Selasa, 21 May 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Sulinggih Pantang Pimpin Upacara di Pura Gunung Merta

16 April 2019, 10: 35: 21 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sulinggih Pantang Pimpin Upacara di Pura Gunung Merta

PURA : Bendesa Adat Madangan Kaja, I Nyoman Tempil (kiri), pemangku Pura Gunung Merta, Jero Mangku Wayan Arman (tengah), dan pemangku Pura Puseh dan Bale Agung Madangan Kaja, Jero Mangku Wayan Seleg. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, GIANYAR - Setiap pura biasanya prosesi upacaranya dipuput (diselesaikan) seorang sulinggih (pendeta). Namun, ada beberapa pura yang pantang dipuput sulinggih karena berbagai alasan. Seperti halnya Pura Gunung Merta  di Banjar Madangan Kaja, Desa Petak, Gianyar.

Pemangku Pura Gunung Merta, Banjar Madangan Kaja, Desa Petak, Gianyar, Jero Mangku Wayan Arman didampingi Bendesa Adat Madangan Kaja, I Nyoman Tempil, menjelaskan,
konon sempat seorang sulinggih lebar (meninggal dunia) pasca muput upacara saat piodalan berlangsung 30 tahun lalu.

Dijelaskan Jero Mangku Wayan Arman, Pura Gunung Merta yang sudah ada sejak zaman kakek neneknya ini, juga dulu digunakan Pura Dalem, dan  banyak ada warga dari Bangli ikut nyungsung (memuja).

Seiring perkembangan zaman, lanjutnya,  ada perubahan kemudian menjadi Pura Gunung Merta. “Pada utama mandala terdapat Palinggih Bujangga, dan atas dasar itu setiap piodalan sebesar apapun harus dipuput oleh pemangku. 30 tahun lalu sempat ada Sulinggih yang nekat muput. Namun, setelah itu  sakit mendadak hingga lebar (meninggal). Masyarakat meyakini semua itu disebabkan muput di pura ini,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin di Gianyar.

Mengetahui pantangan seperti itu, lanjutnya, sampai saat ini tidak ada sama sekali Sulinggih yang berani muput kembali. Jika pun datang ke pura, Sulinggih hanya sembahyang dari partiwi di dekat Palinggih Bujangga. “Karena Ida yang berstana berupa Sulinggih, makanya tidak perlu lagi dipuput oleh Sulinggih. Cukup dipuput pemangku saja,” urainya.

Ditambahkannya, Palinggih Bujangga memang terdapat juga dari zaman ke zaman. Namun, baru sekitar 11 tahun lalu direnovasi, lantaran ada  pamedek  mapunia, setelah sembuh malukat. Pasalnya, pura yang berareal tiga mandaa tersebut, juga terdapat tempat panglukatan di timur pura.


Ingin sembahyang atau nangkil? Gunung Merta tidaklah susah mencarinya, paling lama  butuh sekitar 20 menit jika berangkat dari Taman Kota Gianyar. Kemudian menuju arah barat daerah Kelurahan Bitera, tepatnya  di lampu pengatur  lalin Bitera ke kanan, lurus ke utara. Susuri jalur ke Utara sampai di pertigaan ke kiri, yang mengarahkan ke Desa Petak. Hanya sekitar dua kilometer lurus ke utara akan sampai di Banjar Madangan Kaja.


Tepat di utara Balai Banjar Madangan Kaja, sekitar 500 meter akan menemukan Pura Ulun Suwi. Nah, di sebelah timur pura itulah letaknya Pura Gunung Merta yang juga ada tempat melukatnya. Namun, mencari tempat malukat harus turun  kembali di timur pura sekitar setengah kilometer.


Pura ini diempon  59 krama pangarep dan 232 kepala keluarga  Mandangan Kaja, Desa Petak. Piodalannya  jatuh pada Wuku Julungwangi, nyejernya selama lima sampai tujuh hari.(ade)

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia