lari tunggang langgang.

“Kalau membawa daging ayam panggang, biasanya keranya takut. Saya tidak tahu apakah itu penangkalnya. Tapi, berkali-kali pengalaman itu dibuktikan. Apalagi kalau kepala ayamnya diarahkan ke kawanan kera. Mereka tidak akan berani mendekat,” jelasnya.
Agar tetap jinak dan tidak melukai pamedek, sejumlah ritual memang sering digelar untuk para wanara duwe ini. Yakni tradisi Wanara Laba yang diperingati setiap setahun sekali bertepatan dengan pujawali yang jatuh setiap Sasih Kapat. Selain itu, saat tumpek kandang, ribuan kawanan kera juga dibuatkan sesajen berupa pras pajati.

Tradisi Wanara Laba, lanjutnya,  tak lepas dari kisah perjalanan Danghyang Nirartha. Kala itu beliau melakukan perjalanan spiritual dari Pulau Jawa menuju Bali sekitar Caka 1411.
Diceritakan, pada tahun itu Danghyang Nirarta tiba di Bali tepatnya di Purancak. Saat itu beliau akan menuju Gelgel dengan melintasi hutan yang lebat. Namun Beliau kebingungan mencari arah mata angin. Maka secara tidak sengaja bertemulah Beliau dengan sekelompok kera. Lalu, bertanyalah beliau dengan salah satu kera. Nah, dalam percakapan itu pula rupanya terjadi suatu perjanjian antara kera tersebut dengan Danghyang Nirarta.


“Perjanjiannya, jika seketurunan Danghyang Nirartha tidak akan menyakiti kera. Di samping itu, sang kera juga berjanji akan setia mendampingi dimanapun Danghyang Nirartha malinggih,” ungkapnya. Setelah menemukan arah ke timur, maka Danghyang Nirartha kembali menemukan seekor Naga. Lalu masuklah beliau ke dalam mulut Naga tersebut dan memetik tiga buah Bunga teratai kemudian memakainya.


Sementara, anak dan istrinya menunggu di luar. Setelah beberapa lama, Danghyang Nirartha keluar dari mulut Naga dengan wajah kehitam-hitaman dan kekuning-kuningan. Melihat perubahan wajah suaminya, istri dan anaknya lari tunggang langgang. Sang Istri yang bernama Sri Padmi Keniteng kemudian berada di Pulaki, sedangkan anaknya yang bernama Dewa Ayu Swabawa berada di Melanting.


“Sang istri tidak mau melanjutkan perjalanan ke Gelgel. Begitu pula dengan anaknya. Karena keberadaan Dewa Ayu Swabawa di Melanting telah diketahui masyarakat, maka penduduk desa yang waktu itu berjumlah 8.000 orang diberikan panugrahan menjadi Wong Gamang agar tak terlihat di dunia manusia. Tugasnya yakni menjaga Dewa Ayu Swabawa dan Istrinya Sri Padmi Keniteng,” tuturnya lagi.


Mengingat perjanjian yang dibuat antara kera dan Danghyang Nirartha, maka sang kera tidak berani mengingkari janji. Maka, berjagalah kera-kera tersebut di Pura Pulaki untuk turut menjaga Istri Danghyang Nirartha.


Berkaca dari Purana kisah kesetiaan kera itulah saat Pujawali di Pura Pulaki, pangempon membuatkan upacara Wanara Laba. Upacara tersebut jatuh pada Purnamaning Sasih Kapat.“Wanara artinya Kera, Laba berarti makanan. Jadi, Wanara Laba berarti upacara untuk memberikan makan kepada kera tersebut. Karena keberadaannya di tempat suci, maka kera tersebut diberi nana Jro Sedaan,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia