Rabu, 23 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ibarat Anus, Sulit Ubah Orang Durjana Jadi Sujana

19 April 2019, 11: 48: 20 WIB | editor : Chairul Amri Simabur

Ibarat Anus, Sulit Ubah Orang Durjana Jadi Sujana 1

PENTING : Bergaul dengan orang-orang di jalan mulia sangat penting, karena berdampak dengan segala jenis keberhasilan hidup. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS - Tidak ada upaya apa pun di atas muka bumi ini, untuk mengubah orang jahat menjadi orang baik mulia, sebagaimana anus. Walaupun dengan berbagai cara dan ribuan kali dicuci, tetap saja ia tidak bisa menjadi mulut. Namun, pantang simpan keburukan sampai mati. Kenapa analoginya seperti itu?

Ada Durjana, Sujana, dan Sajjana. Kata Jana berarti orang. Durjana berarti orang jahat, Sujana berarti orang baik, dan Sajjana berarti orang yang selalu berada dalam jalan kebenaran.

Tokoh spiritual Rasa Acharya Praburaja Darmayasa  tak menampik, mengubah orang jahat menjadi orang baik-baik bukan hanya susah, melainkan tidak mungkin. Pasalnya, sifat dan kelakuan jahat sudah menjadi darah dan daging bagi orang jahat.

Ibarat Anus, Sulit Ubah Orang Durjana Jadi Sujana 2

PERGAULAN : Kekuatan pergaulan suci Sadhu-sangga dapat mengubah orang jahat menjadi baik. (ISTIMEWA)

"Kejahatan sudah  memberikan 'kepuasan' tersendiri baginya. Bahkan, ia tidak akan bisa hidup tanpa 'kepuasannya' itu," terang pria kelahiran Ubud yang kian konsen dengan proyek ngayah memberikan satu juta buku Bhagawadgita gratis kepada umat Hindu ini.

Tanpa berbuat jahat, lanjut penulis buku spiritual dengan  bahasa Indonesia, Inggris, Sansekerta, dan Hindi ini, mereka merasa hari-harinya menjadi aneh dan 'tanpa rasa'. Hari-harinya seperti sudah menjadi keharusan untuk diisi dan dihias dengan kejahatan atau perbuatan-perbuatan tidak baik.

"Sebagaimana orang tidak bisa hidup tanpa napas, seperti itulah sang Durjana, tidak akan bisa hidup tanpa melakukan keburukan dan kejahatan. Itulah Durjana yang dimaksudkan, bukan orang yang 'mengalami kecelakaan' berbuat tidak baik atau jahat," terang Darmayasa yang juga master Meditasi Angka ini kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di Denpasar, Rabu (17/4).

Darmayasa mencontohkan, orang yang karena sangat terdesak oleh situasi dan kondisi hidup, berada dalam pilihan antara hidup dan mati, tinimbang anak istrinya mati, barangkali kesempatan melintas di hadapannya, maka ia 'keseleo' berbuat jahat.

Kejahatan karena 'kecelakaan' seperti itu, lanjutnya, tidak dimasukkan ke dalam kategori Durjana karena bukan sifat aslinya jahat, melainkan keadaan yang memaksa untuk berbuat jahat. Mereka bukanlah para Durjana luar-dalam, depan-belakang, atas-bawah yang dipenuhi keburukan dan kejahatan.

Ditegaskannya, Durjana yang darah dan dagingnya dipenuhi oleh kejahatan, berbuat baik hanyalah kemasan luar demi penyempurnaan kejahatannya. Mereka tidak memperlihatkan kejahatan, melainkan manyajikan kejahatan.

"Mereka memerlukan kemasan serapi mungkin, sehingga kejahatan berubah di mata orang menjadi kemuliaan, sebagaimana perusahaan batu berlian mengolah bahan kaca menjadi kelihatan seperti berlian asli.

Durjana seperti itulah yang dimaksudkan oleh Canakya Pandit sebagai orang yang tidak mungkin berubah dan tidak mungkin dapat diubah oleh siapa pun dan dengan cara apa pun," bebernya.

Dikatakan Darmayasa, Dewa Brahma sekali pun datang ke dunia, tidak mungkin berhasil mengubah Durjana menjadi Sujana. "Jika Dewa Brahma pun tidak mungkin berhasil melakukan pekerjaan mulia tersebut, lalu bagaimanakah dengan kita orang-orang biasa, yang mempunyai kecendrungan berbuat salah, akan mampu mengubah Durjana menjadi Sujana," tanyanya.

Semua itu, lanjutnya, adalah pekerjaan yang 'impossible' alias tidak mungkin. Diharapkannya,  hendaknya berhati-hati memberi dan menerima pergaulan dari orang Durjana. Kitab suci mengajarkan agar orang menyelamatkan diri dengan "Tyaja Durjana sanggatim” (jauhkanlah diri dari pergaulan dengan orang-orang jahat Durjana). Menurut Darmayasa, meninggalkan pergaulan dengan orang-orang jahat tidak dilakukan dalam kebencian, melainkan dalam kasih.

"Siapa pun di atas muka bumi ini tidak boleh membenci siapa pun. Hak orang hanyalah mengasihi dan bukan membenci. Menjauhkan diri dari pergaulan dengan orang jahat hanyalah cara menyelamatkan diri demi tidak terbawa arus ikut menjadi jahat. Sebab, pergaulan sangat kuat menarik orang ke arah lingkungan pergaulan, perlahan-lahan orang akan menyenangi dan akhirnya menjadi lingkungan itu sendiri," ujarnya.

Usaha sia-sia mengubah Durjana menjadi Sujana, dan juga  hal yang tidak mungkin Durjana berubah atau mengubah diri menjadi Sujana. Usaha mengubah itu diumpamakan oleh Canakya Pandit sebagai usaha menuangkan madu Sumbawa asli berdrum-drum pada pohon Nimb atau Intaran dari atas sampai ke bawah, dari ujung daun paling atas sampai pada akar pohon Nimb, namun pohon Nimb akan tetap mempertahankan rasa pahitnya.

Ia tidak akan pernah berubah menjadi manis. Ia dengan bangga tetap mempertahankan rasa pahitnya dari ujung daun sampai ke akar terdalam. Jadi, Durjana seperti itu tidak mungkin berubah menjadi Sujana. Sedangkan mereka yang karena 'kecelakaan' lalu menjadi alpa sehingga berbuat salah atau jahat, tersedia kesempatan luas untuk berubah. Mereka tidak 'menutup' pintu untuk berubah.

"Orang bijaksana menghindari mengadili orang selamanya jahat. Orang seperti itu barangkali kelihatan berbuat jahat, namun pada waktunya akan memperlihatkan diri bahwa dirinya bukan Durjana, melainkan orang yang layak berubah menjadi Sujana. Bukan tidak mungkin, lanjutnya, bisa berubah menjadi orang yang sangat baik serta mulia, melebihi orang baik-baik pada umumnya.

Ditegaskannya, contoh orang-orang seperti itu dalam sejarah jumlahnya sangat banyak. Ratnakar adalah seorang perampok di hutan. Hidupnya dan cara menghidupi keluarganya hanyalah dari cara merampok orang. Ayah, ibu, istri, dan anak-anaknya hidup dari hasil rampokan Ratnakar. Akan tetapi, pada akhirnya sentuhan kebaikan sedikit saja membuat dirinya berubah 180 derajat, berbalik arah dari seorang perampok jahat dan ganas berubah menjadi seorang Rakavi mahaagung, yaitu Maharesi Valmiki. Ada juga

Munshiram, seorang pemabuk dan atheis, berubah menjadi orang suci ahli Weda dan menyerahkan seluruh diri serta kekayaannya untuk menyebarkan dan menegakkan ajaran Weda. Belakangan terkenal dengan sebutan Svami Sraddhananda Sarasvati dan menjadi orang nomor tiga dalam gerakan pembangkit, penyebar, dan penegak ajaran Weda dari gerakan Arya Samaaj, setelah Swami Virajananda Dandisha dan gurunya sendiri, yaitu Svami Dayananda Sarasvati.

"Orang-orang seperti itu sangat banyak dan jauh lebih banyak jumlahnya dari pada orang Durjana yang memang darah dagingnya Durjana. Oleh karena itu, tidak dianjurkan 'mengadili' orang jahat selamanya jahat. Sebagian besar mereka dapat diperbaiki. Kejahatannya bukan karena darah dagingnya jahat, melainkan karena kegelapan (avidya), ditambah lingkungan pergaulan jahat. Orang-orang seperti itu memerlukan sentuhan Satsanga atau Sadhu-sanga untuk merangsang mereka kembali ke jalan mulia dharma," urainya.

Diuraikan Darmayasa, Sat-sanga merupakan pergaulan suci yang mengarahkan orang pada jalan kebenaran sejati Sat. Sedangkan Sadhu-sanga berarti pergaulan suci yang mengarahkan dan membentuk orang menjadi orang baik-baik serta mulia. Sat-sanga maupun Sadhu-sanga dilakukan dalam naungan ajaran suci Weda, sehingga menjadi pergaulan yang kuat dan pasti untuk mengarahkan orang ke jalan dharma yang indah dan mulia.

"Tentu saja dalam jalan dharma orang hendaknya menempatkan pertama-tama keyakinan sraddha pada apa yang sedang dilakukannya. Setelah mereka menciptakan dan menjaga keyakinannya menjadi sangat kuat dan ajeg, maka dianjurkan untuk melanjutkan dengan menjaga pergaulan suci di dalam jalan dharma," imbuhnya.

Jika Durjana tidak mungkin berubah atau dapat diubah menjadi Sujana atau Sajjana, sebaliknya demikian pula sang Sujana atau Sajjana yang tidak mungkin berubah atau tidak dapat diubah menjadi Durjana. "Swami Tulasidas mengatakan bahwa tanpa pergaulan suci orang tidak akan memiliki kecerdasan agama spiritual. Pergaulan suci merupakan akar dari kebahagiaan dan kesejahteraan," bebernya.

Dijelaskannya, Wiweka atau kemampuan untuk melihat serta mempertimbangkan apa yang baik-tidak baik, benar-tidak benar, apa itu agama dan apa yang bukan agama, tidak akan ada pada diri orang yang jauh dari pergaulan suci Sadhu-sangga. Kekuatan pergaulan suci Sadhu-sangga dapat mengubah orang jahat menjadi baik (satha sudharahin satsanggati pai).

Menurut Sri Caitanya Mahaprabhu, lanjutnya, pergaulan dengan orang-orang di jalan mulia itu sangat penting, sebab pergaulan sekejap saja dengan orang yang benar-benar suci akan memberikan segala jenis keberhasilan dalam hidup orang.

“Mengubah Durjana menjadi Sujana dimaksudkan oleh Canakya sebagai suatu yang sangat amat sulit dilakukan. Orang hendaknya tidak membiarkan diri dipenuhi oleh sifat-sifat tidak baik, dan juga orang hendaknya menyelamatkan diri dari pergaulan yang tidak baik. Hal-hal yang tidak baik, terlebih yang mengarah kepada kejahatan, hendaknya dengan segera ditinggalkan.

Semua itu bukan bekal yang harus dikemas dan disimpan rapi sampai mati, melainkan satu per satu segera harus ditinggalkan demi kelancaran perjalanan menuju alam setelah kematian, menuju kedamaian abadi, menyambut kematian tanpa berbangga menyimpan keburukan," pungkas Darmayasa.

Dalam Canakya Niti Sastra 10.10  disebutkan ; Durjanam sajjanam kartum upayo na hi bhutale apanam satadha dhautam na sresthamindriyam bhavet. Maksudnya, tidak ada upaya apa pun di atas muka bumi ini untuk mengubah orang jahat menjadi orang baik mulia. Sebagaimana anus, walaupun dengan berbagai cara dan ribuan kali dicuci, tetap saja ia tidak bisa menjadi mulut. 

(bx/rin/hai/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia