Jumat, 20 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Ketika Teman Jadi Caleg

Oleh: Made Adnyana Ole

13 April 2019, 07: 49: 33 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ketika Teman Jadi Caleg

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

INI cerita seorang teman. Ia bingung karena banyak teman sekolahnya di SMP dan SMA tiba-tiba menjadi caleg pada Pemilu 2019 ini. Entah dari partai mana saja, ia tak ingat betul. Pokoknya nyaleg. Yang bikin dia bingung, kebanyakan dari teman sekolahnya itu mendadak rajin  masimakrama ke rumahnya. Ada yang secara terus terang minta dukungan dan minta dipilih, ada yang hanya ngobrol-ngobrol, tapi maksudnya tetap untuk mendapat dukungan juga.

“Seperti MLM, multi level marketing. Tiba-tiba banyak yang ingat teman dan rajin bertandang ke rumah teman SMP dan SMA. Istilahnya diprospek. Hahahaha…”  kata teman saya itu sembari tertawa lepas.

Ia kemudian nyerocos. Kata dia, kalau memang tak ada pilihan lain, memilih teman SMP atau SMA juga tak apa-apa. Siapa lagi yang kita bantu, siapa yang akan membantu kita, kalau bukan teman? Dengan demikin, terdapat banyak alasan kita memilih caleg dalam Pemilu ini. Ada karena idelogi, karena hati nurani, atau karena memang si caleg jadi idola meski kita tak kenal. Ada juga karena bansos, karena saudara misan, saudara mindon, saudara jauh, ipar jauh, dan ada juga karena teman.

“Jadi, aku tak bingung lagi. Meski banyak teman caleg yang datang masimakrama. Aku bilang oke-oke saja. Di TPS nanti, ya urusanku sendiri. Pertama-tama, selamatkan pertemanan, masalah selanjutnya biar jadi urusan orang-orang politik,” katanya.

Saya tersenyum saja mendengarnya. Jika semua orang berpikir sederhana seperti teman saya itu mungkin Pemilu akan selalu lancar dan senantiasa semarak. Orang selalu punya pilihan sesuai dengan alasannya memilih. Yang paham soal hati nurani akan memilih sesuai hati nurani. Yang suka bansos akan memilih caleg yang memberi bansos. Yang suka berteman akan memilih temannya yang menjadi caleg. Yang punya saudara jadi caleg, pilih saudara saja agar tak ada konflik di tengah keluarga. Masalah siapa yang duduk di DPRD dan DPR RI, itu urusan belakangan. Pertama-tama, selamatkan hal-hal yang memperlancar hidup kita, urusan politik biarlah diurus orang yang memang gemar berpolitik.

Tapi, teman SMP, teman SMA, atau teman masa kecil, yang tiba-tiba jadi caleg, cukup membuat bingung juga. Kadang kita merasa tak enak untuk tidak memilihnya. Tapi, jika dipilih, kita sangat tahu sebesar apa kualitas teman itu. Misalnya, dulu, saat SMA, rangkingnya selalu nomor 29 dari 30 siswa. Masa sih kita memilih caleg yang lebih bodoh dari kita? Tapi, meski bodoh, seorang teman kadang punya kadar pertemanan paling tinggi. Dalam kehidupan setelah sekolah misalnya, teman itu kadang membantu dengan segala kemampuannya, meski kemampuannya memang terbatas. Apakah teman seperti itu tidak layak kita pilih untuk mewakili kita di Gedung  Dewan?

Ini cerita lain. Seorang teman kecewa dengan teman SD-nya di desa. Dulu, saat SD mereka duduk sebangku. Setamat SMP mereka pisah. Satu tetap sekolah di desa, satu bersekolah di kota. Mereka jarang bertemu. Yang sekolah di kota jarang pulang karena amat giat menempuh pendidikan hingga tamat kuliah. Temannya yang sekolah di desa hanya tamat SMA. Pada saat Pemilu lima tahun lalu, teman yang sekolah di kota ini mencoblos di TPS di desanya. Karena tahu teman sebangkunya di SD ikut nyaleg, teman yang di kota itu mencoblos teman sebangku itu.

Eh, setelah duduk di kursi DPRD, teman yang sekolah di desa itu tak hirau pada teman sebangku yang sudah mencoblosnya saat Pemilu. Saat odalan mereka bertemu di pura. Teman dari kota itu hendak menyapa, namun temannya yang sudah jadi anggota dewan, yang sudah dicoblosnya saat Pemilu lalu, hanya menanggapi sekilas, lalu melengos pergi. Sejak saat itu, teman yang dari kota itu menyimpan dendam. “Sampai kapan pun aku tak akan mencoblosnya lagi!” katanya.

Urusan teman dan urusan politik kadang punya hubungan yang unik. Hanya karena tidak menyapa saja, seorang caleg harus kehilangan satu suara. Bahkan juga kehilangan teman. Menyapa teman, berkunjung ke rumah teman, membantu teman yang kesulitan, adalah bagian dari hati nurani sebagai manusia, termasuk manusia yang bergelut di dunia politik. Jika hal-hal seperti itu diabaikan maka politik otomatis hanya jadi ajang transaksi, seperti penjual dan pembeli yang tak perlu saling kenal-mengenal. 

Mungkin hal-hal semacam itulah yang menjadi cikal-bakal kenapa politik seperti kehilangan hati nurani. Orang-orang politik lebih banyak memberi contoh bagaimana mereka tak bisa memelihara pertemanan dan melulu setia memelihara kepentingannya. Maka tak salah jika ada ungkapan, “Untuk menang dan meraih kekuasaan, seorang politikus harus mengalahkan lawan dengan terlebih dahulu mengalahkan teman!”

Namun, sepanjang masih ada pemilu, maka pertemanan akan selalu ada, baik pertemanan di lingkaran politik, maupun pertemanan di lingkungan sekitar. Maka Pemilu bisa saja menjadi ajang untuk kembali mengingat teman, kembali bertemu teman di dunia nyata, dan tidak sekadar komentar-komentaran di media sosial atau sapa-sapaan di grup WA.

Jadi tidaklah berdosa seorang caleg tiba-tiba berkunjung ke rumah teman dan masimakrama minta dukungan. Meski misalnya sang caleg tak punya modal uang atau tak memiliki kekuasaan untuk mencairkan bansos. Bukankah  hanya teman yang mengerti tentang temannya saat punya duit atau tak punya duit. Bukankah kepada teman kita kadang curhat, membeberkan rahasia-rahasia pribadi, termasuk misalnya rahasia bahwa kita memang tak punya uang dan banyak utang.      

Jadi, pada Pemilu nanti, datanglah ke TPS, jika bingung memilih caleg yang sesuai dengan hati nurani, pilihlah orang yang paling dikenal, maksudnya kenal seperti kita mengenal seorang teman. Jika masih bingung juga, sebelum hari pencoblosan tiba, teleponlah seluruh teman yang sedang menjadi caleg. Lalu tanyakan, apakah ia ingat dengan dirimu? Mana caleg yang ingat dirimu, dia bisa dijadikan nominasi untuk dicoblos. Tapi, politik kadang tak sesederhana itu, dan itulah yang menbingungkan kita. (*)

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia