Rabu, 18 Sep 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Vanessa sudah Keluar dari Pondok SPMAA

17 April 2019, 23: 12: 41 WIB | editor : Nyoman Suarna

Vanessa sudah  Keluar dari Pondok SPMAA

DIUSIR: Vanessa mengaku diusir oleh ayahnya dan mendapat kekerasan (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pimpinan Pondok SPMAA (Sumber Pendidikan Mental Agama Alla) Denpasar, Gus Glory Islamic, akhirnya mengklarifikasi berita Vanessa yang sempat viral karena diusir ayahnya. Vanessa dan adiknya, diakui, memang pernah menjadi anak asuh SPMAA. Namun sudah hampir setahun ini dibawa pergi orang tuanya. Sejak saat itu keduanya tidak menjadi tanggung jawab SPMAA lagi. Vanessa diusir karena kelalaian bapaknya. 

Menurut Gus Glory, Vanessa, 8 dan adiknya yang bernama Rasya, 5, sekitar dua tahun lalu memang mendatangi pondoknya bersama sang ayah yang diketahui bernama Andik asal NTT. Tujuannya, meminta tolong agar kedua anak itu ditampung. Kedatangan ketiganya saat itu disambut hangat oleh pihak pondok. Kedua anak tersebut akhirnya dirawat dan disekolahkan. Bahkan, Andi  juga sempat tinggal di pondok beberapa bulan.

Beberapa bulan kemudian, ketiganya justru meninggalkan pondok tanpa pesan. Entah ke mana, tidak ada yang mengetahuinya. Beberapa bulan kemudian, ia kembali lagi ke pondok. “Setelah drop out dari sekolah, lalu masuk lagi. Kami belikan seragam dan semuanya. Tiba-tiba pergi lagi tanpa pamit. Lama kemudian, tiba-tiba masuk sekolah lagi, tetapi tidak tinggal di pondok,” ungkapnya, Rabu (17/4) .

Pihaknya sempat memanggil Andik untuk membicarakan dan meminta kejelasan kejadian ini. Bahkan sempat terlontar kata-kata agar yang bersangkutan tidak berperilaku liar di lingkungan pondok. “Kalau memang kedua anaknya diserahkan untuk dirawat, ya jangan diambil dan dibawa pergi seenaknya. Akhirnya sejak tahun ini mereka tidak lagi jadi anak asuh kami. Tapi mereka tetap sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Rare Muchtary dengan beasiswa penuh dari SPMAA,” jelasnya.

Gus Glory  mengantongi informasi bahwa ketiganya tinggal di rumah kos, di daerah Marlboro, Denpasar Barat. Gus Glory kerap mendapat pengaduan dari masyarakat bahwa kedua anak tersebut kerap dianiaya oleh ayahnya. Vanessa kerap dipukuli. Kejadian ini terus berulang. Bahkan Rasya sendiri kerap pula menjadi sasaran bapaknya. Namun karena mereka sudah tinggal di luar pondok, Gus Glory tak bisa mengambil tindakan apa pun saat itu.

Pihaknya sesungguhnya telah berkali-kali mengingatkan Andi agar menghentikan perilaku kasar dan tabiat barbar-nya, tetapi tak kunjung sembuh, malah semakin menjadi. “Ingin sekali kami menolong anak tersebut, tetapi hukum Indonesia tidak memperbolehkan lembaga sosial merawat anak yang tanpa ijin orang tuanya, kecuali ada keputusan hukum,” jelasnya.

Sebelum penemuan Vanessa yang viral di media social, Gus Glory pun sudah ditelepon lebih dahulu oleh mantan polisi yang bernama Kayin yang menemukannya. Ketiganya sempat kos di tempatnya Jalan Pura Demak saat itu. Hingga kemudian membawa Vanessa ke kantor polisi dan meminta petugas kepolisian untuk menangani kasus ini. Secara hukum, SPMAA tidak mempunyai hak langsung mengambil tindakan untuk menyelamatkan Vanessa. Oleh sebab itu,  secara hukum Vanessa adalah anak si Andik. Kalau ada laporan kekerasan, pihak berwajib yang punya wewenang.

“Tadi malam kami sepakat bahwa diserahkan ke polisi. Nanti terserah polisi. Syukur jika diserahkan ke kami. Tapi harus ada dokumen resmi bahwa anak tersebut diserahkan pada kami untuk dilindungi,” pintanya.

Gus Glory pun menegaskan bahwa beasiswa yang diberikan kepada kedua kakak beradik tersebut semata karena belas kasih demi jenjang pendidikan keduanya. Namun tidak memungkiri bahwa sebenarnya SPMAA sangat keberatan dengan polah tingkah Andik, selaku orang tua. Tapi, demi nasib kedua anak tersebut, SPMAA masih mau menerima mereka, meski berkali-kali dilecehkan bapaknya.

Sebelumnya Vanessa ditemukan di Jalan Pura Demak  VII Nomor 2 Denpasar, di rumah Pak Wayin. Vanessa mengaku diusir oleh ayahnya usai bertengkar, Selasa (16/4) malam. Dia sempat dipukul kayu. Saat ditanyai, Vanessa hanya menunduk nangis. Pengakuannya diusir oleh ayahnya sejak pukul 05.00 dari kosnya di Sidakarya. Kemudian berjalan kaki menuju Jalan Pura Demak.

Sementara itu, Kapolsek Denpasar Barat AKP Johannes H Widya Nainggolan, saat dikonfirmasi, menyampikan bahwa Vanessa telah diserahkan ke Unit PPA Polresta Denpasar, Rabu dini hari. “Terhadap Vanessa, kami sudah ketemu di Polresta. Saat ini Vanessa berada di pondok tempat dia bersekolah. Kami juga sudah koordinasi dengan P2TP2A dan KPPAD Bali terhadap penanganan Vanessa,” ucap Kanit PPA Polresta Denpasar AKP Josina Lambriombir Rabu (17/4).

Sedangkan untuk tindak lanjut dugaan adanya tindak kekerasan, pihaknya masih melakukan penyelidikan. Pun sampai berita ini ditulis, juga belum ada laporan terkait dugaan penganiayaan.

Sementara, Sekretaris LBH APIK Bali, Luh Putu Anggreni, juga mengungkapkan fakta-fakta lain seputar kasus itu.

 “Kebetulan, waktu adiknya dulu sempat kabur juga karena ingin ikut kerja dan ditemukan oleh orang yang sama di kandang sapi. Dulu kami sudah ketemu pengurus pondokan. Anak-anak ini dari kecil dititipkan ayahnya karena cerai sama ibunya yang tinggal di Makasar. Ayahnya sekarang mau nikah lagi karena calon istrinya sudah hamil. Katanya, anaknya bertengkar dengan orangtuanya sebelum kabur,” urainya

(bx/afi/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia