Senin, 14 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Features
PEMILU 2019

Pasangan Tuna Rungu Nyoblos, Dibantu Anak Saat Dipanggil

17 April 2019, 19: 37: 50 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pasangan Tuna Rungu Nyoblos, Dibantu Anak Saat Dipanggil

SEMANGAT: Pasutri Tuna Rungu dan anaknya saat memberikan hak suara ke TPS 40, Rabu (17/4). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

Satu suara sangat menentukan untuk Indonesia yang lebih baik. Begitulah kiranya yang senantiasa ditanamkan pasangan suami istri ini sehingga mereka enggan untuk golput. Bahkan meskipun mereka tuna rungu namun mereka tetap semangat pergi ke TPS dan memberikan hak suara mereka. Seperti apa perjalannya?

DEWA RASTANA, Tabanan 

HARI itu kesibukan nampak sejak pagi sejumlah Balai Banjar, Wantilan, Sekolah dam sejumlah fasilitas umum lainnya yang digunakan sebagai TPS. Jelas saja, kemarin adalah hari Rabu (17/4) hari dimana Pemilu Serentak 2019 digelar. Selain memilih Presiden dan Wakil Presiden, masyarakat juga memilih anggota legislatif mulai dari DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi, DPR RI hingga DPD RI. 

Masyarakat pun satu per satu datang ke TPS untuk memberikan hak suaranya. Namun tak sedikit juga masyarakat yang golput dengan berbagai alasan. Berbeda dengan pasangan suami istri yang satu ini. Bahkan meskipun mereka tuna rungu, mereka tetap bersemangat datang ke TPS untuk menyoblos.

Mereka adalah Rudolf Valentino Vlug, 36, bersama sang istri Ni Ketut Suriani, 35. Mereka adalah pasangan tuna rungu yang menetap di Jalan Tukad Yeh Sungi II, Nomor VI, Sanggulan, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Tabanan. Saat pergi ke TPS, keduanya dibantu oleh anak mereka.

Rudolf mengatakan bahwa ketika mencoblos di TPS 40 Sanggulan yang berlokasi di Sekolah Mapindo Sanggulan, sekitar pukul 08.00 Wita, ia dan sang istri dibantu oleh kedua anaknya yakni Alexander Agustinus Vlug, 8, dan Antonius Julio Vlug, 5. Terutama ketika namanya dipanggil oleh petugas KPPS untuk mencoblos. "Jadi ketika nama saya dipanggil maka anak saya akan memberitahu saya," ujarnya.

Bahkan sang anak juga membantu dirinya bertanya kepada petugas mengenai hal-hal yang kurang dipahami. Di antaranya saat memastikan apakah di sana TPS 40 atau bukan. "Dan petugas mengapresiasi anak saya karena membantu kedua orang tuanya, sehingga petugas KPPS yang tidak mengerti bahasa isyarat pun tidak kesulitan," imbuhnya.

Sehari-harinya pria yang juga Ketua Geraktin (Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia)  Tabanan itu menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi, namun memang tidak semua orang mengerti bahasa isyarat sehingga saat ke TPS ia mengajak serta anaknya untuk membantunya. 

Menurutnya keterbatasan yang ia miliki tidak menjadi halangan dirinya menjadi warga negara yang baik dengan mencoblos dalam Pemilu. Bahkan saat mencoblos ia tidak mengalami kendala lantaran sudah paham cara memilih. Terlebih dirinya ingin memiliki pemimpin yang berpihak pada rakyat dan tentunya membela hak-hak kaum difabel. "Jadi sebisa mungkin saya tidak golput, karena satu suara sangat menentukan masa depan Indonesia dan daerah kita," lanjut Rudolf.

Sementara itu, Ketua KPU Tabanan I Gede Putu Weda Subawa mengatakan bahwa sebelumnya, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada para penyandang tuna rungu yang ada di Tabanan. "Sosialisasi itu kita lakukan agar mereka paham tata cara menyoblos dan apabila ada yang belum jelas agar bisa ditanyakan," tegasnya.  

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia