Rabu, 16 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ruwatan Sapu Leger Agar Tak Dimangsa Bhatara Kala

20 April 2019, 09: 44: 48 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ruwatan Sapu Leger Agar Tak Dimangsa Bhatara Kala

BALI EXPRESS, DENPASAR - Orang yang lahir pada  Tumpek Wayang, yang kebetulan jatuh pada Sabtu (20/4) ini, biasanya nanggap wayang Sapu Leger. Selain itu, juga diruwat agar terhindar dari mangsa Bhatara Kala. Tak hanya yang lahir, dalangnya pun harus melalui prosesi khusus bila mementaskan lakon ini.

Menjadi dalang untuk ruwatan wayang Sapu Leger tidaklah mudah. Selain harus menguasai pakem pewayangan, juga harus melalui proses ritual untuk pematangan spiritual karena dalang dianggap sebagai Saman (dukun) penurun roh leuhur.

Tidak dibenarkan menjadi dalang wayang sebelum memiliki kematang spiritual dan melalui proses ritual. Pasalnya, seorang dalang setara dengan pemangku atau pendeta Hindu. Ucapan inilah yang sering terdengar di kalangan masyarakat Bali bagi mereka yang ingin menjadi dalang wayang kulit. Sebab, pertunjukan wayang kulit bukanlah tontonan biasa, tetapi juga sarat dengan nuansa spiritual yang memiliki etika tersendiri sebagai sebuah budaya warisan leluhur.


Wayang merupakan salah satu kebudayaan asli Indonesia yang sudah ada pada zaman pra Hindu. Wayang, menurut pemahaman masyarakat pada zaman itu, merupakan bayang-bayang atau personifikasi para leluhur yang diturunkan oleh seorang balian (dukun) yang disebut Saman. Seorang Saman diyakini memiliki pengetahuan tentang  keberadaan roh leluhur. Masyarakat yang mencari tahu keberadaan roh leluhurnya, akan bertanya kepada para Saman. Sebagai media komunikasi bagi seorang Saman, digunakanlah boneka atau patung  yang disinari lampu lobak. Jadi, pada zaman itu orang meyakini bahwa bayangan patung tersebut adalah bayangan leluhurnya.


Menurut dalang Drs I Gede Anom Ranuara S.Sn, pada zaman Bali kuno, ada beberapa istilah yang merujuk pada kebudayaan wayang kulit. Ada yang menyebut dengan istilah 'Perbuayang' yang berasal dari etimologi kata 'Prabayang'. Praba berarti layar, sedangkan 'Yang' dimaknai sebagai ungkapan untuk leluhur. Artinya, istilah itu diartikan sebagai sesuatu ilmu pengetahuan tentang leluhur. Selain itu, ada juga istilah Wahyayang yang berasal dari kata 'Wahya' atau 'Wakya' berarti mulut, dan 'Yang' berarti leluhur. Istilah ini juga dimaknai sebagai pengetahuan tentang leluhur yang dituturkan oleh seorang yang memiliki kemampuan di bidang itu.
Seni pertunjukan wayang mendapat pengaruh lebih luas setelah masuknya agama Hindu ke Indonesia pada abad ke-5 Masehi, terutama masalah tema serta bentuk wayang yang lebih sempurna. Salah satu bukti keberadaan wayang pada zaman Hindu terlihat di relief-relief Candi Prambanan. Sementara di Bali, pertunjukan wayang diperkirakan telah ada pada tahun 896, pada zaman pemerintahan Raja Ugrasena. Hal itu ditulis dalam Prasasti Bebetin Singaraja. 

Dalam prasasti tersebut, disebutkan beberapa istilah kesenian seperti pagending (penyanyi), pabunjing papadaha (pemukul kendang), pabangsi (pemain rebab), partapukan (penari topeng), termasuk juga pertunjukan wayang yang disebut dengan istilah parbayang.


Dalam perkembangannya, ada beberapa jenis wayang dikenal di Bali yang dikaitkan dengan upacara. Ada Wayang Beber, yaitu wayang yang ditulis atau digambar di kain kemudian dituturkan oleh  sang dalang. Ide Wayang Beber, lanjut mantan Ketua Papadi Denpasar ini, diambil dari lukisan atau relief seperti di Candi Prambanan. Kemudian ada istilah wayang Gedog, yaitu wayang yang dimainkan pada siang hari tanpa menggunakan kelir (layar). Dalam perkembangannya juga muncul istilah Wayang Sudamala yang dikaitkan dengan pelaksanaan upacara  ruwatan dan sapuleger. Wayang Sudamala dipilah menjadi dua bagian, yaitu mengacu pada tokoh seperti Tualen (identik dengan Semar) yang bertugas melaksanakan ruwatan, dan mengacu pada cerita yang disebut cerita Sudamala seperti Bima Swarga, Kunti Sraya, Sri Tanjung, dan Sapuleger.


Di antara kisah wayang tersebut, wayang Sapu Leger dianggap paling sakral karena mempunyai fungsi khusus sebagai ruwatan bagi mereka yang lahir pada wuku (hari) Tumpek Wayang, yang kebetulan jatuh pada Sabtu (20/4) ini.


Pertunjukan wayang Sapu Leger lebih menekankan pada sisi magis religiusnya untuk meruwat orang yang lahir pada hari Tumpek Wayang, karena diyakini berada di bawah ancaman Bhatara Kala.


"Jadi, yang disakralkan dalam Wayang Sapu Leger bukanlah wayang ataupun tokohnya, tetapi rangkaian cerita yang dimainkan berikut sesaji yang menyertai. Karena pementasan wayang ini, khusus untuk acara ruwatan bagi mereka yang lahir pada Wuku Wayang," ulas Anom Ranuara kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar, kemarin.


Dijelaskannya, cerita Wayang Sapu Leger mengisahkan lahirnya Bhatara Kala dan Rare Kumara sebagai anak Bhatara Siwa. Bhatara Kala yang terlahir dari seorang ibu berwujud ikan, hendak menuntut janji Bhatara Siwa bahwa ia boleh memakan orang yang lahir pada hari Tumpek Wayang bertepatan dengan kelahirannya. Secara kebetulan, adiknya bernama Rare Kumara juga lahir pada saat yang sama. Sesuai janji, Bhatara Siwa mengizinkan Bhatara Kala untuk memangsa Rare Kumara, tetapi setelah tumbuh dewasa. Namun, sebenarnya hal ini merupakan sebuah siasat untuk menjauhkan Rare Kumara dari ancaman Bhatara Kala. Untuk menyelamatkannya, Rare Kumara disuruh turun ke bumi, tetapi juga dikejar Bhatara Kala. Sampailah mereka pada sebuah pertunjukan wayang kulit.


Menghindari Bhatara Kala, sang dalang menyuruh Rare Kumara bersembunyi di bambu resonansi  gamelan. Bhatara Kala yang merasa lapar dan haus setelah mengejar Rare Kumara, kemudian memakan sesaji persembahan sang dalang, sehingga lupa pada tujuan semula. Karena sesaji dan jasa sang dalang, Rare Kumara selamat. Berawal dari sana, kemudian lahir konsep bahwa mereka yang lahir pada hari Tumpek Wayang harus nanggap wayang Sapu Leger agar terhindar sebagai tetadahan (mangsa) Bhatara Kala.


Pelaksanaan ruwatan Sapu Leger, lanjutnya, biasanya dirangkaikan dengan pertunjukan wayang Sapu Leger. Wayang Sapu Leger biasanya dipentaskan saat matahari belum tenggelam (lemah artinya siang atau sore) yang dirangkai dengan pelaksanaan upacara (yadnya) seperti ruwatan.
Tidak seperti pementasan wayang pada umumnya yang memakai kelir (layar) dan lampu, pementasan wayang Sapu Leger hanya memakai benang tukelan (benang tenun ikat berwarna putih) yang direntangkan di atas batang pisang atau di depan sang dalang. Kedua ujung benang diikatkan di  ranting kayu dadap yang ditancapkan di batang pisang, kemudian diisi pis bolong (uang kepeng) sebanyak 200 keping. Semua sarana tersebut memiliki makna tersendiri. Benang memiliki makna penghubung antara manusia dengan tujuannya, uang kepeng sebagai simbol inti sari pikiran, dan ranting kayu sebagai sumbol kekuatan hidup. Sebab, ranting kayu itu bisa tumbuh di mana saja. Pertunjukan wayang Sapu Leger digelar di areal tempat upacara yang mengambil lakon lahirnya Bhatara Kala.

(bx/man/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia