Senin, 27 May 2019
baliexpress
icon featured
Politik
Pemilu 2019

Jumlah Pemilih 3,1 Juta Lebih, JaDI Bali Ingatkan Potensi Kerawanan

16 April 2019, 14: 12: 28 WIB | editor : Chairul Amri Simabur

Jumlah Pemilih 3,1 Juta Lebih, JaDI Bali Ingatkan Potensi Kerawanan

ILUSTRASI (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Besok, 17 April 2019, seluruh warga Indonesia akan mendapatkan kesempatan untuk menggunakan hak politiknya. Memilih calon presiden dan wakil presidennya serta legislatornya. Baik di DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, hingga DPD.

Sesuai data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bali, ada 3.130.288 pemilih yang berhak melakukan coblosan. Para pemilih ini bisa memakai haknya tersebut di 12.386 tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di seluruh Bali. Dari jumlah TPS itu, dua diantaranya TPS khusus.

Sedangkan dari 3.130.288 pemilih tersebut, beberapa di antaranya melakukan pindah memilih. Jumlah pemilih yang pindah ke Bali jumlahnya 3.523 orang. Sedangkan yang keluar Bali jumlahnya 653 orang.

Ayo Datang ke TPS pada Rabu 17 April 2019 (Courtesy : KPU Provinsi Bali)

Dalam pemilu kali ini, perpindahan tempat memilih kian diakomodasi. Setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memberi ruang bagi pemilih yang ingin pindah tempat memilih. Maksimal sampai H-7 hari pemilihan.

Sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, pindah memilih hanya diakomodir sampai dengan sebulan sebelum pencobolosan.

Fenomena pindah memilih ini pun mendapatkan catatan tersendiri dari Presedium Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Provinsi Bali, Ketut Udi Prayudi.

Saat disinggung potensi kerawanan pelaksanaan pemilu kali ini, dia menyebutkan adanya kekhawatiran akan kecukupan logistik. Khususnya surat suara yang sangat vital. Bahkan, hal ini sempat dia paparkan dalam Sosialisasi Pengawasan Pemilu 2019 beberapa waktu lalu di Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Bali.

"Di hari terakhir (mengurus pindah memilih), di Denpasar, ada ratusan orang antre untuk mencoba pindah memilih. Malah, terjadi pemalsuan surat keterangan kerja," ungkap Udi Prayudi, Senin (15/4).

Dalam pandangannya, migrasi pemilih ini patut mendapatkan perhatian. Karena berisiko terhadap ketesediaan surat suara yang mencukupi. Karena regulasi sekarang condong mementingkan pemilih pindahan yang masuk dalam DPTb. Mereka punya hak yang sama dengan pemilih tetap yang masuk DPT. "Ada kekhawatiran surat suara akan habis," sebutnya.

Bukan tanpa sebab dia memandang seperti itu. Sesuai regulasi yang patokan utamanya undang-undang, surat suara di TPS dicetak berdasarkan DPT, DPTb, plus dua persen surat suara cadangan. Namun di lain pasal, jumlahnya disesuaikan dengan DPT plus dua persen. "Ini bertentangan norma," sebutnya.

Kendati begitu, dia berharap pelaksanaan Pemilu 2019 akan berjalan lancar. Meski dari sisi ketersediaan logistik berpotensi terjadi masalah kekurangan. Karena pada prinsipnya, pemilih yang pindah hanya memanfaatkan sisa surat suara pemilih yang tidak hadir. Ditambah lagi dengan surat suara cadangan.

"Potensi (kurang surat suara) bisa saja terjadi. Tapi dari pengalaman, partisipasi pemilih berada selalu di bawah 80 persen secara umum. Belum pernah ada kejadian surat suara kurang. Apalagi banyak yang kita temukan ada yang meninggal dunia tapi DPT. Termasuk ada yang pindah keluar," ujarnya.

Selain soal pindah memilih yang berkorelasi dengan kecukupan surat suara, dia juga mewanti-wanti soal penyalahgunaan surat undangan ke TPS atau formulir C6.

"Penggunaan C6 orang lain ini juga perlu mendapatkan perhatian. Misalnya ada yang keluar. Kemudian tidak bisa memilih di lokasi atau TPS itu. Lalu dimanfaatkan oleh orang lain. Atau penggunaan hak pilih lebih dari sekali. Ini patut diawasi juga," pungkasnya.

Di kesempatan terpisah, Ketua KPU Bali I Dewa Agung Gde Lidartawan yang disinggung soal kesiapan logistik menyebutkan bahwa proses distribusi sudah siap untuk dikirimkan.

"Sudah seratus persen ready untuk dikirimkan. Tadi sudah dikirimkan juga. Besok masih ada lagi sekali. Sesuai ketentuan H-1. Khususnya untuk wilayah-wilayah yang mudah dijangkau. Sedangkan wilayah yang sulit seperti Nusa Penida sudah dilakukan Minggu kemarin (14/4) dan hari ini (kemarin)," ungkapnya.

Di tempat terpisah, Gubernur Bali Wayan Koster mengimbau agar peserta pemilu serta tim pemenangannya agar peserta pemilu dan tim pemenangannya menahan diri untuk tidak meluapkan euforia kemenangan.

Imbauan yang disampaikan di Praja Sabha itu disampaikan sesuai dengan permintaan Kapolda Bali Irjenpol Petrus Reinhard Golose usai teleconference bersama Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo di Polda Bali.

"Pokoknya bersabar. Menunggu hasil penghitungan resmi. Sebelum ada penghitungan resmi jangan riang-riang. Saya sepakat dengan Pak Kapolda," pungkasnya. (hai)    

(bx/hai/hai/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia