Sabtu, 19 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Jero Mangku Gede Pura Pucak Bukti Gede (1)

Sejak Kecil Sering Mimpi Dicari Orang Berpakaian Putih dan Rangda

13 April 2019, 08: 56: 49 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sejak Kecil Sering Mimpi Dicari Orang Berpakaian Putih dan Rangda

Jero Mangku Gede Pura Pucak Bukti Gede, I Wayan Sugiartawan (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Pada umumnya menjadi pemangku berdasarkan garis keturunan. Jika seorang pemangku meninggal, maka akan dilanjutkan oleh sang anak, begitu seterusnya. Meski aturan tak tertulis itu sudah diberitahu sejak kecil  sang ayah, Jero Mangku Gede Pura Pucak Bukti Gede, I Wayan Sugiartawan, tetap tidak pernah menyangka, juga membayangkannya.

Jero Mangku Sugiartawan ngayah menjadi pemangku di usianya yang cukup muda.
Diwinten sebagai Jero Mangku Gede Pura Pucak Bukit Gede di Banjar Poyan, Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Tabanan pada usia 23 tahun. Usia yang masih sangat muda untuk dapat melepaskan diri dari ikatan keduniawian.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Jero Mangku Sugiartawan yang kini berusia 30 tahun, menceritakan perjalanan hidupnya yang tidak pernah bisa ia lupakan, terutama prosesnya menjadi seorang pemangku. Menurutnya, pesan itu ia terima mulai dari mimpi. “Saya sering mimpi dicari oleh orang berbusana serba putih atau bahkan berupa Rarung atau Rangda dengan perawakan seram, yang intinya menyuruh saya untuk ngayah (menjadi pemangku),” ungkapnya.
Meskipun ketika itu ia sudah mengetahui bahwa akan menggantikan sang ayah menjadi pemangku, tetap saja mimpi-mimpi itu mengusik jiwanya. Apalagi saat itu dirinya masih duduk di bangku SD.  Belum lagi ketika ada krama (warga) yang karauhan di pura dan meminta dirinya untuk mau ngayah. “Kalau baos (ucapan) dari orang karauhan itu saat saya kelas VI SD,” imbuhnya.


Namun, sejak memasuki umur enam tahun, ia sendiri sudah sering mendengar pengalaman menjadi seorang pemangku dari sang ayah. Sang ayah juga selalu berpesan jika suatu saat dipercaya untuk ngayah, maka dirinya harus siap ngayah (mengabdi)  dengan tulus ikhlas. Menurut Jero Mangku Sugiartawan, hal itu dilakukan karena sejak dirinya menginjak SD, ayahnya sudah menerima pesan-pesan khusus secara niskala bahwa ia  akan menjadi pemangku selanjutnya.


Menginjak dewasa, hal-hal mistis semakin sering ia alami. Di samping itu, mimpi terus terjadi menghantui. Ia sering bermimpi diajak pergi ke suatu pura oleh orang yang tidak dikenal dan tak tau dimana lokasi pura itu. “Lalu, dalam mimpi itu terlebih dahulu saya diajak mandi di suat tempat pemandian seperti Beji. Anehnya di Beji itu juga ada Patapakan Ida Betara,” tuturnya.
Hal itu tentunya terus mengusik pikirannya dan membuat perasaannya campur aduk karena tidak menyangka akan melanjutkan sang ayah menjadi pemangku. Namun, seiring berjalannya waktu, dirinya terus menyiapkan diri. Sebelum ia benar-benar siap mawinten sebagai pemangku, dirinya menyampaikan satu permohonan  kepada Ida Sang Hyang Widhi. “Permintaan saya itu adalah saya siap ngayah menjadi pemangku setelah menikah dan dikarunia anak,” lanjutnya.


Selain itu, Jero Mangku Sugiartawan juga munut Pican Ida Betara dan juga ada Bisama atau khusus dari Ida Sasuhunan ( yang dijunjung), sehingga dirinya pun siap ngayah menjadi pemangku. “Akhirnya setelah semua saya lalui, di umur 23 tahun saya mawinten sebagai pemangku dan ngayah dengan tulus ikhlas,” tandasnya.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia