Senin, 14 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Kementan - Dinas TPHBun Bali Gelar Aksi Hama PBKo

15 April 2019, 22: 04: 03 WIB | editor : Nyoman Suarna

Kementan - Dinas TPHBun Bali Gelar Aksi Hama Pbko

AKSI: Kepala Dinas TPHBun Ir IB Wisnuardhana, M.Si. saat melakukan aksi Gerakan Pengendalian OPT Tanaman Kopi (Hama PBKo) di Desa Kebon Padangan, Banjar Kaliukir, Pupuan, Kabupaten Tabanan, Senin (15/4). (HUMAS PEMPROV BALI FOR BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Kopi Bali kini sedang menjadi komoditas primadona di dunia internasional, sehingga diperlukan upaya lebih lebih untuk meningkatkan produksinya, sekaligus meningkatkan kualitas dari komoditas yang banyak diusahakan perkebunan rakyat.

“Untuk itu, para petani kopi Bali dituntut menghasilkan produk yang bermutu tinggi, ramah lingkungan serta organik, di tengah persaingan global di bidang hasil produksi pertanian,” kata Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Provinsi (TPHBun) Bali, Ir.  IB Wisnuardhana, M.Si.

Hal itu disampaikannya saat memberikan pemaparan di acara Aksi Gerakan Pengendalian OPT Tanaman Kopi (Hama PBKo) di Desa Kebon Padangan, Banjar Kaliukir, Pupuan, Kabupaten Tabanan, Senin (15/4).

Dia menjelaskan, beberapa kendala yang bisa menghambat peningkatan kualitas dan kuantitas produksi kopi, khususnya di Bali, adalah serangan hama Penggerek Buah Kopi (PBKo).

“Hama ini punya pengaruh langsung dan nyata terhadap penurunan produksi dan kualitas hasil biji kopi kita di pasaran, sehingga kerugiannya cukup besar,” tandas Wisnuardhana.

Dia menyebutkan, hampir lima persen jumlah kehilangan dari total hasil panen biji kopi. “Belum lagi kerugian akibat penurunan mutu, yakni biji kopi yang berlubang, tentu menurunkan nilai jualnya,” tambahnya.

Di sisi lain, dia menyebutkan bahwa dalam beberapa tahun belakangan ini petani masih mengandalkan insektisida sintetis atau kimia. Padahal, penggunaan pembasmi hama dari bahan kimia, dalam jangka panjang, memiliki efek negatif bagi lingkungan sekitar.

“Dampaknya pada pencemaran lingkungan, kontaminasi pada buah hingga menimbulkan resistensi di beberapa jenis serangga. Selain itu, karena PBKo perkembangannya berada dalam buah kopi, penggunaan insektisida bisa dikatakan tidak efektif,” katanya.

Untuk itu, pihaknya bersama Kementrian Pertanian (Kementan) memperkenalkan perangkap feromon atau atraktan yang lebih ramah lingkungan dan mudah diaplikasikan.

“Gerakan dan sosialisasi ini sebagai awal dari aksi pengendalian hama PBKo dengan menyasar seratus hektar di Kabupaten Tabanan. Sehingga, diharapkan mampu menekan hama sampai batas ambang nilai ekonomi,” imbaunya.

“Namun kita harus bekerja bersama, karena jika sendiri-sendiri, hasilnya tidak akan maksimal. Lakukan bersama-sama agar berdampak pada hamparan luar,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Kasubdit Dirjen Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian RI,  Ir. Arsiah, M.Si. menyebutkan, gerakan pengendalian hama PBKo ini penting dilakukan, lantaran lebih dari 18 juta penduduk Indonesia menggantungkan hidupnya dari sektor perkebunan.

“Ditambah lagi, sektor ini berperan besar dalam ekonomi pedesaan. Menyumbang lebih dari Rp 420 triliun untuk pendapatan negara,” ungkap Arsiah.

Kopi, sambung Arsiah, sebagai komoditas perkebunan utama yang dihasilkan Indonesia, terutama untuk komoditas ekspor. Tidak hanya itu, kopi juga menjadi identitas masyarakat di suatu daerah, bahkan Indonesia.

"Kopi bukan sekedar minuman. Kopi sekarang ini sudah jadi gaya hidup dan kultur yang berkembang turun-temurun di tengah masyarakat. Itulah pentingnya arti kopi bagi Indonesia,” jelasnya seraya menyebutkan bahwa Indonesia kini tercatat sebagai negara penghasil kopi arabika terbaik di dunia. Total produksinya berada di peringkat empat dunia.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia