Kamis, 19 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Hati-hati Belajar Spiritual, Keluarga Bisa Jadi Taruhannya

16 April 2019, 10: 53: 44 WIB | editor : Chairul Amri Simabur

Hati-hati Belajar Spiritual, Keluarga Bisa Jadi Taruhannya 3

Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana, Jro Wayan Budiarsa. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, JEMBRANA - Saat ini spiritual bukan hal tabu untuk dibicarakan. Bahkan, sebagian orang dengan bangga menunjukkan dirinya mengikuti ajaran spiritual tertentu.

Misalnya saja melalui tampilan berbusana, sikap, gaya bahasa, aktivitas, dan lainnya. Namun, tanpa disadari ada risiko yang siap menghadang.

Spiritual tentu bukan hal yang aneh. Spiritual berhubungan dengan jiwa ataupun rohani. Bisa dikatakan spiritual menjadi kebutuhan manusia dalam memaknai hidup.

Oleh karena itu, dengan melakoni spiritual yang benar, bisa menciptakan kedamaian batin bagi diri dan lingkungan.

Namun, hati-hati. Salah belajar spiritual atau belajar spiritual yang salah, bisa mendatangkan dampak buruk. Istilah yang biasa digunakan untuk menyebut hal ini adalah 'sesat'.

Sehingga ada yang disebut orang sesat, aliran sesat, dan sebagainya. Pada intinya menunjukkan orang tersebut atau aktivitasnya berdampak negatif.

Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana, Jro Wayan Budiarsa mencontohkan, kesesatan bisa mengubah pikiran, perkataan, dan sikap seseorang.

"Misalnya seorang ayah yang terhormat dan mengasihi anak serta istri. Tapi setelah mendapat seorang guru, berubah menjadi temperamen. Istri menjadi korban, anak menjadi korban, harta jadi habis akibat kesesatan spiritual yang diikuti," ungkapnya belum lama ini kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Hati-hati Belajar Spiritual, Keluarga Bisa Jadi Taruhannya 1

KONEKSI : Koneksikan energi jasmani dengan rohani di dalam diri, selanjutnya koneksi diri dengan energi sekitar, khususnya dengan bangunan suci yang ada di merajan dan luar merajan. (ISTIMEWA)

Menurut kajiannya, spiritual yang salah bukan mendatangkan manfaat. Justru menjadi penghancur nomor satu moralitas, mentalitas hingga perekonomian. "Oleh karena itu, sering saya bilang, masuk ke spiritual mempertaruhkan nasib anak, istri, dan keluarga, juga harta. Apabila Anda sesat, anak akan jadi korban, istri teraniaya, harta habis, keluarga berantakan," ujarnya.

Jika benar, lanjutnya, maka mendatangkan manfaat yang luar biasa, mulai dari  kesehatan, kesejahteraan, dan keharmonisan akan terwujud.

"Jika benar, diri sehat, anak dan istri sehat, ekonomi bagus, keluarga rukun. Untuk mendapatkan itu, tidak mudah," kata pinisisepuh pasraman yang berlokasi di Banjar Tegak Gede, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana ini.

Nah, untuk mendapatkan segala cita-cita yang baik tersebut, maka perlu beberapa hal. Di antaranya, konsep spiritual yang didalami harus benar, caranya tepat, serta membutuhkan fisik dan mental yang bersih dan sehat.

Untuk itu, diperlukan kehati-hatian dalam memilih jalan spiritual dan diperlukan ketekunan  menjalankannya. Sementara, guna memastikan fisik dan mental siap menerima sebuah ajaran, Bali mengenal istilah pawintenan.

Pawintenan merupakan prosesi awal seseorang mempelajari dan mendalami sebuah pelajaran, terlebih spiritual. Melalui pawintenan yang benar, maka di samping seseorang disucikan, juga dibangkitkan potensinya.

Di Pasraman Sastra Kencana, pawintenan juga membantu mengoneksikan energi di dalam tubuh, roh dengan leluhur, dan sang atma dengan Sang Pencipta atau dewa-dewa tertentu.

"Untuk hal itu dibutuhkan sistem metabolisme tubuh yang bagus, sistem rancang bangun mindset otak yang sempurna, terlebih kekuatan untuk menerima energi dalam wujud Panca Brahma agar tubuh sehat, selalu hangat, semangat, penuh motivasi. Panca Amerta agar tubuh penuh keberuntungan, serta Panca Tirtha agar tubuh senantiasa suci," jelas pria yang juga menjadi pinisepuh Perguruan Wahyu Siwa Mukti ini.    

Hati-hati Belajar Spiritual, Keluarga Bisa Jadi Taruhannya 2

KELUARGA : Belajar Spiritual dengan cara yang benar, akan berdampak positif pada diri dan keluarga. (ISTIMEWA)

Mengoneksikan energi tubuh jasmani dan rohani dengan energi bangunan-bangunan palinggih yang ada di sekitar kita. Mulai dari merajan hingga pelangkiran. Karena palinggih ini dikatakannya layaknya gardu energi yang oleh masyarakat Hindu di Bali dipercaya memproteksi diri dan keluarga.

"Kalau tidak begitu, untuk apa palinggih ini kita bangun megah-megah, yadnya tiap hari, piodalan tiap enam bulan. Sudah seperti itu kita belum tentu selamat. Kenapa kita bisa begitu? Karena konektivitas badan, roh, dan jiwa kita tidak pernah ada," terangnya.

Hal inilah, kata  pria yang biasa dipanggil Jro Nabe Budiarsa ini, terkadang tak dipahami oleh penganut spiritual di Bali. Ia mengibaratkan dua handphone. Satu sebagai orang dan satunya sebagai yang dipuja.

Saat tidak terjadi koneksi di antara keduanya, maka tidak akan bermanfaat. Oleh karena itu, koneksi sangat penting, perlu dipahami caranya. "Meski kedua handphone ini dibenturkan, tidak akan terjadi koneksi," katanya.

Oleh karena itu, sebagai langkah awal spiritual ala Bali, perlu dipahami dan dikoneksikan energi jasmani dengan rohani di dalam diri. Selanjutnya koneksi diri dengan energi sekitar, khususnya bangunan suci yang ada di merajan dan luar merajan.

"Kalau kamu ingin ragamu hebat, koneksikan dirimu dengan lima, yakni Ngerurah, Lebuh, Penunggu Karang, Taksu Geginan, dan Taksu Agung. Segala kebutuhan jasmani akan terpenuhi. Jika ingin jiwa hebat, koneksikan dengan Kemulan sebagai pamurtian Brahma, Wisnu, dan Iswara, karena seluruh kekuatan para dewa menyatu dengan-Nya," tandasnya.    

(bx/adi/hai/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia